Akurat Logo

Manajemen BUMI Respons Kebijakan Ekspor Batu Bara Lewat DSI

Yosi Winosa | 29 Mei 2026, 15:28 WIB
Manajemen BUMI Respons Kebijakan Ekspor Batu Bara Lewat DSI
ILustrasi ekspor batu bara

AKURAT.CO Sejumlah emiten batu bara mulai buka suara soal kebijakan ekspor satu pintu lewat PT Danantara Sumber Daya Indonesia atau DSI. Salah satunya, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI).

Direktur BUMI, R.A Sri Dharmayanti mengatakan perseroan telah mendengar rencana Pemerintah RI untuk membentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus ekspor Sumber Daya Alam (SDA).

Namun demikian, mengingat bahwa hingga saat ini perseroan belum menerima Peraturan Pemerintah (PP) Tata Kelola SDA dimaksud, maka perseroan belum dapat menyampaikan penjelasan atas sikap untuk hal-hal yang (akan) diatur di dalam PP tersebut.

Baca Juga: DSI Siap Operasi Penuh 2027, Danantara Benahi Tata Kelola SDA

"Termasuk soal dampaknya bagi perseroan," ujar R.A Sri Dharmayanti dalam keterbukaan informasi BEI, Jumat (29/5/2026).

Ditambahkan, saat ini BUMI lebih fokus menyiapak sejumlah aksi korporasi, Perusahaan tengah menyiapkan Penerbitan Obligasi Berkelanjutan Tahap I BUMI yang telah disampaikan kepada regulator dan publik.

"Sampai dengan saat ini belum memiliki rencana untuk melakukan tindakan korporasi lainnya. Kalaupun nanti ada, akan dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang pasar modal Indonesia," imbuh R.A Sri Dharmayanti.

Sebelumnya, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai perusahaan yang agresif membangun industri pengolahan di dalam negeri atau hilirisasi berpotensi lebih tahan menghadapi perubahan aturan ekspor ini.

Beberapa perusahaan yang dinilai lebih resilien terhadap kebijakan tersebut antara lain PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).

“Emiten yang berkomitmen penuh dalam menerapkan hilirisasi tentunya bisa mendapatkan benefit. Ada hilirisasi nikel, tembaga dan aluminium, misalnya ada Antam, INCO, NCKL, MBMA, itu memang untuk hilirisasi,” ujar Nafan.

Ia menjelaskan, perusahaan-perusahaan tersebut tidak lagi hanya mengandalkan ekspor komoditas mentah, melainkan mulai masuk ke rantai industri bernilai tambah yang lebih tinggi.

Strategi ini dinilai membuat bisnis mereka lebih adaptif terhadap perubahan kebijakan perdagangan internasional maupun potensi hambatan ekspor.

Tak hanya sektor hilirisasi mineral, emiten yang fokus pada kebutuhan domestik juga dinilai memiliki daya tahan lebih baik. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) misalnya, berada dalam posisi relatif aman karena sebagian besar produksinya diserap pasar dalam negeri.

“Nah kan kalau misalnya emiten yang memang fokus dalam memenuhi kebutuhan komoditas domestik, seperti dalam rangka memenuhi kebutuhan energi domestik berbasis bara ya, karena tidak menjalankan ekspor, ya saya rasa PTBA itu bisa mendapatkan benefit,” kata Nafan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.