Akurat Logo

PNBP Kuartal I/2026 Naik, Dampak Tata Kelola Minerba?

Idham Nur Indrajaya | 31 Mei 2026, 15:17 WIB
PNBP Kuartal I/2026 Naik, Dampak Tata Kelola Minerba?
PNBP sektor minerba naik 6,21% hingga April 2026 menjadi Rp48,95 triliun. Pengawasan tata kelola tambang, kenaikan harga mineral global, dan hilirisasi smelter menjadi faktor pendorong utama. dok. MIND ID

AKURAT.CO Kontribusi sektor pertambangan mineral dan batu bara (minerba) terhadap perekonomian Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan sepanjang awal 2026. Realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor minerba tercatat naik 6,21% secara tahunan (year on year/yoy) hingga April 2026.

Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM mencatat realisasi PNBP sektor minerba mencapai Rp48,95 triliun periode Januari-April 2026. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp46,09 triliun.

Pengamat Ekonomi INDEF Ahmad Heri Firdaus menilai ada sejumlah faktor yang mendorong kenaikan penerimaan sektor minerba pada awal tahun ini. Salah satunya adalah pembenahan pengawasan tata kelola pertambangan.

"Faktor ada beberapa, tingginya harga komoditas global dan ada pembenahan terkait pengawasan tata kelola pertambangan," ungkap Heri melalui keterangan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Minggu, 31 Mei 2026.

Baca Juga: Investasi Minerba Sentuh USD6,7 Miliar, Tingkatkan Nilai Tambah SDA RI

Pengawasan Tata Kelola Tambang Dorong Penerimaan Negara

Dari segi pengawasan tata kelola, pemerintah diketahui membentuk Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) melalui Perpres Nomor 5 Tahun 2025 untuk memberantas dan menertibkan praktik tambang serta kebun ilegal di dalam kawasan hutan negara.

Pada awal Mei lalu, Satgas PKH melaporkan telah menyetorkan Rp10,27 triliun ke kas negara dari hasil denda administrasi penguasaan kembali kawasan hutan tahap VII. Setoran itu berasal dari penagihan denda administratif di bidang kehutanan senilai Rp3,43 triliun serta penerimaan pajak hasil tindak lanjut Satgas PKH sebesar Rp6,84 triliun.

Faktor lain yang mendorong kenaikan penerimaan minerba, menurut Heri, adalah tren kenaikan harga mineral dan batu bara global. Diantara komoditas yang dimaksud adalah, emas, nikel, tembaga, dan timah.

“Hal ini secara langsung menaikkan nilai royalti dan iuran produksi yang diterima negara,” tutur Heri.

Harga Mineral Global Melonjak Sepanjang 2026

Rata-rata harga komoditas memang terpantau melonjak di tahun ini. Menurut catatan Kementerian ESDM, Harga Mineral Acuan (HMA) beberapa komoditas yang mengalami kenaikan antara lain tembaga, perak, nikel, dan timah.

Rata-rata HMA tembaga pada 2026 tercatat mencapai US$12.655,16 per dmt, jauh di atas rata-rata 2025 sebesar US$9.819,48 per dmt. Sementara HMA perak rata-rata mencapai US$79,27 per toz, lebih dari dua kali lipat dibanding rata-rata 2025 sebesar US$38,23 per toz.

Di sisi lain, HMA nikel pada 2026 rata-rata mencapai US$16.822,29 per dmt dari sebelumnya US$15.177,12 per dmt pada 2025. Adapun HMA timah rata-rata mencapai US$51.101,46 per ton, meningkat tajam dibanding rata-rata 2025 sebesar US$34.353,88 per ton.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, jika perhitungan ditarik hingga 15 Mei 2026, realisasi PNBP minerba bahkan telah mencapai Rp55 triliun. Secara tahunan, capaian tersebut juga mencerminkan pertumbuhan 6,21% dan meningkat dibandingkan target tahun 2025.

Baca Juga: Punya Peran Strategis Dukung Target Pertumbuhan 8 Persen, Pemerintah Kebut Proyek HIlirisasi hingga Ekonomi Digital Berbasis Daerah

Baca Juga: Bukukan Pendapatan 139 Triliun, Integrasi Hilirisisi MIND ID Dinilai Efektif

Smelter dan Hilirisasi Jadi Penopang Industri Mineral

Di balik capaian tersebut, sejumlah smelter dalam ekosistem MIND ID juga disebut menjadi penopang utama penguatan industri pengolahan mineral nasional. Kehadiran fasilitas pemurnian ini dinilai memperkuat hilirisasi sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas tambang dalam negeri.

Tri menyebut tiga proyek smelter yang telah selesai dan mulai beroperasi yakni smelter milik PT Aneka Tambang Tbk di Pomalaa, PT Vale Indonesia Tbk di Sulawesi, serta smelter tembaga PT Freeport Indonesia di JIIPE Gresik. Ketiga proyek tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kapasitas pengolahan mineral di dalam negeri.

"Khusus untuk smelter tembaga PT Freeport di JIIPE Gresik, kehadirannya menjadi salah satu tonggak penting untuk memperkuat kapasitas pemurnian konsentrat tembaga dalam negeri," ujar Tri dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VII DPR RI.

Secara keseluruhan, pemerintah mencatat terdapat 14 smelter terintegrasi dalam program hilirisasi mineral nasional. Rinciannya terdiri atas enam smelter nikel, enam smelter bauksit, satu smelter tembaga, dan satu smelter besi.

Dari jumlah tersebut, lima smelter telah selesai dibangun dan sembilan sisanya masih dalam proses penyelesaian. Total realisasi investasi dari proyek-proyek tersebut mencapai US$7,8 miliar.

Hilirisasi Minerba Diharapkan Perkuat Ekonomi Nasional

Program hilirisasi minerba tersebut dapat meningkatkan nilai tambah komoditas tambang nasional. Sejalan dengan itu, peningkatan pendapatan negara dari sektor ini diharap mamu mendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia.


Baca Juga: PNBP Minerba Tembus Rp56 Triliun, Hilirisasi Smelter MIND ID Jadi Motor Penggerak

Baca Juga: BP BUMN dan Danantara Benahi Struktur MIND ID untuk Percepat Hilirisasi

FAQ

Mengapa PNBP sektor minerba meningkat pada 2026?

Peningkatan PNBP sektor minerba pada 2026 didorong oleh beberapa faktor utama, yaitu kenaikan harga komoditas mineral global seperti tembaga, nikel, timah, dan perak, serta penguatan pengawasan tata kelola pertambangan. Kondisi tersebut meningkatkan nilai royalti dan iuran produksi yang diterima negara.

Apa peran Satgas PKH dalam meningkatkan penerimaan negara?

Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) berperan menindak aktivitas tambang dan perkebunan ilegal di kawasan hutan negara. Melalui penagihan denda administratif dan tindak lanjut perpajakan, satgas berhasil menyetorkan triliunan rupiah ke kas negara yang turut mendukung peningkatan penerimaan pemerintah.

Komoditas apa saja yang mengalami kenaikan harga pada 2026?

Beberapa komoditas mineral yang mengalami kenaikan harga signifikan pada 2026 antara lain tembaga, perak, nikel, dan timah. Kenaikan Harga Mineral Acuan (HMA) tersebut berdampak langsung pada peningkatan pendapatan negara dari sektor pertambangan.

Bagaimana hilirisasi minerba mendukung perekonomian Indonesia?

Hilirisasi minerba meningkatkan nilai tambah sumber daya alam karena mineral diolah dan dimurnikan di dalam negeri sebelum diekspor. Strategi ini menciptakan investasi baru, memperluas lapangan kerja, serta meningkatkan kontribusi sektor pertambangan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Berapa jumlah smelter yang masuk program hilirisasi nasional?

Pemerintah mencatat terdapat 14 smelter yang masuk dalam program hilirisasi mineral nasional. Fasilitas tersebut terdiri dari enam smelter nikel, enam smelter bauksit, satu smelter tembaga, dan satu smelter besi yang sebagian telah beroperasi dan sebagian masih dalam tahap pembangunan.

Smelter apa saja yang disebut menjadi penopang hilirisasi minerba?

Beberapa smelter yang disebut menjadi penopang hilirisasi minerba adalah smelter milik PT Aneka Tambang Tbk di Pomalaa, PT Vale Indonesia Tbk di Sulawesi, dan smelter tembaga PT Freeport Indonesia di JIIPE Gresik. Ketiganya berkontribusi dalam memperkuat kapasitas pengolahan mineral nasional.

Apa dampak kenaikan harga mineral terhadap penerimaan negara?

Ketika harga mineral dunia meningkat, nilai penjualan komoditas tambang juga naik. Kondisi ini membuat penerimaan negara dari royalti, iuran produksi, dan berbagai pungutan sektor minerba ikut meningkat sehingga memberikan kontribusi lebih besar terhadap APBN.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.