Akurat Logo

EBITDA Melonjak Hampir Dua Kali Lipat, BUMA International Mulai Petik Hasil Restrukturisasi Operasi

Yosi Winosa | 1 Juni 2026, 15:35 WIB
EBITDA Melonjak Hampir Dua Kali Lipat, BUMA International Mulai Petik Hasil Restrukturisasi Operasi
Manajemen BUMA International

AKURAT.CO Ketika musim hujan biasanya menjadi ujian terberat bagi kontraktor tambang, PT BUMA Internasional Grup Tbk. (DOID) justru menunjukkan tanda-tanda bahwa program perbaikan operasional yang dijalankan selama setahun terakhir mulai membuahkan hasil.

Perusahaan berkode saham DOID tersebut membukukan lonjakan EBITDA sebesar 98% secara tahunan menjadi USD28 juta pada kuartal pertama 2026, meskipun pendapatan turun 10% menjadi USD318 juta.

Kenaikan profitabilitas di tengah penurunan pendapatan mengirimkan sinyal yang jarang terjadi di industri jasa pertambangan: efisiensi mulai mengambil alih peran pertumbuhan volume sebagai pendorong kinerja.

Baca Juga: BUMA Kembangkan Aplikasi Terpadu Untuk UMKM, Bidik Pengelolaan Aset Rp750 Miliar pada 2030

Periode Januari-Maret secara historis merupakan musim dengan curah hujan tertinggi yang kerap menghambat aktivitas penambangan.

Namun BUMA International berhasil mempertahankan momentum pemulihan yang telah dibangun sepanjang 2025 melalui kombinasi peningkatan produktivitas, disiplin biaya, dan restrukturisasi organisasi.

Di Indonesia, jam kerja non-produktif turun 14% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Produktivitas alat meningkat seiring penurunan waktu siklus operasional, sementara biaya tenaga kerja per unit produksi berhasil ditekan 4%.

Hasilnya terlihat jelas pada margin EBITDA yang melonjak menjadi 11%, dibandingkan hanya 5% pada kuartal pertama tahun lalu.

Bagi investor, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa strategi perusahaan untuk memperkuat kualitas operasi mulai menghasilkan leverage operasional yang nyata. Dengan kata lain, BUMA kini mampu menghasilkan keuntungan yang lebih besar dari setiap dolar pendapatan yang diperoleh.

Meski demikian, transformasi tersebut masih berlangsung di tengah portofolio bisnis yang lebih ramping. Volume pengupasan lapisan tanah penutup (overburden removal) turun 12% menjadi 89 juta bank cubic meter, sementara produksi batu bara turun 20% menjadi 15 juta ton.

Penurunan ini terutama dipengaruhi berakhirnya kontrak di sejumlah lokasi tambang di Indonesia dan Australia serta proses penurunan aktivitas di beberapa proyek pada 2025.

Namun perusahaan tampaknya lebih memilih kualitas dibanding kuantitas. Average selling price (ASP) bisnis kontraktor tambang justru meningkat 3% berkat meningkatnya porsi kontrak berbasis mekanisme rise-and-fall serta penyesuaian tarif yang mengikuti pergerakan harga batu bara.

Struktur kontrak semacam ini memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap tekanan biaya dan volatilitas pasar komoditas. Perbaikan juga terlihat pada bottom line.

Rugi bersih perusahaan menyusut menjadi USD24 juta dari USD70 juta pada periode yang sama tahun lalu. Selain didorong pemulihan EBITDA, perbaikan tersebut.

Ditopang keuntungan dari optimalisasi aset Atlantic Carbon Group (ACG), berkurangnya kerugian investasi pada perusahaan tambang tembaga Australia 29Metals, serta tidak berulangnya pencadangan piutang yang sempat membebani kinerja tahun sebelumnya.

Lebih penting lagi, arus kas bebas berbalik positif menjadi USD2 juta dari posisi negatif USD19 juta pada kuartal pertama 2025. Perubahan arah arus kas ini menjadi indikator penting bahwa transformasi operasional mulai diterjemahkan menjadi likuiditas yang lebih sehat.

Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim, mengatakan kuartal pertama menunjukkan bahwa fondasi pemulihan yang dibangun sepanjang 2025 tetap terjaga bahkan ketika perusahaan menghadapi puncak musim hujan.

“EBITDA meningkat hampir dua kali lipat secara tahunan meskipun pendapatan lebih rendah, didukung oleh disiplin biaya yang lebih kuat dan peningkatan produktivitas,” ujarnya.

Momentum tersebut bahkan berlanjut setelah kuartal pertama berakhir. Volume pengupasan lapisan tanah penutup gabungan Indonesia dan Australia meningkat dari 26,4 juta BCM pada Februari menjadi 34,3 juta BCM pada April.

Produksi batu bara April mencapai 5,9 juta ton, sekitar 22% di atas rata-rata bulanan kuartal pertama. Bagi pasar, angka-angka ini mengindikasikan bahwa fase pemulihan belum berakhir. Transformasi BUMA International kini tidak hanya bergantung pada bisnis jasa pertambangan.

Dalam 2 tahun terakhir perusahaan memperluas portofolio ke kepemilikan tambang antrasit melalui Atlantic Carbon Group di Amerika Serikat, investasi logam dasar melalui 29Metals di Australia, hingga pengembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan dan program kewirausahaan sosial.

Diversifikasi tersebut mencerminkan upaya perusahaan mengurangi ketergantungan terhadap siklus batu bara termal sekaligus membangun eksposur ke komoditas dan teknologi yang dinilai lebih relevan dengan transisi energi global.

Sinyal perubahan itu mulai terlihat dari komposisi pendapatan. Pada kuartal pertama 2026, kontribusi batu bara non-termal telah mencapai 21% dari total pendapatan grup.

Dengan perbaikan profitabilitas, arus kas yang kembali positif, serta pemulihan volume yang berlanjut memasuki kuartal kedua, tantangan berikutnya bagi BUMA International adalah menujukan pertumbuhan yang berkelanjutan di tengah perubahan lanskap industri tambang global.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.