Akurat Logo

Surplus Dagang Menyempit, Rupiah Terpuruk ke Rp17.966,5

Esha Tri Wahyuni | 3 Juni 2026, 19:21 WIB
Surplus Dagang Menyempit, Rupiah Terpuruk ke Rp17.966,5
Rupiah terpuruk di tengah sentimen surplus dagang yang menyempit

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Rabu (3/6/2026) dan ditutup melemah 127,5 poin (0,71%) ke level Rp17.966,5 per USD.

Pelemahan ini terjadi di tengah menguatnya dolar AS akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta menyusutnya surplus perdagangan Indonesia ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, kombinasi faktor eksternal dan domestik menjadi penyebab utama tekanan terhadap rupiah.

Baca Juga: IHSG Rupiah Kompak Memerah, Ini Sebabnya

Dari luar negeri, investor masih mencermati perkembangan konflik Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, Lebanon, dan Amerika Serikat, terutama setelah eskalasi militer di sekitar kawasan Teluk Persia yang berdekatan dengan Selat Hormuz.

"Ketidakpastian geopolitik terus mendorong investor mencari aset aman sehingga indeks dolar AS menguat. Kondisi ini memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah," kata Ibrahim di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Di saat bersamaan, pasar juga memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter Amerika Serikat yang tetap ketat. Data lowongan kerja AS yang meningkat pada April memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve belum akan terburu-buru memangkas suku bunga.

Pelaku pasar kini menunggu sejumlah indikator ekonomi penting AS, mulai dari laporan tenaga kerja ADP, indeks sektor jasa ISM, hingga data pesanan pabrik yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan bank sentral AS menjelang rilis data tenaga kerja nonfarm payrolls akhir pekan ini.

Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah turut dipengaruhi kenaikan inflasi pada Mei 2026.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bulanan mencapai 0,28% month-to-month (mtm), meningkat dibandingkan April 2026 yang sebesar 0,13%. Kenaikan tersebut mendorong Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,09 menjadi 111,40.

Secara tahunan, Indonesia mencatat inflasi sebesar 3,08%. Kenaikan harga pangan bergejolak (volatile food), energi, tarif yang diatur pemerintah (administered prices), serta pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor utama pembentuk inflasi selama Mei.

Peningkatan inflasi tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap daya beli masyarakat dan potensi tekanan harga ke depan, terutama jika gangguan pasokan energi global terus berlangsung.

Di tengah tekanan tersebut, Indonesia sebenarnya masih berhasil mempertahankan rekor surplus perdagangan yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Namun, data terbaru menunjukkan kualitas surplus tersebut mulai melemah. BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 hanya membukukan surplus sebesar USD89,1 juta.

Meski masih positif, angka ini jauh lebih rendah dibandingkan capaian surplus bulanan yang umumnya mencapai miliaran dolar AS dalam beberapa tahun terakhir.

Surplus April terutama ditopang oleh perdagangan nonmigas yang mencatat surplus sebesar USD3,53 miliar.

Menurut Ibrahim, penyempitan surplus tersebut perlu menjadi perhatian karena mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal terhadap perekonomian nasional.

"Secara statistik, surplus perdagangan April menyempit tajam. Ini menggarisbawahi tekanan terhadap ketahanan eksternal Indonesia, terutama akibat terganggunya rantai pasok global dan ketidakpastian distribusi energi dunia," ujarnya.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah terganggunya aktivitas perdagangan global akibat ketidakpastian di sekitar Selat Hormuz.

Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu titik paling strategis dalam perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati kawasan tersebut setiap hari.

Ketegangan yang melibatkan Iran dan negara-negara Barat meningkatkan risiko gangguan distribusi minyak dunia. Kondisi ini memicu lonjakan harga energi sekaligus meningkatkan biaya logistik global.

Bagi Indonesia, dampaknya tidak hanya dirasakan melalui kenaikan harga impor energi, tetapi juga berpotensi memengaruhi arus perdagangan dan stabilitas nilai tukar.

Sebagai informasi, setiap gangguan besar di Selat Hormuz kerap memicu volatilitas pasar keuangan global. Situasi serupa pernah terjadi saat ketegangan Iran-AS meningkat pada 2019 dan kembali menjadi perhatian pasar pada 2025 hingga 2026.

Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku dan barang konsumsi, yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga di tingkat domestik.

Untuk perdagangan Kamis (4/6/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif namun cenderung melemah dalam rentang Rp17.960 hingga Rp18.030 per USD.

Arah rupiah selanjutnya akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, serta data ekonomi Amerika Serikat yang menjadi acuan pasar dalam membaca arah kebijakan Federal Reserve.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.