80 Persen Masyarakat Indonesia Tertekan Kenaikan Biaya Hidup, Banyak yang Terpaksa Pakai Tabungan

AKURAT.CO Pernah merasa gaji baru masuk, tetapi saldo rekening sudah menipis sebelum akhir bulan? Bagi banyak keluarga Indonesia, kondisi itu bukan lagi sekadar perasaan. Harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, pendidikan, hingga tagihan rumah tangga yang terus meningkat membuat ruang untuk menabung semakin sempit. Bahkan, tidak sedikit masyarakat yang mulai mengandalkan tabungan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
Realitas tersebut tercermin dalam hasil Financial Resilience Index 2026 yang dirilis Sun Life Indonesia. Studi yang dilakukan bersama Genpop terhadap 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas di seluruh Indonesia menemukan bahwa 80 persen masyarakat merasakan tekanan akibat kenaikan biaya hidup. Temuan lain yang tak kalah penting, hampir seperempat responden atau 23 persen mengaku menggunakan tabungan untuk menghadapi peningkatan biaya hidup.
Data ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak hanya memengaruhi kemampuan masyarakat untuk berinvestasi atau menambah aset, tetapi juga mulai menggerus bantalan keuangan yang selama ini menjadi perlindungan saat menghadapi kondisi darurat.
Ringkasan
Berikut poin-poin penting dari Financial Resilience Index 2026 yang dirilis Sun Life Indonesia:
80 persen masyarakat Indonesia merasakan tekanan akibat kenaikan biaya hidup.
23 persen responden menggunakan tabungan untuk menutupi kebutuhan akibat kenaikan biaya hidup.
26 persen mengurangi atau menunda pengeluaran kebutuhan penting.
Hanya 14 persen yang merasa sangat aman secara finansial.
Sebanyak 45 persen merasa mampu bertahan lebih dari enam bulan tanpa penghasilan.
Hampir separuh responden belum memiliki perencanaan keuangan jangka panjang.
Dikutip dari hasil Financial Resilience Index 2026 yang dirilis Sun Life Indonesia, kondisi ini menunjukkan bahwa ketahanan finansial masyarakat Indonesia masih menghadapi tantangan besar di tengah ketidakpastian ekonomi.
Mengapa 80 Persen Masyarakat Indonesia Merasa Tertekan Kenaikan Biaya Hidup?
Kenaikan biaya hidup bukan sekadar soal harga barang yang lebih mahal. Dampaknya jauh lebih luas karena menyentuh hampir seluruh aspek pengeluaran rumah tangga.
Mulai dari kebutuhan pangan, transportasi, biaya pendidikan anak, layanan kesehatan, hingga tagihan utilitas rumah tangga mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Ketika penghasilan tidak tumbuh secepat pengeluaran, masyarakat dipaksa melakukan penyesuaian.
Menariknya, survei menunjukkan bahwa 30 persen responden menganggap kenaikan biaya hidup sebagai hambatan terbesar untuk memperbaiki kondisi keuangan mereka. Angka ini lebih tinggi dibanding faktor pendapatan yang tidak stabil maupun keterbatasan pengetahuan keuangan.
Artinya, persoalan utama yang dirasakan masyarakat saat ini bukan hanya bagaimana mendapatkan penghasilan lebih besar, tetapi bagaimana mempertahankan daya beli yang terus tergerus.
Masalah Sebenarnya Bukan Pendapatan, Melainkan Ruang Finansial yang Menyusut
Banyak diskusi ekonomi berfokus pada besarnya penghasilan. Namun data survei ini menunjukkan perspektif yang berbeda.
Seseorang mungkin masih memiliki pekerjaan dan penghasilan yang relatif stabil. Akan tetapi, jika hampir seluruh penghasilan habis untuk memenuhi kebutuhan dasar, maka kemampuan untuk menabung, berinvestasi, atau mempersiapkan masa depan menjadi semakin terbatas.
Inilah yang dapat disebut sebagai "penyusutan ruang finansial". Kondisi ketika masyarakat masih bisa bertahan hari ini, tetapi semakin sulit membangun keamanan finansial untuk masa depan.
Data Survei: Banyak Warga Mulai Menggunakan Tabungan untuk Bertahan
Salah satu temuan paling menarik dari studi ini adalah perubahan perilaku masyarakat dalam menghadapi tekanan ekonomi.
Ketika biaya hidup meningkat, responden mengambil beberapa langkah penyesuaian:
23 persen menggunakan tabungan yang dimiliki.
26 persen mengurangi atau menunda kebutuhan penting.
5 persen menunda kontribusi dana pensiun.
Pada pandangan pertama, menggunakan tabungan mungkin terlihat sebagai solusi yang wajar. Namun dari perspektif ketahanan finansial, kondisi ini perlu mendapat perhatian.
Tabungan pada dasarnya berfungsi sebagai dana darurat atau persiapan menghadapi kebutuhan di masa depan. Ketika dana tersebut digunakan secara rutin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kemampuan rumah tangga menghadapi risiko tak terduga menjadi semakin kecil.
Simulasi Realistis: Bagaimana Tabungan Bisa Terkuras Perlahan?
Bayangkan sebuah keluarga muda dengan pendapatan Rp8 juta per bulan.
Sebelumnya, mereka mampu menyisihkan sekitar Rp1 juta setiap bulan sebagai tabungan. Namun setelah biaya kebutuhan pokok, transportasi, dan pendidikan meningkat, kemampuan menabung turun menjadi hanya Rp200 ribu per bulan.
Ketika muncul kebutuhan tambahan seperti biaya kesehatan atau perbaikan kendaraan, mereka mulai mengambil dana dari tabungan yang sudah terkumpul.
Dalam beberapa bulan, kondisi ini mungkin tidak terasa. Namun jika berlangsung selama satu hingga dua tahun, tabungan yang sebelumnya menjadi bantalan keuangan bisa habis tanpa disadari.
Inilah risiko yang mulai terlihat dalam hasil survei tersebut.
Apa Arti Temuan Ini bagi Kelas Menengah Indonesia?
Kelompok kelas menengah sering dianggap sebagai kelompok yang relatif aman secara ekonomi. Namun dalam praktiknya, kelompok ini justru rentan ketika biaya hidup meningkat.
Alasannya sederhana. Kelas menengah biasanya memiliki lebih banyak komitmen keuangan, mulai dari cicilan rumah, kendaraan, pendidikan anak, hingga berbagai kebutuhan gaya hidup.
Ketika biaya hidup naik, kelompok ini menghadapi dilema. Mereka tidak cukup miskin untuk menerima berbagai bantuan sosial, tetapi juga tidak cukup kaya untuk menyerap kenaikan biaya tanpa mengubah pola pengeluaran.
Hasil survei menunjukkan bahwa ketahanan finansial memang mengalami sedikit perbaikan, dengan kelompok yang tergolong sangat tangguh meningkat dari 30 persen menjadi 34 persen. Namun pada saat yang sama, kelompok dengan ketahanan rendah juga meningkat akibat melemahnya kelompok menengah.
Ini mengindikasikan bahwa pemulihan kondisi keuangan masyarakat belum terjadi secara merata.
Baca Juga: Daya Beli Dijaga, Konsumsi Jadi Mesin Ekonomi RI
Mengapa Literasi Keuangan Menjadi Faktor Pembeda?
Di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan berbagai kelompok pendapatan, studi ini menemukan satu faktor yang membedakan kemampuan seseorang dalam menghadapi situasi sulit, yaitu literasi keuangan.
Responden yang memiliki pemahaman keuangan yang baik menunjukkan tingkat kepercayaan diri finansial yang jauh lebih tinggi. Mereka juga tiga kali lebih siap menghadapi kenaikan biaya hidup dibanding kelompok dengan literasi keuangan rendah.
Selain itu:
Mereka lebih optimistis terhadap kondisi keuangan masa depan.
Lebih siap menghadapi keadaan darurat.
Lebih konsisten melakukan perencanaan jangka panjang.
Lebih kecil kemungkinannya mengalami stres finansial berkepanjangan.
Data survei menunjukkan bahwa 86 persen responden yang memiliki rencana keuangan jangka panjang yakin dapat mencapai tujuan keuangannya. Sebaliknya, hanya 25 persen dari mereka yang tidak memiliki rencana keuangan yang memiliki keyakinan serupa.
Temuan ini menunjukkan bahwa literasi keuangan bukan sekadar memahami istilah investasi atau produk keuangan, melainkan kemampuan membuat keputusan yang lebih baik di tengah keterbatasan.
Risiko Jika Tabungan Terus Digunakan untuk Menutup Kebutuhan Harian
Salah satu risiko terbesar dari kenaikan biaya hidup adalah normalisasi penggunaan tabungan untuk kebutuhan rutin.
Dalam jangka pendek, strategi ini memang membantu keluarga tetap bertahan. Namun dalam jangka panjang, dampaknya bisa lebih serius.
Beberapa risiko yang mungkin muncul antara lain:
Dana darurat semakin menipis.
Persiapan dana pensiun tertunda.
Target pendidikan anak menjadi lebih sulit dicapai.
Ketergantungan pada utang meningkat ketika tabungan habis.
Kemampuan menghadapi krisis ekonomi menjadi lebih lemah.
Dari sudut pandang ekonomi rumah tangga, tabungan yang terus berkurang merupakan sinyal bahwa ketahanan finansial sedang mengalami tekanan, meskipun kondisi tersebut belum selalu terlihat dari luar.
Peran AI dan Teknologi dalam Membantu Pengelolaan Keuangan
Menariknya, studi ini juga menunjukkan perubahan perilaku masyarakat dalam mencari informasi keuangan.
Sebanyak 68 persen responden mengaku menggunakan generative AI untuk mendapatkan informasi dan panduan keuangan, sementara 67 persen memperkirakan penggunaan teknologi tersebut akan terus meningkat dalam 12 bulan mendatang.
Hal ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat adopsi AI yang tinggi untuk kebutuhan literasi keuangan di Asia.
Namun teknologi bukanlah solusi tunggal.
President Director Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, menegaskan bahwa fondasi utama tetap berada pada pemahaman keuangan yang baik.
"Temuan ini mencerminkan bagaimana banyak masyarakat Indonesia menyeimbangkan kebutuhan finansial jangka pendek dengan tujuan jangka panjang. Di tengah perubahan kondisi ekonomi, kesiapan finansial menjadi kunci utama untuk membangun ketahanan finansial," ujarnya melalui hasil riset yang diterima AKURAT.CO, dikutip Kamis, 11 Juni 2026.
Ia juga menambahkan bahwa perkembangan teknologi tidak menghilangkan pentingnya pendampingan profesional dalam pengambilan keputusan keuangan.
"Teknologi telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi dan literasi keuangan, namun tidak menggantikan kebutuhan akan panduan ahli atau penasihat keuangan yang bertanggung jawab," kata Albertus.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa AI dapat membantu masyarakat memperoleh informasi dengan lebih cepat, tetapi kemampuan mengevaluasi informasi dan mengambil keputusan tetap membutuhkan literasi keuangan yang kuat.
Ketahanan Finansial Bukan Lagi Sekadar Soal Pendapatan
Hasil Financial Resilience Index 2026 memberikan gambaran yang cukup jelas tentang kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Tekanan kenaikan biaya hidup dirasakan oleh sebagian besar rumah tangga, sementara banyak di antaranya mulai menggunakan tabungan untuk menjaga kestabilan keuangan sehari-hari.
Yang menarik, temuan ini juga menunjukkan bahwa ketahanan finansial tidak semata ditentukan oleh besar kecilnya pendapatan. Kemampuan mengelola uang, membuat perencanaan jangka panjang, serta memahami risiko keuangan justru menjadi faktor yang semakin menentukan.
Jika semakin banyak keluarga harus menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, maka persoalannya bukan lagi sekadar kenaikan harga. Ini menjadi sinyal bahwa kemampuan masyarakat untuk membangun keamanan finansial jangka panjang sedang menghadapi tantangan yang nyata.
Pantau terus perkembangan isu ekonomi dan keuangan masyarakat Indonesia untuk memahami perubahan yang terjadi di sekitar kita.
Baca Juga: Pertamax Naik dan Biaya Hidup Meningkat? Ini Strategi Keuangan yang Bisa Dilakukan
Baca Juga: Apakah Tabungan di Bank Kena Pajak? Ini Penjelasannya
FAQ
Mengapa 80 persen masyarakat Indonesia merasa tertekan akibat kenaikan biaya hidup?
Sebanyak 80 persen masyarakat Indonesia mengaku merasakan tekanan akibat kenaikan biaya hidup karena harga berbagai kebutuhan terus meningkat, mulai dari bahan pangan, transportasi, pendidikan, hingga layanan kesehatan. Ketika kenaikan pengeluaran tidak diimbangi pertumbuhan pendapatan yang sebanding, kemampuan rumah tangga untuk menabung, berinvestasi, atau menyiapkan dana darurat menjadi semakin terbatas. Kondisi inilah yang membuat banyak keluarga merasa keuangannya lebih rentan dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Apa yang dilakukan masyarakat untuk menghadapi biaya hidup yang semakin mahal?
Berdasarkan hasil Financial Resilience Index 2026, masyarakat melakukan berbagai penyesuaian untuk menghadapi kenaikan biaya hidup. Sebagian menggunakan tabungan yang dimiliki, mengurangi atau menunda pengeluaran tertentu, bahkan ada yang menunda kontribusi dana pensiun. Langkah-langkah tersebut membantu mengurangi tekanan dalam jangka pendek, tetapi jika berlangsung terlalu lama dapat memengaruhi ketahanan finansial rumah tangga dan menghambat pencapaian tujuan keuangan jangka panjang.
Mengapa banyak masyarakat mulai menggunakan tabungan untuk kebutuhan sehari-hari?
Banyak masyarakat mulai menggunakan tabungan karena pengeluaran bulanan meningkat lebih cepat dibanding kemampuan mereka menambah pendapatan. Dalam kondisi seperti ini, tabungan menjadi sumber dana yang paling mudah diakses untuk menutup kekurangan anggaran rumah tangga. Namun, penggunaan tabungan secara terus-menerus untuk kebutuhan rutin dapat mengurangi dana darurat dan membuat keluarga lebih rentan ketika menghadapi situasi tak terduga seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan kesehatan mendesak.
Apa dampak jika tabungan terus digunakan untuk menutupi kebutuhan harian?
Jika tabungan terus digunakan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari, kemampuan rumah tangga dalam menghadapi risiko finansial akan semakin menurun. Dana yang seharusnya digunakan untuk keadaan darurat, pendidikan anak, investasi, atau persiapan pensiun berpotensi habis lebih cepat. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan ketergantungan pada utang dan membuat proses pemulihan keuangan menjadi lebih sulit ketika terjadi guncangan ekonomi.
Mengapa literasi keuangan penting di tengah kenaikan biaya hidup?
Literasi keuangan membantu seseorang memahami cara mengelola uang, menyusun prioritas pengeluaran, serta membuat keputusan finansial yang lebih tepat. Hasil survei menunjukkan bahwa individu dengan tingkat literasi keuangan yang baik cenderung lebih siap menghadapi kenaikan biaya hidup, memiliki rasa percaya diri finansial yang lebih tinggi, serta lebih konsisten melakukan perencanaan keuangan jangka panjang. Karena itu, kemampuan mengelola keuangan kini menjadi faktor penting yang membedakan tingkat ketahanan finansial setiap individu.
Bagaimana kondisi ketahanan finansial keluarga Indonesia saat ini?
Ketahanan finansial masyarakat Indonesia menunjukkan perbaikan di sebagian kelompok, tetapi belum merata. Survei menemukan adanya peningkatan jumlah responden yang tergolong sangat tangguh secara finansial. Namun pada saat yang sama, kelompok dengan ketahanan finansial rendah juga meningkat akibat melemahnya sebagian kelompok menengah. Temuan ini menunjukkan bahwa masih banyak keluarga yang memiliki bantalan keuangan terbatas dan belum sepenuhnya siap menghadapi tekanan ekonomi berkepanjangan.
Apakah AI dapat membantu masyarakat mengelola keuangan pribadi?
Ya, teknologi berbasis kecerdasan artifisial atau AI semakin banyak dimanfaatkan untuk mencari informasi dan panduan keuangan. Generative AI dapat membantu pengguna memahami konsep keuangan, membandingkan pilihan produk, hingga memperoleh wawasan terkait pengelolaan uang. Namun, AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan satu-satunya dasar pengambilan keputusan. Untuk keputusan finansial yang kompleks dan berdampak jangka panjang, literasi keuangan yang baik serta konsultasi dengan penasihat keuangan profesional tetap menjadi faktor yang sangat penting.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 7Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








