Akurat Logo

Selat Hormuz Kembali Dibuka, Bahlil Sebut Kontrak Impor Tetap Dilanjutkan

Lukman Nur Hakim Akurat.co | 16 Juni 2026, 18:19 WIB
Selat Hormuz Kembali Dibuka, Bahlil Sebut Kontrak Impor Tetap Dilanjutkan
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia

AKURAT.CO Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka suara terkait dibukanya kembali Selat Hormuz. 

Bahlil menyampaikan, dibukanya kembali Selat Hormuz tidak serta merta mengubah strategi impor minyak mentah (crude oil) Indonesia yang selama ini telah terikat kontrak jangka panjang.

“Kalau persoalan impor crued, sekalipun Selat Hormuznya sudah dibuka, tetap kita sudah melakukan kontra jangka panjang dengan negara-negara lain,” kata Bahlil di Komplek Parlemen Senayan, dikutip Selasa (16/6/2026).

Baca Juga: Pengamat: Jika Selat Hormuz Dibuka, Inflasi Global Bisa Mereda

Meski demikian, Bahlil membuka peluang untuk memperluas sumber pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah apabila menawarkan harga yang lebih kompetitif dibandingkan pemasok lainnya.

“Tapi kalau harganya lebih kompetitif, maka tidak menutup kemungkinan juga untuk kita mencoba untuk membuka akses pasar di Middle East,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyiapkan langkah mitigasi terhadap dampak penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur vital energi dunia dengan volume pasokan mencapai sekitar 20,1 juta barel per hari (bph). 

Jalur tersebut juga menjadi rute pengiriman sebagian impor minyak mentah (crude) Indonesia dari kawasan Timur Tengah.

Namun demikian, Bahlil menegaskan ketergantungan Indonesia terhadap jalur tersebut relatif terbatas. Sebab, Indonesia mengimpor sekitar 25% minyak mentah dari Timur Tengah yang praktis pengirimannya harus melalui Selat Hormuz. 

“Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brazil. Jadi secara keseluruhan impor kita untuk crude, 20 sampai 25% dari Selat Hormuz, selebihnya tidak dari sana,” kata Bahlil di Kementerian ESDM, Selasa (3/3/2026).

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.