Mayoritas Orang Indonesia Masih Tertekan Biaya Hidup, Banyak Warga Pakai Tabungan untuk Bertahan

AKURAT.CO Pernah merasa gaji habis lebih cepat dibanding beberapa tahun lalu? Atau mendapati tabungan yang seharusnya untuk tujuan jangka panjang justru digunakan untuk menutup kebutuhan bulanan? Fenomena ini tampaknya tidak hanya dirasakan segelintir orang. Di tengah berbagai tanda perbaikan kondisi keuangan masyarakat, mayoritas orang Indonesia masih menghadapi tekanan biaya hidup yang membuat rasa aman finansial sulit tercapai.
Temuan terbaru dari Sun Life Asia Financial Resilience Index 2026 menunjukkan bahwa tekanan biaya hidup, tanggung jawab finansial terhadap keluarga, dan ketidakpastian ekonomi masih menjadi tantangan utama masyarakat Indonesia. Bahkan, hanya 14% responden yang mengaku merasa sangat aman secara finansial, meskipun tingkat ketahanan finansial secara umum menunjukkan peningkatan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa memiliki kemampuan bertahan secara finansial belum tentu membuat seseorang merasa tenang menghadapi masa depan.
Mengapa Mayoritas Orang Indonesia Masih Tertekan Biaya Hidup?
Jawaban singkatnya adalah karena pengeluaran terus meningkat sementara kebutuhan finansial keluarga semakin kompleks.
Beberapa faktor utama yang membuat masyarakat masih merasakan tekanan biaya hidup antara lain:
Kebutuhan sehari-hari yang terus meningkat.
Tanggung jawab finansial terhadap keluarga yang semakin besar.
Ketidakpastian ekonomi yang membuat masyarakat lebih berhati-hati membelanjakan uang.
Sebagian masyarakat masih harus menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan rutin.
Kekhawatiran terhadap biaya hidup di masa depan.
Temuan tersebut berasal dari Sun Life Asia Financial Resilience Index 2026 yang dilakukan bersama Genpop pada April 2026 terhadap 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas di seluruh Indonesia.
Hasil studi menunjukkan bahwa rasa aman finansial tidak hanya ditentukan oleh jumlah uang yang dimiliki saat ini. Kemampuan mengelola tanggung jawab keuangan, menghadapi risiko ekonomi, serta mempersiapkan masa depan ternyata menjadi faktor yang sama pentingnya.
Dalam praktiknya, banyak keluarga merasa kondisi keuangan mereka masih rentan. Meski kebutuhan pokok dapat terpenuhi, muncul kekhawatiran ketika harus menghadapi kebutuhan mendadak, biaya pendidikan anak, biaya kesehatan, atau kemungkinan kehilangan sumber penghasilan.
Mengapa Banyak Masyarakat Mulai Menggunakan Tabungan untuk Kebutuhan Sehari-hari?
Salah satu temuan menarik dalam survei ini adalah sebanyak 23% responden mengaku menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Angka tersebut memberikan gambaran bahwa sebagian masyarakat tidak lagi menggunakan tabungan semata untuk tujuan jangka panjang seperti membeli rumah, pendidikan anak, atau dana pensiun. Tabungan mulai berfungsi sebagai bantalan untuk menjaga kondisi keuangan tetap berjalan ketika pengeluaran meningkat.
Secara sederhana, kondisi ini bisa dianalogikan seperti seseorang yang memiliki persediaan air untuk musim kemarau. Jika persediaan tersebut terus digunakan untuk kebutuhan harian, maka ketika benar-benar menghadapi situasi darurat, cadangan yang tersedia akan semakin terbatas.
Simulasi Kondisi Keluarga Kelas Menengah
Bayangkan sebuah keluarga muda dengan dua anak.
Beberapa tahun lalu mereka mampu menyisihkan Rp2 juta setiap bulan untuk tabungan. Namun seiring kenaikan biaya pendidikan, kebutuhan rumah tangga, transportasi, dan berbagai pengeluaran lainnya, kemampuan menabung berkurang menjadi hanya Rp500 ribu per bulan.
Ketika terjadi pengeluaran tak terduga seperti perbaikan kendaraan atau biaya kesehatan, mereka akhirnya mengambil dana dari tabungan yang sudah terkumpul.
Situasi seperti ini tidak selalu terlihat sebagai krisis keuangan. Namun jika berlangsung dalam jangka panjang, kemampuan keluarga untuk membangun kekayaan dan ketahanan finansial akan semakin terbatas.
Inilah salah satu alasan mengapa banyak orang masih merasa belum aman secara finansial meskipun secara teknis kondisi keuangannya belum tergolong buruk.
Apa Dampak Tekanan Biaya Hidup terhadap Daya Beli dan Pola Konsumsi?
Tekanan biaya hidup tidak hanya memengaruhi kondisi keuangan rumah tangga, tetapi juga mengubah perilaku konsumsi masyarakat.
Survei menunjukkan bahwa 26% responden memilih mengurangi atau menunda sejumlah pengeluaran sebagai respons terhadap kondisi ekonomi yang dihadapi.
Perubahan ini dapat terlihat dalam berbagai bentuk, seperti:
Menunda pembelian barang non-prioritas.
Mengurangi frekuensi makan di luar rumah.
Mencari produk dengan harga lebih murah.
Menunggu promosi sebelum membeli kebutuhan tertentu.
Mengurangi anggaran hiburan atau rekreasi.
Dari sudut pandang ekonomi, perubahan perilaku ini dapat berdampak pada berbagai sektor usaha.
UMKM, sektor ritel, hingga bisnis berbasis konsumsi rumah tangga harus beradaptasi dengan pelanggan yang semakin selektif dalam membelanjakan uang mereka. Konsumen tidak lagi hanya mempertimbangkan keinginan, tetapi lebih fokus pada kebutuhan dan nilai dari setiap pengeluaran.
Akibatnya, pelaku usaha dituntut lebih kreatif dalam mengelola harga, promosi, hingga strategi pemasaran agar tetap mampu mempertahankan permintaan.
Baca Juga: Indonesia vs Mozambique, Mana yang Memiliki Biaya Hidup Lebih Murah?
Baca Juga: Inflasi Jepang Mulai Reda, Biaya Hidup Masih Hantui Pemilu
Mengapa Ketahanan Finansial Naik tetapi Rasa Aman Belum Ikut Meningkat?
Inilah paradoks paling menarik dari hasil survei Sun Life tahun ini.
Di satu sisi, ketahanan finansial masyarakat Indonesia mengalami peningkatan. Proporsi individu dengan tingkat ketahanan finansial tinggi naik dari 30% pada 2025 menjadi 34% pada 2026.
Selain itu, sebanyak 45% responden mengaku mampu memenuhi kebutuhan hidup selama lebih dari enam bulan tanpa penghasilan. Tingkat kepercayaan diri dalam mencapai tujuan keuangan jangka panjang juga meningkat menjadi 68%.
Namun di sisi lain, hanya 14% masyarakat yang merasa sangat aman secara finansial.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Jawabannya terletak pada perbedaan antara mampu bertahan dan merasa aman.
Seseorang mungkin memiliki dana darurat dan penghasilan yang cukup. Akan tetapi jika biaya hidup terus meningkat, kebutuhan keluarga bertambah, dan masa depan terasa tidak pasti, rasa aman finansial belum tentu ikut tumbuh.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi modern tidak hanya berkaitan dengan kondisi keuangan saat ini, tetapi juga ekspektasi terhadap masa depan.
Banyak keluarga mampu menghadapi kebutuhan hari ini, tetapi masih khawatir mengenai kondisi mereka lima atau sepuluh tahun mendatang.
Bertahan Hari Ini, Mengorbankan Masa Depan?
Ada satu pelajaran penting dari survei ini.
Masalah terbesar masyarakat Indonesia saat ini mungkin bukan semata-mata rendahnya pendapatan. Tantangan yang lebih besar adalah menjaga keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan keamanan finansial masa depan.
Ketika tabungan mulai digunakan untuk kebutuhan rutin, masyarakat sebenarnya sedang membuat keputusan yang rasional demi bertahan.
Namun jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, kemampuan untuk mempersiapkan pendidikan anak, dana pensiun, investasi, dan perlindungan terhadap risiko masa depan bisa ikut tergerus.
Dengan kata lain, sebagian keluarga berhasil bertahan hari ini, tetapi harus mengorbankan sebagian rencana masa depannya.
Bagaimana Cara Mengurangi Risiko Finansial di Tengah Biaya Hidup yang Tinggi?
Survei Sun Life juga menemukan bahwa perencanaan keuangan memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap rasa percaya diri finansial.
Sebanyak 86% responden yang memiliki rencana keuangan jangka panjang merasa yakin dapat mencapai tujuan finansial mereka. Sebaliknya, hanya 25% dari mereka yang tidak memiliki perencanaan keuangan merasakan keyakinan yang sama.
Temuan ini menunjukkan bahwa langkah sederhana dapat memberikan dampak besar, seperti:
Menetapkan tujuan keuangan yang jelas.
Membangun dana darurat secara bertahap.
Membuat anggaran bulanan.
Mengelola utang dengan bijak.
Menyiapkan perlindungan kesehatan dan keuangan.
Selain itu, literasi keuangan terbukti menjadi faktor pembeda yang sangat penting. Individu dengan tingkat literasi keuangan lebih baik memiliki tingkat kepercayaan diri finansial yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang kurang memahami pengelolaan keuangan.
Teknologi juga mulai memainkan peran penting. Sebanyak 68% responden mengaku menggunakan generative AI untuk mencari informasi dan panduan keuangan, sementara 67% memperkirakan penggunaannya akan meningkat dalam 12 bulan ke depan.
Meski demikian, kemampuan memahami dan mengevaluasi informasi tetap menjadi fondasi utama dalam pengambilan keputusan finansial.
President Director Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, mengatakan bahwa bagi banyak masyarakat Indonesia, rasa aman finansial tidak hanya berkaitan dengan diri sendiri, tetapi juga kemampuan memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga dan orang-orang terdekat.
"Bagi banyak masyarakat Indonesia, rasa aman finansial tidak hanya berkaitan dengan diri sendiri, tetapi juga dengan kemampuan untuk memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga dan orang-orang terdekat. Temuan studi ini menunjukkan bahwa meskipun berbagai tantangan ekonomi masih dirasakan, semakin banyak masyarakat yang mulai mengambil langkah positif untuk memperkuat fondasi keuangan mereka," ujar Albertus Wiroyo melalui hasil riset yang diterima AKURAT.CO, dikutip Rabu, 24 Juni 2026.
Ia menambahkan bahwa di tengah kondisi yang terus berubah, keberadaan mitra keuangan yang terpercaya menjadi semakin penting untuk membantu masyarakat membangun ketahanan finansial dan menghadapi ketidakpastian dengan lebih tenang.
Albertus juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan literasi keuangan.
"Teknologi telah membuka akses yang lebih luas terhadap informasi keuangan, namun literasi keuangan dan perencanaan yang baik tetap menjadi fondasi utama dalam membangun rasa aman finansial," kata Albertus.
Mengapa Temuan Ini Penting bagi Indonesia?
Kondisi yang tergambar dalam survei ini menunjukkan bahwa tekanan biaya hidup bukan hanya persoalan individu, melainkan isu yang memiliki dampak luas terhadap ekonomi nasional.
Ketika masyarakat menahan belanja, menggunakan tabungan untuk kebutuhan rutin, dan semakin berhati-hati mengeluarkan uang, pola konsumsi nasional ikut berubah.
Padahal konsumsi rumah tangga selama ini menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Karena itu, memahami bagaimana masyarakat merespons tekanan biaya hidup menjadi penting, baik bagi pelaku usaha, pembuat kebijakan, maupun keluarga Indonesia sendiri.
Pada akhirnya, ketahanan finansial bukan sekadar soal memiliki cukup uang untuk bertahan selama beberapa bulan. Ketahanan finansial juga menyangkut kemampuan menjaga kualitas hidup, melindungi keluarga, dan tetap memiliki harapan terhadap masa depan di tengah ketidakpastian ekonomi.
Pantau terus perkembangan kondisi ekonomi dan tren keuangan masyarakat Indonesia untuk memahami bagaimana perubahan biaya hidup terus memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Pertamax Naik dan Biaya Hidup Meningkat? Ini Strategi Keuangan yang Bisa Dilakukan
Baca Juga: 80 Persen Masyarakat Indonesia Tertekan Kenaikan Biaya Hidup, Banyak yang Terpaksa Pakai Tabungan
FAQ
Mengapa biaya hidup terasa semakin tinggi?
Biaya hidup terasa semakin tinggi karena berbagai kebutuhan rumah tangga mengalami kenaikan, sementara masyarakat juga menghadapi tanggung jawab finansial yang semakin besar. Akibatnya, sebagian pendapatan yang sebelumnya dapat ditabung kini digunakan untuk memenuhi kebutuhan rutin.
Mengapa banyak orang menggunakan tabungan untuk kebutuhan sehari-hari?
Banyak masyarakat menggunakan tabungan karena pengeluaran meningkat lebih cepat dibanding kemampuan menyisihkan pendapatan. Tabungan akhirnya menjadi bantalan keuangan untuk menjaga kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Apa dampak biaya hidup tinggi terhadap keluarga?
Biaya hidup tinggi dapat mengurangi kemampuan menabung, menunda pencapaian tujuan keuangan, meningkatkan stres finansial, dan membuat keluarga lebih rentan ketika menghadapi kebutuhan mendadak.
Bagaimana cara menjaga kondisi keuangan saat biaya hidup naik?
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain membuat anggaran yang lebih disiplin, memprioritaskan kebutuhan utama, membangun dana darurat, dan meningkatkan literasi keuangan agar keputusan finansial lebih efektif.
Apa hubungan literasi keuangan dengan ketahanan finansial?
Literasi keuangan membantu seseorang memahami cara mengelola uang, mengurangi risiko keuangan, dan membuat perencanaan yang lebih baik sehingga lebih siap menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Mengapa rasa aman finansial belum tentu meningkat meski kondisi keuangan membaik?
Karena rasa aman finansial tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi saat ini, tetapi juga oleh persepsi terhadap masa depan. Seseorang bisa saja memiliki kondisi keuangan yang lebih baik, namun tetap khawatir terhadap kenaikan biaya hidup atau risiko ekonomi yang mungkin terjadi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 7Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








