Akurat Logo

Cara Menghitung HPP yang Benar: Rumus, Komponen, dan Contoh Perhitungan untuk UMKM

Idham Nur Indrajaya | 24 Juni 2026, 13:54 WIB
Cara Menghitung HPP yang Benar: Rumus, Komponen, dan Contoh Perhitungan untuk UMKM
Pelajari cara menghitung HPP dengan benar lengkap dengan rumus, komponen, contoh perhitungan, dan tips menentukan harga jual produk. Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Pernah merasa produk yang dijual laris, tetapi keuntungan usaha tetap tipis? Kondisi ini sering dialami banyak pelaku UMKM. Mereka fokus meningkatkan penjualan, namun lupa menghitung seluruh biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk. Akibatnya, harga jual yang ditetapkan tidak mencerminkan biaya sebenarnya dan keuntungan yang diperoleh jauh lebih kecil dari perkiraan.

Di sinilah pentingnya memahami cara menghitung HPP (Harga Pokok Penjualan). HPP membantu pelaku usaha mengetahui total biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk atau jasa sehingga dapat menentukan harga jual yang tepat, mengukur keuntungan secara akurat, dan menghindari kerugian tersembunyi.

Ringkasan

Harga Pokok Penjualan (HPP) adalah total biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk yang siap dijual dalam periode tertentu.

Rumus HPP

HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih – Persediaan Akhir

Fungsi HPP

  • Menentukan harga jual produk

  • Menghitung laba usaha

  • Mengontrol biaya produksi

  • Mengetahui efisiensi operasional

  • Membantu pengambilan keputusan bisnis

Dalam praktik bisnis, HPP menjadi salah satu indikator utama untuk mengukur kesehatan usaha. Semakin akurat perhitungan HPP, semakin mudah pemilik usaha mengelola keuntungan dan mengembangkan bisnis.

Mengapa Cara Menghitung HPP Penting untuk UMKM?

Banyak pelaku usaha kecil menentukan harga jual hanya dengan melihat harga pesaing. Strategi ini memang terlihat sederhana, tetapi berisiko besar jika tidak memahami struktur biaya sendiri.

Misalnya, dua toko roti menjual produk yang sama dengan harga Rp20.000. Namun, toko pertama memiliki HPP Rp12.000, sedangkan toko kedua memiliki HPP Rp18.000. Meski harga jual sama, keuntungan yang diperoleh sangat berbeda.

Dengan menghitung HPP secara tepat, pelaku usaha dapat:

  • Mengetahui keuntungan riil dari setiap produk.

  • Mengidentifikasi pemborosan biaya.

  • Menentukan strategi harga yang lebih kompetitif.

  • Mengantisipasi kenaikan biaya produksi.

  • Membuat perencanaan bisnis yang lebih akurat.

Yang sering terjadi di lapangan, UMKM merasa bisnisnya menguntungkan karena uang terus berputar. Namun setelah seluruh biaya dihitung, ternyata margin keuntungan sangat kecil atau bahkan negatif.

Apa Saja Komponen dalam Perhitungan HPP?

Sebelum memahami cara menghitung HPP, penting untuk mengetahui komponen-komponen yang membentuknya.

1. Persediaan Awal

Persediaan awal adalah stok barang atau bahan baku yang tersedia pada awal periode akuntansi.

Contohnya:

  • Tepung terigu

  • Gula

  • Mentega

  • Kemasan produk

Nilai persediaan awal harus dicatat karena menjadi bagian dari total biaya produksi.

2. Pembelian Bersih

Pembelian bersih mencakup seluruh pembelian bahan baku selama periode tertentu setelah dikurangi retur dan diskon pembelian.

Rumusnya:

Pembelian Bersih = (Pembelian Kotor + Ongkos Kirim) – (Retur + Diskon)

Komponen ini sering menjadi biaya terbesar dalam bisnis manufaktur maupun kuliner.

3. Persediaan Akhir

Persediaan akhir adalah stok yang masih tersisa pada akhir periode dan belum terjual.

Karena barang tersebut masih menjadi aset perusahaan, nilainya dikurangkan dari total biaya.

4. Biaya Tambahan yang Sering Terlupakan

Inilah bagian yang sering membuat perhitungan HPP UMKM menjadi tidak akurat.

Biaya yang sering terlupakan antara lain:

  • Listrik

  • Air

  • Gas

  • Kemasan produk

  • Ongkos pengiriman bahan baku

  • Biaya penyimpanan

  • Barang rusak atau cacat produksi

Padahal biaya-biaya tersebut dapat memengaruhi keuntungan secara signifikan.

Komponen yang Tidak Termasuk HPP

Tidak semua pengeluaran usaha masuk ke dalam HPP.

Beberapa biaya yang umumnya tidak termasuk HPP adalah:

Biaya Non-Operasional

Misalnya:

  • Bunga pinjaman

  • Biaya investasi

  • Biaya pendanaan

Biaya Administrasi

Contohnya:

  • Biaya akuntansi

  • Gaji staf administrasi

  • Sewa kantor

  • Biaya manajemen

Meski penting bagi operasional usaha, biaya tersebut tidak dihitung sebagai bagian dari biaya produksi langsung.

Rumus HPP dan Cara Menghitungnya

Secara umum, rumus HPP adalah:

HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih – Persediaan Akhir

Langkah-langkahnya:

Langkah 1: Hitung Penjualan Bersih

Rumus:

Penjualan Bersih = Total Penjualan – (Retur + Diskon)

Langkah 2: Hitung Pembelian Bersih

Rumus:

Pembelian Bersih = (Pembelian Kotor + Ongkir) – (Retur + Diskon)

Langkah 3: Hitung Total Persediaan

Rumus:

Persediaan Barang = Persediaan Awal + Pembelian Bersih

Langkah 4: Hitung HPP

Rumus:

HPP = Total Persediaan – Persediaan Akhir

Metode ini membantu pelaku usaha mengetahui biaya sesungguhnya yang digunakan untuk menghasilkan produk yang telah terjual.

Contoh Perhitungan HPP pada Usaha Roti

Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh perhitungan sederhana.

Sebuah toko roti memproduksi 1.000 roti tawar manis dalam satu bulan.

Rincian biaya:

Komponen

Biaya

Bahan baku

Rp6.000.000

Listrik

Rp2.000.000

Gas

Rp1.000.000

Air

Rp500.000

Karyawan

Rp7.000.000

Total

Rp16.500.000

Perhitungan HPP per roti:

HPP = Total Biaya Produksi ÷ Jumlah Produksi

HPP = Rp16.500.000 ÷ 1.000

HPP = Rp16.500

Artinya, setiap roti memiliki biaya produksi sebesar Rp16.500.

Jika toko ingin memperoleh margin keuntungan 30 persen, maka harga jual minimal yang disarankan adalah:

Rp16.500 + (30% x Rp16.500) = Rp21.450

Harga jual bisa dibulatkan menjadi Rp22.000 per roti.

Contoh Perhitungan HPP untuk Usaha Makanan

Bayangkan seorang penjual rice bowl menjual 500 porsi dalam satu bulan.

Biaya yang dikeluarkan:

  • Bahan baku: Rp7.000.000

  • Kemasan: Rp1.500.000

  • Gas: Rp600.000

  • Listrik: Rp900.000

  • Air: Rp300.000

Total biaya:

Rp10.300.000

Maka:

HPP per porsi = Rp10.300.000 ÷ 500

HPP = Rp20.600

Jika pemilik usaha menjual produk seharga Rp22.000, keuntungan per porsi hanya Rp1.400.

Namun jika kemasan tidak dimasukkan dalam perhitungan, HPP terlihat hanya Rp17.600 sehingga pemilik usaha mengira memperoleh laba Rp4.400 per porsi.

Inilah contoh nyata bagaimana kesalahan menghitung HPP dapat menciptakan ilusi keuntungan.

Baca Juga: Kementerian UMKM Pacu Wirausaha Baru di Tengah Bonus Demografi

Baca Juga: Legalitas UMKM Dipercepat, SAPA UMKM Andalkan Data Terpadu

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menghitung HPP

Banyak pelaku UMKM melakukan kesalahan berikut:

1. Hanya Menghitung Bahan Baku

Padahal ada biaya listrik, gas, air, dan kemasan yang juga harus diperhitungkan.

2. Mengabaikan Ongkos Kirim

Biaya pengiriman bahan baku sering dianggap kecil, padahal jika dikumpulkan selama satu bulan jumlahnya bisa signifikan.

3. Tidak Memperbarui Harga Bahan Baku

Harga bahan baku terus berubah. Jika HPP tidak diperbarui, harga jual bisa menjadi tidak relevan.

4. Tidak Mencatat Barang Rusak

Produk yang rusak atau tidak layak jual tetap menghasilkan biaya.

5. Menentukan Harga Berdasarkan Pesaing

Harga pesaing belum tentu sesuai dengan struktur biaya usaha Anda.

Bagaimana Menggunakan HPP untuk Menentukan Harga Jual?

Setelah mengetahui HPP, langkah berikutnya adalah menentukan margin keuntungan.

Contoh:

  • HPP produk: Rp10.000

  • Target margin: 40%

Maka:

Harga Jual = HPP + (40% x HPP)

Harga Jual = Rp14.000

Namun, pelaku usaha juga harus mempertimbangkan kondisi pasar, daya beli konsumen, dan posisi produk dibanding kompetitor.

Karena itu, menentukan harga jual ideal bukan sekadar menambah margin, tetapi menyeimbangkan antara biaya, keuntungan, dan daya saing.

Mengapa Banyak UMKM Merasa Untung Padahal Sebenarnya Tidak?

Ada paradoks yang sering terjadi di dunia usaha.

Semakin ramai penjualan, semakin yakin pemilik usaha bahwa bisnisnya untung.

Padahal, omzet besar tidak selalu berarti keuntungan besar.

Banyak UMKM hanya menghitung uang masuk tanpa menghitung seluruh biaya produksi. Mereka melihat saldo rekening bertambah dan menganggap bisnis berkembang.

Ketika biaya listrik, kemasan, ongkos kirim, dan kenaikan harga bahan baku tidak dimasukkan ke dalam HPP, keuntungan terlihat lebih besar daripada kondisi sebenarnya.

Akibatnya, bisnis tampak sehat di permukaan, tetapi mengalami tekanan keuangan dalam jangka panjang.

Karena itu, HPP sebenarnya bukan sekadar alat menentukan harga jual. HPP adalah alat untuk mendeteksi kebocoran biaya yang sering tidak terlihat.

Mengapa HPP Perlu Dievaluasi Secara Berkala?

Perhitungan HPP tidak cukup dilakukan sekali.

Pelaku usaha perlu mengevaluasinya secara rutin karena:

  • Harga bahan baku berubah.

  • Tarif listrik dan energi dapat meningkat.

  • Biaya logistik mengalami fluktuasi.

  • Strategi pemasaran berubah.

  • Volume produksi bertambah atau berkurang.

Evaluasi berkala membantu pemilik usaha menjaga margin keuntungan tetap sehat dan menghindari kerugian yang tidak disadari.

Penutup

Memahami cara menghitung HPP bukan hanya urusan akuntansi, melainkan fondasi penting dalam mengelola bisnis yang sehat dan berkelanjutan. Pelaku usaha yang mengetahui biaya sebenarnya di balik setiap produk akan lebih mudah menentukan harga jual, menjaga margin keuntungan, dan mengambil keputusan bisnis yang tepat.

Di tengah persaingan yang semakin ketat, kemampuan menghitung HPP secara akurat bisa menjadi pembeda antara bisnis yang sekadar ramai pembeli dan bisnis yang benar-benar menghasilkan keuntungan. Karena itu, luangkan waktu untuk mengevaluasi HPP secara berkala agar setiap keputusan yang diambil didasarkan pada data, bukan sekadar perkiraan. Pantau terus perkembangan strategi pengelolaan keuangan usaha agar bisnis Anda dapat tumbuh lebih kuat di masa depan.

Baca Juga: BTN Gandeng Pemkab Samosir Dorong Pengembangan Pariwisata, UMKM, dan Layanan Publik

Baca Juga: Kementerian UMKM Siapkan 500.000 Sertifikat Halal Gratis

FAQ

Apa yang dimaksud dengan HPP?

HPP atau Harga Pokok Penjualan adalah total biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk atau jasa yang siap dijual dalam periode tertentu. HPP digunakan untuk menentukan harga jual dan menghitung keuntungan usaha.

Bagaimana rumus menghitung HPP?

Rumus umum HPP adalah Persediaan Awal ditambah Pembelian Bersih kemudian dikurangi Persediaan Akhir. Rumus ini membantu mengetahui total biaya barang yang terjual selama satu periode.

Apa saja komponen HPP?

Komponen utama HPP meliputi persediaan awal, pembelian bersih, dan persediaan akhir. Selain itu, biaya produksi seperti bahan baku, listrik, air, gas, dan kemasan juga perlu diperhitungkan.

Mengapa HPP penting bagi UMKM?

HPP membantu UMKM menentukan harga jual yang tepat, mengukur keuntungan secara akurat, dan mengendalikan biaya produksi agar usaha tetap sehat.

Apakah biaya listrik masuk HPP?

Ya. Jika listrik digunakan secara langsung dalam proses produksi, maka biaya tersebut termasuk komponen HPP dan harus diperhitungkan.

Bagaimana menentukan harga jual setelah mengetahui HPP?

Harga jual dapat ditentukan dengan menambahkan margin keuntungan tertentu ke dalam HPP. Besaran margin disesuaikan dengan target laba dan kondisi pasar.

Apa perbedaan HPP dan laba kotor?

HPP adalah total biaya untuk menghasilkan produk yang terjual, sedangkan laba kotor adalah selisih antara pendapatan penjualan dan HPP. Semakin rendah HPP dengan pendapatan yang sama, semakin besar laba kotor yang diperoleh.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.