Akurat Logo

Pertanian Modern AAS Ubah Pola Tanam Nasional, Produksi Padi Tembus 1 Juta Rumpun per Hektare

Esha Tri Wahyuni | 28 Juni 2026, 14:12 WIB
Pertanian Modern AAS Ubah Pola Tanam Nasional, Produksi Padi Tembus 1 Juta Rumpun per Hektare
Ilustrasi beras melimpah di gudang bulog

AKURAT.CO Pemerintah mulai menggeser strategi peningkatan produksi beras nasional dari sekadar menambah luas tanam menuju optimalisasi produktivitas lahan melalui sistem Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS). 

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyebut, model tersebut mampu meningkatkan populasi tanaman padi hingga hampir tiga kali lipat sehingga produktivitas mencapai 12,4 ton gabah per hektar.

Saat memimpin Rapat Koordinasi Perluasan Pelaksanaan PM-AAS secara hybrid, Sabtu, Amran mengatakan hasil tersebut diperoleh setelah hampir dua tahun penelitian dan uji lapangan. 

Menurutnya, produktivitas yang selama ini berada di kisaran 5-6 ton per hektar dapat meningkat menjadi minimal 10 ton, bahkan telah mencapai 12,4 ton per hektar pada sejumlah lahan uji.

Baca Juga: Minapadi Salin sebagai Pengembangan Padi Biosalin, PGN-BRIN Tingkatkan Produktivitas dan Nilai Ekonomi Pesisir Batang

"Model yang dikembangkan ini mampu meningkatkan produktivitas padi hingga hampir tiga kali lipat, dari rata-rata sekitar 5-6 ton menjadi minimal 10 ton bahkan mencapai 12,4 ton per hektar," ujar Amran dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (28/6/2026).

Amran menjelaskan peningkatan hasil panen bukan hanya berasal dari penggunaan teknologi modern, tetapi juga perubahan pola budidaya yang mampu meningkatkan populasi tanaman secara signifikan. 

Melalui kombinasi sistem tanam 4:1, 6:1, pola tanam berkelanjutan (continuous planting), serta penerapan precision agriculture, jumlah rumpun padi yang semula sekitar 300 ribu hingga 360 ribu rumpun per hektar dapat meningkat menjadi 800 ribu hingga 1 juta rumpun per hektar.

"Kalau jajar legowo memperbaiki fotosintesis, maka sistem kontinyu meningkatkan populasi tanaman. Populasi yang biasanya sekitar 300 ribu hingga 360 ribu rumpun per hektar bisa meningkat menjadi 800 ribu sampai satu juta rumpun. Dengan populasi hampir tiga kali lipat, produksinya juga sangat masuk akal meningkat hingga mendekati tiga kali lipat," ujar Amran.

Selain meningkatkan hasil panen, pemerintah menilai metode tersebut mampu menekan biaya usaha tani melalui penggunaan pupuk, air, dan input produksi yang lebih efisien.

"Kalau ini diterapkan dengan benar, biaya pupuk dan air bisa jauh lebih efisien. Input turun, tetapi hasil panen meningkat. Di situlah keuntungan petani akan naik," kata Amran.

PM-AAS merupakan pengembangan yang menggabungkan pengalaman penerapan sistem jajar legowo di Indonesia dengan praktik budidaya modern yang dipelajari di Arkansas, Amerika Serikat, serta pemanfaatan teknologi pertanian presisi yang berkembang di China. 

Riset dan pengembangannya dilakukan selama hampir dua tahun sebelum diperluas penerapannya secara nasional.

Sebagai informasi, peningkatan produktivitas padi Indonesia selama beberapa dekade lebih banyak ditopang oleh perbaikan varietas unggul, irigasi, mekanisasi, serta intensifikasi pertanian. 

PM-AAS menjadi pendekatan baru karena menitikberatkan pada rekayasa populasi tanaman dan efisiensi budidaya tanpa bergantung pada perluasan lahan sawah.

Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produktivitas padi nasional dalam beberapa tahun terakhir masih berada di kisaran 5 ton gabah kering giling per hektare, sehingga klaim produktivitas 10-12,4 ton per hektare melalui PM-AAS berpotensi melampaui rata-rata nasional apabila berhasil direplikasi secara luas.

Pemerintah menilai peningkatan produktivitas tersebut penting untuk menjaga ketahanan pangan di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi beras nasional serta terbatasnya ruang ekspansi lahan pertanian. 

Dengan hasil panen yang lebih tinggi pada lahan yang sama, produksi nasional diharapkan meningkat tanpa harus membuka lahan baru dalam skala besar.

Untuk mempercepat implementasi, Kementerian Pertanian menyiapkan dukungan benih, pendampingan teknis, dan mengerahkan seluruh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sebagai ujung tombak penerapan teknologi tersebut. Tahap awal difokuskan pada kawasan beririgasi sebelum diperluas secara bertahap hingga 2029.

"Seluruh PPL harus bergerak. Fokus kita di daerah irigasi terlebih dahulu. PM-AAS akan kita kawal bersama hingga 2029 agar benar-benar mampu meningkatkan produksi nasional," tegas Amran.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.