Pertanian Modern AAS Ubah Pola Tanam Nasional, Produksi Padi Tembus 1 Juta Rumpun per Hektare

AKURAT.CO Pemerintah mulai menggeser strategi peningkatan produksi beras nasional dari sekadar menambah luas tanam menuju optimalisasi produktivitas lahan melalui sistem Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS).
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyebut, model tersebut mampu meningkatkan populasi tanaman padi hingga hampir tiga kali lipat sehingga produktivitas mencapai 12,4 ton gabah per hektar.
Saat memimpin Rapat Koordinasi Perluasan Pelaksanaan PM-AAS secara hybrid, Sabtu, Amran mengatakan hasil tersebut diperoleh setelah hampir dua tahun penelitian dan uji lapangan.
Menurutnya, produktivitas yang selama ini berada di kisaran 5-6 ton per hektar dapat meningkat menjadi minimal 10 ton, bahkan telah mencapai 12,4 ton per hektar pada sejumlah lahan uji.
"Model yang dikembangkan ini mampu meningkatkan produktivitas padi hingga hampir tiga kali lipat, dari rata-rata sekitar 5-6 ton menjadi minimal 10 ton bahkan mencapai 12,4 ton per hektar," ujar Amran dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (28/6/2026).
Amran menjelaskan peningkatan hasil panen bukan hanya berasal dari penggunaan teknologi modern, tetapi juga perubahan pola budidaya yang mampu meningkatkan populasi tanaman secara signifikan.
Melalui kombinasi sistem tanam 4:1, 6:1, pola tanam berkelanjutan (continuous planting), serta penerapan precision agriculture, jumlah rumpun padi yang semula sekitar 300 ribu hingga 360 ribu rumpun per hektar dapat meningkat menjadi 800 ribu hingga 1 juta rumpun per hektar.
"Kalau jajar legowo memperbaiki fotosintesis, maka sistem kontinyu meningkatkan populasi tanaman. Populasi yang biasanya sekitar 300 ribu hingga 360 ribu rumpun per hektar bisa meningkat menjadi 800 ribu sampai satu juta rumpun. Dengan populasi hampir tiga kali lipat, produksinya juga sangat masuk akal meningkat hingga mendekati tiga kali lipat," ujar Amran.
Selain meningkatkan hasil panen, pemerintah menilai metode tersebut mampu menekan biaya usaha tani melalui penggunaan pupuk, air, dan input produksi yang lebih efisien.
"Kalau ini diterapkan dengan benar, biaya pupuk dan air bisa jauh lebih efisien. Input turun, tetapi hasil panen meningkat. Di situlah keuntungan petani akan naik," kata Amran.
PM-AAS merupakan pengembangan yang menggabungkan pengalaman penerapan sistem jajar legowo di Indonesia dengan praktik budidaya modern yang dipelajari di Arkansas, Amerika Serikat, serta pemanfaatan teknologi pertanian presisi yang berkembang di China.
Riset dan pengembangannya dilakukan selama hampir dua tahun sebelum diperluas penerapannya secara nasional.
Sebagai informasi, peningkatan produktivitas padi Indonesia selama beberapa dekade lebih banyak ditopang oleh perbaikan varietas unggul, irigasi, mekanisasi, serta intensifikasi pertanian.
PM-AAS menjadi pendekatan baru karena menitikberatkan pada rekayasa populasi tanaman dan efisiensi budidaya tanpa bergantung pada perluasan lahan sawah.
Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produktivitas padi nasional dalam beberapa tahun terakhir masih berada di kisaran 5 ton gabah kering giling per hektare, sehingga klaim produktivitas 10-12,4 ton per hektare melalui PM-AAS berpotensi melampaui rata-rata nasional apabila berhasil direplikasi secara luas.
Pemerintah menilai peningkatan produktivitas tersebut penting untuk menjaga ketahanan pangan di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi beras nasional serta terbatasnya ruang ekspansi lahan pertanian.
Dengan hasil panen yang lebih tinggi pada lahan yang sama, produksi nasional diharapkan meningkat tanpa harus membuka lahan baru dalam skala besar.
Untuk mempercepat implementasi, Kementerian Pertanian menyiapkan dukungan benih, pendampingan teknis, dan mengerahkan seluruh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sebagai ujung tombak penerapan teknologi tersebut. Tahap awal difokuskan pada kawasan beririgasi sebelum diperluas secara bertahap hingga 2029.
"Seluruh PPL harus bergerak. Fokus kita di daerah irigasi terlebih dahulu. PM-AAS akan kita kawal bersama hingga 2029 agar benar-benar mampu meningkatkan produksi nasional," tegas Amran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kementerian ESDM: Tabung CNG 3 Kg Tak Perlu Dibeli, Masyarakat Cukup Tukar Isi Gas
- 2Prediksi Skor Paraguay vs Australia 26 Juni 2026: Socceroos Selangkah Lagi ke 32 Besar, Paraguay Wajib Menang
- 3Link dan Cara Cek Hasil Pengumuman OSN 2026 Jenjang SD dan SMP, Cek Sekarang!
- 4Moto3 Belanda: Puji Kehebatan Veda Ega Pratama di Brno, Hiroshi Aoyama Bidik Momentum di Assen
- 5Edwin van Der Sar Harap Timnas Indonesia Bisa Segera Tampil di Piala Dunia
- 6Venezuela Darurat Nasional! Gempa Kembar M 7,5 Guncang Caracas, Puluhan Gedung Runtuh
- 7Messi Tak Jadi Starter saat Argentina vs Yordania, Scaloni Ungkap Rencananya
- 8Masjid Hajjah Yuliana Dibangun di Melbourne, Simbol Bakti kepada Orang Tua dan Gotong Royong Diaspora
- 9Kepercayaan Publik ke Polri Naik, Sari Yuliati Apresiasi Capaian
- 10Relawan Matahari 08 Dukung Program Prioritas Prabowo, Sampaikan Delapan Poin Tuntutan










