Akurat Logo

RI Segera Peroleh Kenggotaan Penuh di CPTPP, Bidik Pangsa Pasar 15 Persen Ekonomi Global

Esha Tri Wahyuni | 3 Juli 2026, 22:00 WIB
RI Segera Peroleh Kenggotaan Penuh di CPTPP, Bidik Pangsa Pasar 15 Persen Ekonomi Global
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto

AKURAT.CO Indonesia resmi memasuki tahap preparation discussion atau diskusi persiapan menuju keanggotaan penuh dalam Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP). 

Tahapan tersebut menjadi fase awal yang menentukan sebelum pembentukan Accession Working Group (AWG), sekaligus membuka peluang Indonesia mengakses salah satu kawasan perdagangan terbesar di dunia yang mencakup sekitar 600 juta penduduk dengan kontribusi sekitar 15% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, perkembangan tersebut diputuskan dalam Pertemuan Komisi CPTPP ke-10 yang berlangsung secara virtual pada 26 Juni 2026. 

Baca Juga: Australia Nilai RI Siap Masuk CPTPP, Aksesi Tunggu Finalisasi Regulasi

Dalam forum itu, negara-negara anggota menyepakati dimulainya preparation discussion bersama Indonesia, Filipina, dan Uni Emirat Arab (UEA).

"CPTPP ini merupakan perjanjian perdagangan antar ekonomi. Ketentuan-ketentuan dalam CPTPP secara umum sudah kita sepakati di berbagai perjanjian internasional seperti dalam kerangka WTO, RCEP, ASEAN, serta proses aksesi OECD. Maka itu, kita hanya memerlukan beberapa penyesuaian peraturan perundang-undangan untuk memenuhi komitmen di CPTPP," kata Airlangga dalam keterangannya, Jumat (3/7/2026).

Pemerintah menargetkan Indonesia dapat menjadi anggota penuh CPTPP pada 2027. Sebelum itu, Indonesia harus menyelesaikan sejumlah tahapan aksesi, termasuk pembentukan Accession Working Group yang akan mengevaluasi kesiapan regulasi dan implementasi komitmen perdagangan Indonesia.

Sejauh ini, pemerintah telah menyelaraskan regulasi domestik pada 22 bab ketentuan CPTPP. Indonesia juga telah menyerahkan questionnaire negara aspirasi kepada Pemerintah Selandia Baru sebagai depository country pada 12 Mei 2025, sebagai salah satu syarat dalam proses aksesi.

Masuknya Indonesia ke tahap persiapan dinilai penting karena CPTPP merupakan salah satu perjanjian perdagangan bebas dengan standar tinggi yang mencakup 12 negara anggota, yakni Jepang, Kanada, Australia, Inggris, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Vietnam, Meksiko, Chile, Peru, dan Selandia Baru. 

Blok perdagangan tersebut mewakili sekitar 15% PDB dunia dengan pasar hampir 600 juta penduduk, sehingga menjadi salah satu kawasan perdagangan paling strategis secara global.

Bagi Indonesia, keanggotaan penuh diharapkan memperluas akses pasar ekspor nasional, meningkatkan arus investasi asing, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok regional maupun global. 

Selain itu, pelaku usaha diproyeksikan memperoleh manfaat berupa penyederhanaan prosedur kepabeanan, aturan perdagangan digital yang lebih modern, perlindungan investasi, perlindungan hak kekayaan intelektual, hingga penerapan rules of origin yang memudahkan integrasi rantai pasok antarnegara anggota.

"Dokumen kerja sama ekonomi strategis tersebut merupakan wujud nyata dari komitmen kedua negara dalam membangun pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan saling menguntungkan," ujar Airlangga, merujuk pada penandatanganan Indonesia–United Kingdom Economic Growth Partnership (EGP) pada 19 Januari 2026 yang turut memperkuat dukungan Inggris terhadap aksesi Indonesia ke CPTPP.

Airlangga menambahkan manfaat keanggotaan juga akan dirasakan masyarakat melalui semakin beragamnya pilihan produk dengan harga yang lebih kompetitif seiring terbukanya perdagangan antarnegara anggota.

Secara historis, Indonesia bukan negara ASEAN pertama yang bergabung dalam CPTPP. Sebelumnya, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Vietnam telah lebih dahulu menjadi anggota. 

Namun, sebagai ekonomi terbesar di ASEAN sekaligus satu-satunya negara anggota G20 di kawasan Asia Tenggara, keikutsertaan Indonesia dipandang akan memperkuat posisi strategis negara dalam arsitektur perdagangan Indo-Pasifik.

"Indonesia bukan negara pertama di ASEAN, tetapi Vietnam, Brunei, Malaysia, dan Singapura sudah menjadi anggota ekonomi CPTPP. Tentunya kita berharap sebagai ekonomi terbesar di ASEAN dan sebagai satu-satunya negara G20 di ASEAN bahwa keanggotaan CPTPP di Indo-Pasifik ini akan memperkuat posisi Indonesia," kata Airlangga.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.