Bayer-Kemenko Pangan Berkolaborasi Tingkatkan Produktivitas Jagung di Ponorogo Lewat Inovasi Teknologi

AKURAT.CO Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan petani menjadi kunci utama dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penerapan teknologi pertanian yang modern, efisien, dan berbasis inovasi.
Komitmen ini dibuktikan lewat aksi nyata panen raya jagung yang digelar oleh Bayer Indonesia bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan di Desa Pijeran, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Acara tersebut dihadiri langsung oleh:
Dr. Hanif Faisol Nurofiq (Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan)
Hj. Lisdyarita (Plt. Bupati Ponorogo)
Masun (Plt. Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Ponorogo)
Dr. Rido Kurnianto (Rektor Universitas Muhammadiyah Ponorogo)
Aditia Rusmawan (Agriculture Affairs and License to Operate Lead Bayer Crop Science Indonesia)
Perwakilan kelompok tani Desa Pijeran.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol, menegaskan bahwa peningkatan produktivitas adalah kunci krusial untuk mencapai target swasembada pangan nasional di tengah keterbatasan lahan dan tantangan perubahan iklim.
"Penguatan ketahanan pangan tidak cukup hanya melalui perluasan lahan tanam. Kita perlu meningkatkan produktivitas melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi pertanian. Kolaborasi antara pemerintah, petani, dan sektor swasta seperti Bayer menjadi contoh nyata bagaimana inovasi dapat mendorong sentra produksi daerah menjadi penopang produksi jagung nasional," ujar Hanif, Selasa (7/7/2026).
Pentingnya peningkatan ini tecermin dari tren positif produksi jagung nasional.
Pada Januari 2026, luas panen jagung pipilan secara nasional mencapai 0,24 juta hektare, naik 11,17 persen dibandingkan Januari 2025 yang tercatat sebesar 0,22 juta hektare.
Pada periode yang sama, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen diperkirakan mencapai 1,38 juta ton, tumbuh 11,09 persen dari capaian 1,25 juta ton pada Januari 2025.
Baca Juga: Bank Jago Luncurkan Inspirasi Kantong, Fitur Baru untuk Kelola Uang Lebih Personal
Sebagai salah satu dari 10 besar daerah penghasil jagung di Jawa Timur, Ponorogo memegang peran strategis.
Pada tahun 2025, kabupaten ini mencatat luas panen jagung sekitar 39.046 hektare dengan total produksi mencapai 284.242 ton, atau memiliki rata-rata produktivitas 7,28 ton per hektare.
Plt. Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menyampaikan bahwa pihaknya terus memperkuat kolaborasi lintas sektor guna menggenjot produktivitas pertanian daerah.
“Di tengah tantangan yang terus berkembang, pemanfaatan inovasi dan teknologi menjadi langkah penting agar petani mampu meningkatkan hasil panen sekaligus mendukung pencapaian target swasembada jagung nasional,” kata Lisdyarita.
Dalam panen raya ini, kolaborasi dengan Bayer diwujudkan melalui penggunaan varietas benih Dekalb DK19C.
Evaluasi teknis di Desa Pijeran menunjukkan bahwa varietas ini memberikan performa agronomi yang sangat baik di lapangan.
Aditia Rusmawan selaku Agriculture Affairs and License to Operate Lead Bayer Crop Science Indonesia menekankan bahwa inovasi dari Bayer harus memberikan dampak dan manfaat ekonomi yang nyata bagi para petani.
“Melalui teknologi benih jagung hibrida Dekalb, kami ingin membantu petani meningkatkan produktivitas dan memperoleh hasil panen yang bernilai ekonomi lebih baik. Penggunaan benih jagung DK19C menunjukkan bagaimana inovasi berbasis sains dapat diterapkan secara nyata di lapangan untuk mendorong pertanian jagung yang lebih maju dan berkelanjutan,” jelas Aditia.
Tak berhenti di situ, Aditia membocorkan bahwa Bayer dalam waktu dekat akan memperkenalkan varietas terbaru, yaitu Dekalb DK19S dan DK09S.
Kedua produk bioteknologi ini dibekali dua cara kerja unik untuk melindungi tanaman dari hama permukaan seperti penggerek jagung dan ulat grayak, serta memiliki toleransi tinggi terhadap herbisida Roundup Ready 2.
Inovasi benih ini terbukti memberikan keuntungan ekonomi yang signifikan. Karakteristik benih yang menghasilkan rendemen tinggi dan kadar air rendah saat panen secara otomatis mampu memangkas biaya pengeringan.
Alhasil, petani bisa memaksimalkan margin keuntungan bersih lewat output bobot pipilan yang maksimal dengan input yang tetap optimal.
Manfaat ini diakui langsung oleh Miswanto, salah satu petani jagung dari Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman.
“Sejak menggunakan benih jagung Dekalb DK19C, pertumbuhan tanaman lebih seragam, tongkolnya lebih bagus, dan hasil panennya meningkat. Selain produksinya lebih tinggi, biaya juga lebih efisien karena kualitas panennya baik. Pendampingan budidaya dari Bayer juga membuat kami lebih percaya diri menerapkan teknologi baru di lahan,” aku Miswanto penuh optimisme.
Sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, dan para petani diharapkan mampu menjadi fondasi kokoh dalam membangun ekosistem pertanian yang produktif, efisien, dan berkelanjutan menuju Indonesia swasembada jagung.
Baca Juga: India Siap Dukung Indonesia Kembangkan Fasilitas Peluncuran Satelit
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









