Akurat Logo

Prabowo Resmikan B50, RI Susul Kesuksesan Brazil Redam Inflasi Energi?

Yosi Winosa | 9 Juli 2026, 21:30 WIB
Prabowo Resmikan B50, RI Susul Kesuksesan Brazil Redam Inflasi Energi?
ILustrasi harga BBM Brazil stabil berkat kesuksesan program B30

AKURAT.CO Peresmian implementasi B50 oleh Presiden Prabowo Subianto pada hari ini menandai babak baru dalam perjalanan transisi energi Indonesia.

Di balik target pengurangan impor solar dan peningkatan nilai tambah sawit, muncul pertanyaan yang jauh lebih besar: mampukah Indonesia meniru keberhasilan Brasil dalam menjadikan biofuel sebagai peredam gejolak harga energi dan inflasi?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan setelah dunia beberapa waktu lalu diguncang lonjakan harga minyak akibat konflik di Selat Hormuz. Ketika banyak negara menghadapi kenaikan tajam harga bahan bakar, Brasil justru mampu menahan dampaknya berkat strategi biofuel yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Baca Juga: Luncurkan Biodiesel B50, Prabowo: Indonesia Jadi Sorotan Dunia karena Pimpin Pengurangan Emisi Karbon

Dalam peluncuran Biodiesel B50 bertajuk “Langkah Nyata untuk Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional” di Rest Area KM 57 Tol Cikampek hari ini, Presiden menegaskan bahwa kelangsungan hidup suatu bangsa antara lain ditentukan oleh tiga hal.

Pertama, mampukah bangsa itu menghasilkan pangannya untuk rakyat, rakyat sendiri. Kedua, mampukah bangsa itu memiliki energi, sumber energi sendiri, tidak tergantung bangsa lain. Ketiga, mampukah negara itu juga memiliki sumber air.

Khusus untuk ketahanan energi, Presiden menekankan bahwa di tengah tantangan dan ketidakpastian global, pemerintah terus mempercepat langkah menuju kemandirian energi nasional. Menurut Presiden, implementasi program mandatori biodiesel B50 menjadi tonggak penting karena mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar.

“Saya dorong, saya menuntut dari tim saya kemandirian energi. B40 tidak cukup. Bahkan pada saat itu saya mendorong ke arah B100. Tapi menteri-menteri saya meyakinkan saya, Pak, dengan B50 saja kita sudah tidak impor solar lagi dari luar negeri. Jadi ini adalah suatu prestasi bangsa yang luar biasa,” tegas Presiden, Kamis (9/7/2026).

Senada, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan lewat B50, Bahlil memastikan Indonesia tidak akan lagi melakukan impor solar setelah diluncurkannya bahan bakar B50 atau campuran biodiesel sebesar 50% ke dalam bahan bakar minyak jenis solar. Bahlil menyampaikan, konsumsi solar dalam negeri mencapai 40 juta kiloliter per tahun. Sebanyak 3 sampai 4 juta kiloliter merupakan solar yang berasal dari negara lain atau impor.

“Awalnya kita itu masih impor kurang lebih sekitar 3 sampai 4 juta kiloliter per tahun. Dengan implementasi B50, maka alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor produk solar ke negara kita. Dan ini adalah pertama kali, Bapak,” ujarnya.

Untuk mendukung transisi implementasi, badan usaha BBM diberikan masa transisi hingga 30 September 2026 untuk menghabiskan stok biodiesel dengan spesifikasi pencampuran B40. Menteri ESDM juga akan melakukan evaluasi pelaksanaan B50 secara berkala setiap tiga bulan.

Implementasi B50 diperkirakan memberikan dampak ekonomi dan lingkungan yang signifikan. Pada 2025, program B40 menghemat devisa sebesar Rp133,3 triliun, dan melalui Mandatori B50 pada 2026 diperkirakan meningkat menjadi sekitar Rp170 triliun.

Selain itu, B50 diperkirakan meningkatkan nilai tambah CPO dari Rp20,92 triliun menjadi sekitar Rp23,49 triliun, menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja, serta menurunkan emisi gas rumah kaca hingga sekitar 44,46 juta ton CO2 pada 2026

Belajar dari Brazil

Pengalaman Brasil menunjukkan bahwa biofuel bukan sekadar instrumen pengurangan emisi, melainkan juga instrumen stabilisasi ekonomi. Negara tersebut mewajibkan pencampuran 30% bioetanol ke dalam bensin, didukung oleh produksi tebu terbesar di dunia. Kebijakan itu membuat ketergantungan Brasil terhadap bensin berbasis minyak mentah jauh lebih rendah dibandingkan banyak negara lainnya.

Hasilnya terlihat jelas ketika harga minyak dunia melonjak akibat konflik geopolitik. Harga bensin di Brasil hanya sempat naik sekitar 8% dibandingkan sebelum krisis. Sebaliknya, harga bensin di Amerika Serikat melonjak hingga sekitar 60%, sementara rata-rata kenaikan di negara-negara Uni Eropa mencapai sekitar 18%.

Keunggulan Brasil tidak berhenti di situ. Mayoritas kendaraan baru di negara tersebut merupakan flex-fuel vehicle, yang memungkinkan pengemudi memilih menggunakan bioetanol murni atau bensin campuran etanol sesuai harga yang paling ekonomis. Saat harga bensin melonjak, masyarakat memiliki alternatif yang lebih murah sehingga tekanan terhadap daya beli dapat ditekan.

Keberhasilan tersebut lahir dari strategi jangka panjang yang mengintegrasikan kebijakan energi, pertanian, dan industri. Produksi tebu dan jagung yang tetap tinggi memastikan pasokan bioetanol tetap melimpah ketika pasar minyak global bergejolak, sehingga inflasi energi dapat dikendalikan.

Indonesia kini mulai menempuh jalur yang serupa, meski melalui komoditas yang berbeda. Jika Brasil mengandalkan tebu untuk menghasilkan bioetanol, Indonesia memanfaatkan kelapa sawit melalui program biodiesel yang kini memasuki tahap B50, yaitu pencampuran 50% biodiesel berbasis minyak sawit ke dalam solar.

Dengan status Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, implementasi B50 berpotensi memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekadar mengurangi impor BBM. Ketika harga minyak dunia melonjak akibat konflik geopolitik maupun gangguan pasokan, konsumsi biodiesel domestik dapat mengurangi eksposur Indonesia terhadap fluktuasi harga minyak internasional.

Artinya, apabila implementasi B50 berjalan konsisten dan diikuti peningkatan kapasitas produksi biodiesel, Indonesia berpeluang memperoleh manfaat yang selama ini dinikmati Brasil: ketahanan energi yang lebih kuat, tekanan inflasi yang lebih rendah, serta perlindungan terhadap daya beli masyarakat saat harga minyak dunia bergejolak.

Peresmian B50 hari ini karena itu bukan hanya menjadi tonggak baru bagi hilirisasi sawit nasional. Lebih dari itu, kebijakan tersebut dapat menjadi awal transformasi menuju sistem energi yang lebih tangguh, sebuah strategi yang telah membuktikan efektivitasnya di Brasil dalam menghadapi krisis energi global.

Jika dijalankan secara konsisten, Indonesia berpeluang mengikuti jejak negara Amerika Selatan tersebut: menjadikan biofuel bukan sekadar bahan bakar alternatif, melainkan tameng ekonomi ketika dunia kembali menghadapi guncangan harga energi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.