Pertamina Genjot Bioenergi Sawit demi Kurangi Ketergantungan Impor BBM

AKURAT.CO PT Pertamina (Persero) melakukan optimalisasi pemanfaatan kelapa sawit beserta produk turunannya untuk menekan angka impor Bahan Bakar Minyak (BBM) guna memperkuat ketahanan energi nasional.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza menyatakan bahwa bioenergi berbasis sawit merupakan solusi nyata dan terukur untuk menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan energi domestik yang saat ini masih ditopang oleh impor minyak mentah dan produk BBM.
"Jawabannya ada di depan mata kita. Dengan sumber daya CPO (Crude Palm Oil) dan Tandan Kosong Sawit, kita harus mampu mengubahnya menjadi energi," kata Oki, Rabu (22/7/2026).
Lebih lanjut, Oki mengatakan, tiga potensi utama bioenergi dalam menjaga ketahanan energi nasional. Pertama, ketersediaan biomassa domestik yang sangat melimpah.
Baca Juga: Pertamina Drilling Rampungkan Sumur JAS-034, Produksi Awal Tembus 326 BOPD
Kedua, perannya yang krusial dalam mendukung ketahanan energi sekaligus mempercepat dekarbonisasi di sektor transportasi. Ketiga, bioenergi mampu menggerakkan roda ekonomi sirkular yang berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Pertamina tidak bisa berjalan sendiri dalam transisi energi ini. Skema yang harus dibangun adalah memperkuat seluruh ekosistem biofuel, mulai dari penyediaan bahan baku, pengembangan teknologi di kilang, hingga distribusi ke masyarakat,” ujarnya.
Langkah konkret tersebut telah diwujudkan melalui implementasi program biodiesel B50, yang saat ini mengukuhkan Indonesia sebagai negara dengan penggunaan biodiesel terbesar di dunia. Jaringan distribusinya pun telah masif, menjangkau 86 dari 121 Terminal BBM milik Pertamina di seluruh Indonesia.
Di sisi lain, untuk menekan impor bensin, Pertamina juga tengah membangun fasilitas pengembangan bioetanol di Glenmore dengan kapasitas 30 ribu kiloliter per tahun. Langkah ini dilakukan guna mengejar target pencampuran E10 sesuai peta jalan (roadmap) Pemerintah.
Di samping CPO, Pertamina mulai melirik potensi besar yang belum tergarap maksimal, yaitu Tandan Kosong Sawit (TKS). Dengan potensi volume mencapai sekitar 25 juta ton per tahun, TKS dinilai memiliki nilai tambah strategis untuk diolah menjadi bioetanol.
"Tantangan kita sekarang ada di hilirisasi. Bagaimana TKS ini bisa kita pecah menjadi glukosa lalu menjadi bioetanol. Kalau inisiatif ini berhasil, maka tidak ada lagi limbah yang sia-sia," jelas Oki.
Saat ini, Pertamina tengah mendukung pembangunan Dedicated Green Refinery di Cilacap. Sebelumnya, perusahaan juga telah mengaplikasikan teknologi coprocessing secara komersial di Kilang Cilacap, dan tengah melakukan tahap uji coba untuk Kilang Balongan serta Dumai.
Baca Juga: Update Harga BBM Pertamina Hari Ini 21 Juli 2026, Cek Tarif Pertalite hingga Pertamax Terbaru!
Oki menegaskan bahwa transisi menuju kemandirian energi memerlukan ekosistem yang solid, mulai dari penyediaan bahan baku, pengembangan teknologi di kilang, hingga distribusi hilir.
"Ini semua membutuhkan kerja sama. Tidak bisa hanya mengandalkan industri, namun harus ada sinergi antara Pemerintah, perbankan, akademisi, dan masyarakat. Tujuannya satu, mewujudkan kemandirian energi dan mengurangi beban devisa negara," tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








