Hilirisasi Bauksit Jadi Pijakan Pengembangan Mineral Strategis Indonesia

AKURAT.CO Indonesia terus memperkuat hilirisasi bauksit sebagai bagian dari transformasi sumber daya mineral menjadi fondasi industri nasional yang bernilai tambah.
Seiring berkembangnya hilirisasi, tantangannya tidak lagi hanya meningkatkan produksi, tetapi juga membangun ekosistem industri yang terintegrasi, menjaga rantai pasok, serta mengoptimalkan potensi dari setiap proses pengolahan mineral.
Penguatan rantai pasok tersebut tercermin melalui pelepasan ekspor 3.013,5 ton Alumina Hydroxide dan 1.740 ton Alumina Oxide atau Chemical Grade Alumina (CGA) dari Pelabuhan Dwikora, Pontianak, Kalimantan Barat, menuju Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan China.
Baca Juga: Distribusikan Rp180 Triliun, MIND ID Dorong Kemakmuran Ekonomi Daerah
Momentum ini menunjukkan produk bernilai tambah dari hilirisasi bauksit Indonesia mampu menjangkau pasar global.
Bagi MIND ID, hilirisasi tidak berhenti pada produk utama. Berkembangnya proses pengolahan mineral juga membuka peluang mengoptimalkan mineral ikutan dan produk samping untuk menciptakan nilai ekonomi baru.
Peluang tersebut menjadi relevan bagi pengembangan Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements (REE), yang potensinya dapat ditemukan pada mineral alami maupun sumber non-konvensional, termasuk residu bauksit, terak nikel, dan produk samping pengolahan timah.
Wakil Direktur Utama MIND ID, Dany Amrul Ichdan mengatakan pengembangan LTJ membutuhkan kepastian regulasi, terutama karena sejumlah unsur LTJ hadir sebagai unsur ikutan dalam kadar sangat rendah.
Ia berharap terdapat ambang batas kandungan yang jelas dan proporsional untuk membedakan LTJ sebagai mineral utama dan unsur ikutan dalam komoditas ekspor.
Kepastian tersebut penting karena keberadaan LTJ dalam kadar rendah tidak serta-merta menjadikan suatu komoditas layak diekstraksi sebagai produk LTJ. Unsur seperti serium dan lantanum, misalnya, dapat ditemukan hingga satuan part per million (ppm).
“Jika Indonesia mampu memisahkan LTJ dari mineral ikutannya secara ekonomis dan efisien, sesungguhnya Indonesia sudah menjadi negara pengolah LTJ,” ujar Dany.
Untuk membangun kemampuan tersebut, MIND ID bersama Badan Industri Mineral (BIM) dan didukung BRIN tengah menyusun roadmap teknologi pengolahan dan pemurnian LTJ nasional, termasuk pemetaan sumber bahan baku dan teknologi yang dibutuhkan.
Pengembangan LTJ menjadi strategis karena dibutuhkan berbagai industri masa depan, mulai dari kendaraan listrik, energi terbarukan, elektronik, hingga manufaktur berteknologi tinggi.
“MIND ID terus membuka ruang kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kemandirian industri nasional sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia,” tukas Dany.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026






