Indonesia Raja Nikel Dunia, tetapi 97 Persen Listrik untuk Pengolahannya Masih dari Batu Bara

AKURAT.CO Indonesia sedang menikmati posisi strategis dalam industri nikel global. Negara ini menguasai sekitar 60% produksi nikel dunia dan terus mendorong hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut.
Nikel juga menjadi bagian penting dari rantai pasok baterai dan kendaraan listrik. Ironisnya, di balik ambisi tersebut terdapat persoalan energi yang tidak bisa diabaikan: sekitar 97% listrik yang digunakan untuk pemrosesan nikel di Indonesia masih berasal dari captive coal power atau pembangkit listrik tenaga batu bara yang dibangun untuk memasok kebutuhan industri tertentu.
Kondisi tersebut menciptakan paradoks. Indonesia ingin mengambil posisi penting dalam ekonomi rendah karbon melalui nikel dan ekosistem kendaraan listrik, tetapi proses pengolahan bahan bakunya masih memiliki ketergantungan sangat tinggi terhadap energi fosil.
Persoalannya bukan semata-mata apakah Indonesia mampu menghasilkan lebih banyak nikel. Pertanyaan yang semakin penting adalah bagaimana nikel tersebut diproduksi dan apakah jejak karbonnya akan memengaruhi daya saing di pasar global.
Indonesia Kuasai 60% Produksi Nikel Dunia
Posisi Indonesia dalam industri nikel tidak lagi sekadar sebagai pemilik sumber daya mineral. Melalui kebijakan hilirisasi, Indonesia berupaya mengembangkan rantai pengolahan agar nilai ekonomi yang dihasilkan tidak berhenti pada ekspor bahan mentah.
Berdasarkan riset Bank DBS Indonesia berjudul The Sustainability Shift: Indonesia's Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks, Indonesia menguasai sekitar 60% produksi nikel dunia.
Posisi tersebut memberikan Indonesia keunggulan strategis ketika permintaan terhadap mineral yang berkaitan dengan transisi energi terus berkembang. Nikel dapat masuk ke berbagai rantai nilai, termasuk industri baterai dan kendaraan listrik.
Indonesia juga naik menjadi peringkat ke-13 produsen baja terbesar dunia pada 2025. Perkembangan ini menunjukkan bahwa industri logam nasional bergerak semakin jauh dari sekadar kegiatan ekstraksi menuju pengolahan dan manufaktur bernilai tambah.
Namun, semakin besar peran Indonesia dalam rantai pasok global, semakin besar pula tuntutan terhadap cara produksi.
Dominasi produksi memberikan keunggulan dari sisi volume. Tantangan berikutnya adalah memastikan volume tersebut tetap kompetitif ketika pasar mulai memperhitungkan faktor lain seperti intensitas karbon, ketertelusuran, dan praktik produksi yang bertanggung jawab.
Paradoks Industri Nikel Indonesia: Bahan Baku Ekonomi Hijau, tetapi Diproses dengan Batu Bara
Di sinilah persoalan terbesar industri nikel Indonesia muncul.
Nikel menjadi bagian dari rantai pasok teknologi yang mendukung transisi energi. Kendaraan listrik, misalnya, membutuhkan ekosistem baterai yang melibatkan berbagai mineral dan material.
Namun, proses menghasilkan material tersebut juga membutuhkan energi dalam jumlah besar.
Riset Bank DBS Indonesia mencatat sekitar 97% listrik untuk pemrosesan nikel masih berasal dari captive coal power.
Data ini penting karena memperlihatkan bahwa keberlanjutan sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh fungsi akhirnya.
Sebuah material dapat digunakan untuk produk yang mendukung elektrifikasi, tetapi proses produksinya tetap menghasilkan persoalan lingkungan jika energi yang digunakan memiliki intensitas karbon tinggi.
Dengan kata lain, produk akhir dapat menjadi bagian dari ekonomi hijau, sementara proses pembuatannya belum tentu rendah karbon.
Paradoks tersebut akan semakin relevan ketika produsen kendaraan listrik dan baterai global mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap asal-usul material yang mereka gunakan.
Mengapa 97% Listrik dari Batu Bara Menjadi Persoalan?
Ketergantungan tersebut tidak otomatis berarti industri nikel Indonesia tidak memiliki masa depan. Justru persoalannya terletak pada perubahan standar persaingan.
Pada fase awal hilirisasi, pertanyaan utamanya adalah bagaimana Indonesia dapat meningkatkan produksi dan mengolah nikel di dalam negeri.
Ketika industri sudah berkembang, pertanyaan berikutnya bergeser menjadi bagaimana mempertahankan daya saing produk Indonesia di tengah perubahan standar pasar global.
Salah satu faktor yang semakin penting adalah carbon performance.
Jika pembeli global mulai mempertimbangkan emisi yang muncul sepanjang rantai pasok, maka produk nikel dengan karakteristik teknis yang serupa tidak selalu memiliki nilai strategis yang sama.
Produk yang dihasilkan dengan intensitas karbon lebih rendah berpotensi memperoleh diferensiasi dibandingkan produk yang proses produksinya menghasilkan emisi lebih tinggi.
Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Tbk Budiawansyah mengatakan perhatian terhadap kinerja karbon akan semakin memengaruhi daya saing produk nikel.
“Seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap carbon performance, produk nikel dengan intensitas karbon yang lebih rendah berpotensi memiliki diferensiasi nilai di pasar global. Pemanfaatan energi terbarukan, penguatan ketertelusuran, dan praktik pertambangan yang bertanggung jawab akan semakin penting dalam mempertahankan daya saing dan akses Indonesia ke pasar global serta rantai pasok baterai,” kata Budiawansyah melalui hasil riset DBS Indonesia yang diterima AKURAT.CO, dikutip Kamis, 20 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dekarbonisasi tidak semata-mata menjadi agenda lingkungan. Bagi industri nikel, pengurangan emisi dapat berkembang menjadi strategi mempertahankan akses pasar.
Dari Mengejar Volume Produksi ke Mengejar Nikel Rendah Karbon
Perubahan ini membuat industri nikel Indonesia berpotensi memasuki fase persaingan baru.
Pada tahap pertama, keunggulan Indonesia berasal dari sumber daya dan kapasitas produksi.
Tahap berikutnya adalah hilirisasi. Indonesia berusaha mengubah keunggulan sumber daya menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Tahap selanjutnya dapat menjadi persaingan berdasarkan kualitas rantai pasok, termasuk intensitas karbon.
Artinya, ukuran keberhasilan industri nikel tidak lagi cukup dilihat dari berapa juta ton yang mampu diproduksi.
Ada pertanyaan lain yang semakin relevan:
Berapa besar emisi yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk tersebut?
Pertanyaan tersebut dapat memengaruhi keputusan pembeli, investor, lembaga keuangan, hingga perusahaan yang menggunakan nikel sebagai bagian dari produk akhirnya.
Karena itu, posisi sebagai produsen terbesar belum tentu secara otomatis menjamin keunggulan jangka panjang.
Dominasi volume harus diikuti kemampuan beradaptasi terhadap standar pasar.
EU CBAM dan Battery Regulation Membuat Jejak Karbon Semakin Penting
Perubahan tersebut juga terjadi ketika standar perdagangan dan rantai pasok global semakin memperhatikan aspek lingkungan.
Dalam riset Bank DBS Indonesia, standar seperti EU Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) dan Battery Regulation disebut sebagai bagian dari faktor yang perlu diperhatikan oleh industri logam dan pertambangan.
Bagi Indonesia, perkembangan tersebut relevan karena industri nikel semakin terhubung dengan pasar global.
Ketika standar keberlanjutan semakin ketat, kemampuan menunjukkan asal-usul material dan kinerja karbon dapat menjadi bagian dari daya saing.
Hal tersebut tidak berarti setiap produk nikel Indonesia otomatis akan kehilangan akses pasar karena menggunakan energi berbasis batu bara. Narasi yang lebih tepat adalah bahwa ketergantungan energi fosil dapat menjadi salah satu risiko yang perlu dikelola ketika tuntutan terhadap kinerja karbon semakin tinggi.
Perubahan standar global pada akhirnya dapat memengaruhi cara perusahaan menentukan investasi.
Proyek yang hari ini terlihat ekonomis berdasarkan biaya produksi saja dapat menghadapi pertimbangan tambahan di masa depan jika pembeli dan investor semakin memasukkan faktor karbon dalam keputusan mereka.
Nikel Rendah Karbon Bisa Menjadi Sumber Nilai Baru
Paradoks tersebut juga membuka peluang.
Jika intensitas karbon menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan pasar, perusahaan yang mampu menghasilkan nikel dengan jejak karbon lebih rendah dapat memiliki ruang untuk membangun diferensiasi.
Peluang tersebut dapat muncul melalui beberapa jalur:
peningkatan penggunaan energi terbarukan;
pengurangan ketergantungan terhadap listrik berbasis batu bara;
penguatan ketertelusuran rantai pasok;
praktik pertambangan yang lebih bertanggung jawab;
pengembangan produk logam rendah karbon;
pengembangan komponen baterai;
sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau BESS;
daur ulang material.
Artinya, dekarbonisasi tidak harus dipandang hanya sebagai tambahan biaya.
Dalam kondisi tertentu, investasi untuk menurunkan emisi dapat menjadi bagian dari strategi menciptakan nilai baru.
Perubahan cara pandang tersebut penting karena industri nikel Indonesia memiliki skala yang sangat besar. Sedikit perubahan dalam intensitas karbon pada proses produksi dapat memiliki dampak signifikan terhadap keseluruhan rantai pasok.
Baca Juga: Ini Cara Kemenperin Integrasikan IKM ke Rantai Pasok Kendaraan Listrik
Baca Juga: Usai Gempa M7,7, PLN Pulihkan Seluruh Sistem Kelistrikan Flores
Simulasi: Ketika Dua Produk Nikel Tidak Lagi Bersaing Hanya dari Harga
Bayangkan dua produsen menghasilkan produk nikel dengan spesifikasi teknis yang relatif sama.
Produsen A menggunakan listrik yang sebagian besar berasal dari batu bara. Produsen B menggunakan porsi energi terbarukan yang lebih tinggi sehingga intensitas karbon produksinya lebih rendah.
Dalam kondisi ketika pembeli hanya mempertimbangkan harga, perbedaan tersebut mungkin tidak terlalu menentukan.
Situasinya berubah ketika perusahaan pembeli memiliki target pengurangan emisi dan harus mengetahui jejak karbon rantai pasoknya.
Produk B kemudian memiliki atribut tambahan: intensitas karbon yang lebih rendah.
Simulasi ini bukan transaksi nyata, tetapi menggambarkan bagaimana standar keberlanjutan dapat mengubah cara sebuah komoditas dinilai.
Harga, kualitas, dan volume tetap penting. Namun, ketiganya dapat semakin dilengkapi dengan pertanyaan mengenai bagaimana produk tersebut dihasilkan.
Inilah alasan carbon performance berpotensi menjadi faktor kompetitif baru bagi industri nikel Indonesia.
Hilirisasi Nikel Tidak Cukup, Indonesia Perlu Mengejar Nilai Tambah yang Lebih Bersih
Riset Bank DBS Indonesia melihat peluang value creation berikutnya tidak berhenti pada peningkatan skala produksi.
Peluang dapat bergerak lebih jauh ke hilir, termasuk komponen baterai, BESS, daur ulang, dan produk logam rendah karbon.
Perubahan tersebut penting karena nilai ekonomi yang lebih besar tidak selalu berasal dari produksi mineral dalam volume besar.
Nilai juga dapat muncul dari kemampuan mengolah material menjadi produk dengan teknologi lebih tinggi, memiliki ketertelusuran, serta memenuhi tuntutan pasar.
Bagi Indonesia, kombinasi antara hilirisasi dan dekarbonisasi menjadi semakin strategis.
Hilirisasi tanpa memperhatikan perubahan standar global berisiko membuat industri kuat dari sisi volume, tetapi menghadapi tantangan pada sisi akses pasar.
Sebaliknya, dekarbonisasi tanpa pengembangan nilai tambah juga berpotensi membuat Indonesia hanya menjadi pemasok material dengan nilai ekonomi yang terbatas.
Tantangannya adalah mengerjakan keduanya secara bersamaan.
Mengapa Pembiayaan Menjadi Penting bagi Transisi Industri Nikel?
Perubahan tersebut membutuhkan modal.
Penggunaan energi yang lebih bersih, peningkatan efisiensi, pembangunan infrastruktur pendukung, hingga pengembangan teknologi baru membutuhkan investasi yang tidak kecil.
Namun, peluang keberlanjutan tidak otomatis membuat suatu proyek layak dibiayai.
Riset Bank DBS Indonesia menekankan pentingnya kesiapan proyek, profil risiko, kepastian arus kas, serta kompleksitas struktur pembiayaan.
Dalam konteks industri nikel, hal ini berarti transisi rendah karbon perlu diterjemahkan ke dalam proyek yang memiliki model bisnis jelas.
Bank DBS Indonesia turut mendukung transaksi sustainability-linked loan senilai Rp13,5 triliun kepada Vale Indonesia melalui perannya sebagai facility agent. Fasilitas tersebut dikaitkan dengan target penurunan intensitas emisi karbon dan peningkatan penggunaan energi terbarukan.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa pembiayaan dapat diarahkan bukan hanya untuk meningkatkan kapasitas bisnis, tetapi juga menghubungkan pembiayaan dengan target keberlanjutan yang terukur.
Peran lembaga keuangan pada akhirnya dapat berkembang dari sekadar penyedia modal menjadi bagian dari proses transformasi bisnis.
Siapa yang Akan Menentukan Masa Depan Industri Nikel Indonesia?
Perubahan industri nikel tidak hanya menjadi urusan perusahaan tambang dan smelter.
Pemerintah memiliki peran melalui kebijakan hilirisasi, energi, investasi, dan kepastian regulasi.
Perusahaan perlu menentukan teknologi dan strategi energi yang dapat menjaga daya saing.
Investor dan perbankan perlu memperhitungkan risiko transisi dalam keputusan pembiayaan.
Sementara itu, produsen baterai dan kendaraan listrik global akan semakin memiliki kepentingan terhadap kualitas rantai pasok material yang mereka gunakan.
Posisi Indonesia sebagai penguasa produksi nikel memberikan modal awal yang sangat kuat.
Namun, modal tersebut harus diikuti kemampuan beradaptasi.
Indonesia sudah memenangkan persaingan dalam volume. Pertarungan berikutnya adalah memenangkan persaingan dalam nilai tambah dan kinerja karbon.
Masa Depan Raja Nikel Indonesia Tidak Hanya Ditentukan oleh Produksi
Indonesia memiliki keunggulan yang sulit diabaikan dalam industri nikel global. Dengan sekitar 60% produksi dunia, Indonesia berada di posisi yang sangat strategis dalam rantai pasok mineral.
Hilirisasi semakin memperkuat posisi tersebut dengan membuka peluang penciptaan nilai di dalam negeri.
Namun, angka 97% penggunaan listrik berbasis captive coal power memperlihatkan bahwa perjalanan tersebut belum selesai.
Ketika pasar global semakin memperhatikan carbon performance, ketertelusuran, dan praktik produksi yang bertanggung jawab, cara Indonesia menghasilkan nikel dapat menjadi sama pentingnya dengan jumlah nikel yang diproduksi.
Di sinilah paradoks industri nikel Indonesia berubah menjadi tantangan sekaligus peluang.
Indonesia tidak hanya perlu mempertahankan status sebagai raja produksi nikel dunia, tetapi juga perlu membangun kemampuan untuk menghasilkan nikel yang semakin kompetitif dari sisi nilai tambah dan jejak karbon.
Seperti disampaikan Head of Research PT Bank DBS Indonesia William Simadiputra, strategi bisnis masa depan perlu menggabungkan penciptaan nilai, ketahanan, dan keberlanjutan.
“Bagi kami, temuan riset ini menegaskan bahwa strategi yang akan memenangkan persaingan ke depan adalah yang mampu memadukan penciptaan nilai, ketahanan, dan keberlanjutan sekaligus, bukan memilih salah satu di antaranya,” kata William.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bagi industri nikel Indonesia bukan lagi sekadar seberapa banyak nikel yang bisa diproduksi.
Pertanyaannya adalah seberapa bernilai, seberapa kompetitif, dan seberapa rendah karbon produk tersebut ketika memasuki rantai pasok global.
Baca Juga: Ekosistem Motor Listrik Mampu Tekan Subsidi BBM Hingga Rp82,2 Triliun
FAQ
Berapa persen produksi nikel dunia dikuasai Indonesia?
Indonesia menguasai sekitar 60% produksi nikel dunia berdasarkan riset Bank DBS Indonesia. Posisi tersebut menjadikan Indonesia salah satu pemain paling dominan dalam rantai pasok nikel global dan memberi peluang besar untuk mengembangkan hilirisasi mineral.
Mengapa Indonesia disebut sebagai raja nikel dunia?
Indonesia disebut sebagai raja nikel dunia karena memiliki porsi sekitar 60% dari produksi nikel global. Keunggulan tersebut kemudian dikembangkan melalui hilirisasi agar nikel tidak hanya diekspor sebagai komoditas, tetapi dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Berapa persen listrik untuk pengolahan nikel Indonesia berasal dari batu bara?
Sekitar 97% listrik yang digunakan untuk pemrosesan nikel masih berasal dari captive coal power. Kondisi ini menjadi tantangan karena intensitas karbon semakin diperhatikan dalam rantai pasok industri global.
Mengapa penggunaan batu bara menjadi persoalan bagi industri nikel?
Penggunaan batu bara dapat meningkatkan intensitas karbon dalam proses pengolahan nikel. Ketika pembeli dan rantai pasok global semakin memperhatikan carbon performance, jejak emisi dari proses produksi dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi daya saing dan akses pasar.
Apakah nikel Indonesia dapat menjadi lebih rendah karbon?
Nikel Indonesia berpotensi memiliki intensitas karbon yang lebih rendah melalui peningkatan penggunaan energi terbarukan, penguatan ketertelusuran, praktik pertambangan yang bertanggung jawab, serta pengembangan produk logam rendah karbon. Transisi tersebut membutuhkan investasi, teknologi, dan proyek yang layak secara komersial.
Apa hubungan nikel dengan industri kendaraan listrik?
Nikel menjadi bagian dari rantai pasok material yang digunakan dalam ekosistem baterai dan kendaraan listrik. Karena itu, meningkatnya perhatian terhadap jejak karbon kendaraan listrik juga dapat mendorong perhatian lebih besar terhadap emisi yang dihasilkan sepanjang rantai pasok bahan bakunya.
Apa peluang bisnis masa depan industri nikel Indonesia?
Peluang industri nikel tidak hanya berada pada peningkatan produksi. Rantai nilai dapat berkembang menuju komponen baterai, BESS, daur ulang, serta produk logam rendah karbon. Kemampuan meningkatkan nilai tambah sekaligus menekan intensitas karbon dapat menjadi sumber diferensiasi bagi industri Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 20 Agustus 2026: Watak Weton Kamis Wage Punya Cita-Cita Tinggi
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Drone Buatan Inggris Dipakai Ukraina, Rusia Mengancam: Semakin Terlibat, Semakin Tinggi Harga yang Harus Dibayar!
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 810 Merek Tertua di Indonesia yang Masih Bertahan, Ada yang Berusia 144 Tahun
- 9Kabar Baik, Guru PPPK Penuh Waktu Bisa Ikut Seleksi CPNS Mulai 2027
- 10Mampukah Pramono Anung Tuntaskan PR yang Tertinggal di Jakarta?








