Akurat
Pemprov Sumsel

Kolaborasi Frontman Humania dan Pemenang Grammy Garap Album Reggae dalam Negeri

Annisa Fadhilah | 6 Juli 2024, 13:16 WIB
Kolaborasi Frontman Humania dan Pemenang Grammy Garap Album Reggae dalam Negeri

AKURAT.CO Pergerakan musik reggae di Indonesia bakal kembali menggeliat. Hal ini ditandai dengan hadirnya Island Vibes, sebuah album yang melibatkan sejumlah jagoan reggae Tanah Air, di antaranya Coconuttreez (CTTZ), Ricard D Gillis, S2B Family, dan beberapa lainnya.

Bukan hanya album, Island Vibes juga siap didengungkan di 10 kota yang tersebar di Jawa, Bali, dan Lombok melalui tur konser bertajuk Island Vibes Reggae Party sepanjang 3 Juli-3 Agustus 2024.

Baca Juga: Profile SURE, Band Reggae yang Bakal Meriahkan AKURAT Artikulasi Festival!

Island Vibes menjadi album reggae yang cukup unik. Pasalnya, di balik dapurnya, turut terdapat nama Eki Puradiredja atau yang dikenal Eki Humania yang bertindak sebagai produser.

Kiprah Eki Humania di industri musik

Eki atau EQ Humania bukanlah nama baru di belantika musik Tanah Air. Musisi 54 tahun ini sudah terjun di industri musik sejak lebih dari 4 dekade yang lalu.

Bapak tiga anak ini mengaku sudah bermain musik sejak masih kecil atau ketika duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar (SD). Saat SMA, Eki pun menjadi seorang drummer untuk band di sekolahnya.

"Gue SMA di Hong Kong, gue sekolah di SIHK. Karena muridnya sedikit, kekurangan pemain drum, akhirnya gua jadi pemain drum di band SMA. Itu berlangsung sampai gua pulang ke Indonesia," ujar Eki Humania saat berjumpa di Arooma Herloom Serviced Residence BSD, Kabupaten Tangerang, Rabu (3/7/2024).

Semasa SMA, Eki juga sempat bermain band bersama rapper kondang, Iwa K atau sekitar 1987-1988. "Ya, sama Iwa K dan Black, namanya Ian tapi kita panggilnya Black, dia juga rapper. Oh iya, sama Otti Jamalus pemain piano jazz, dia pemain keyboard di zaman SMA," jelasnya.

Setelah kembali ke Tanah Air, Eki juga sempat bermain band bersama kakak-kakaknya di Universitas Jayabaya, serta teman-teman di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dia pun menambahkan jika sejak kecil dirinya kerap nongkrong di IKJ, bahkan sempat daftar kuliah di IKJ meski akhirnya dia harus kuliah di Institut Bisnis Indonesia (IBI).

Sekitar tahun 1988 atau semasa kuliah, pria kelahiran 19 Agustus 1969 ini pernah melihat salah satu stasiun televisi nasional yang terus menerus menayangkan video musik. Dari situ, Eki merasa tertarik untuk belajar membuat video klip dan film, sehingga dia memutuskan untuk menimba ilmu di Sydney, Australia.

"Di sana, saya mulai ketemu Jamie Aditya, Heru Singgih partner gue, di situ kita mulai bikin-bikin lagu sampai akhirnya jadi bikin album. Saat itu namanya bukan Humania, namanya pakai Eki dan Heru. Kita bikin album, terus kita bawa ke Indonesia, Humania lahir di tahun 1994," beber Eki.

"Kita memang berangkat bukan dari sebuah band ya, tapi kita berangkat dari kita mau memroduksi karya. Jadi kita sebagai produser dari awal. Humania itu bukan duo band, tapi duo produser sih," ucapnya.

"Saat itu, orang-orang masih bingung, 'Maksudnya gimana, kalian kan duo, kalau manggung nanti gimana,' lah kan kita ada band, pastinya kita pakai band. Cuman format kita ini agak beda dari yang ada, sebenernya kita produser. Jadi di Humania kita itu selama 10 tahun tuh lumayan membingungkan, kita pengin sebagai produser, tapi masyarakat, industri mengharapkannya sebagai band," lanjut dia.

Baca Juga: 176 Daftar Lagu Bob Marley, Penyanyi Reggae Terkenal di Dunia yang Dijadikan Film Biografi

Mulai fokus di balik layar

Pasca Humania menelurkan album ketiga, Interaksi (2000), Eki memutuskan break sejenak, lantaran ingin fokus berada di belakang layar sebagai produser, salah satunya terlibat dalam produksi album milik Maliq & D'Essentials.

"Yang pertama itu 1999, kita produksi Ermy Kullit, album Ermy Kulit bareng Indra Lesmana dengan label kita Swara Bumi. Habis gitu album Humania, Interaksi, tahun 2000 rilis. Kemudian, album Indra Lesmana, Reborn pada 2001, habis itu Andin, dan kemudian baru gue produce Maliq & D'Essentials tahun 2004 rilisnya," terang Eki.

Selain itu, ujarnya, dia juga bergabung bersama Java Festival Production untuk mengorganisasi event Java Jazz, Soulnation, dan Rockin'Land. "Jadi setelah tahun 2000 itu gue mau fokus di belakang layar. Mau mengukuhkan memang passion gue di produksi sebagai produser."

Eki merasa tidak ada masalah menjadi seorang vokalis dan frontman di Humania, namun pada dasarnya dia lebih ke producing albumnya, bikin lagu serta aransemennya. Kemudian, mengemas konsepnya mulai dari konsep kreatif, produksi, hingga marketing, sebagai producing. Kesemuanya itu dilakukan terhadap seluruh album Humania.

"Begitu juga dengan festival, bagaimana mendesain konsep kreatif dari sebuah event, sebuah festival, terus gimana konsep produksi seperti apa, konsep marketing dan promosinya bagaimana. Basicly as producer, berpikir sebagai produser dengan konseptual, itu yang menjadi my real passion," katanya.

"Setelah 20 tahun saya berada di belakang layar memroduksi album, nah sekarang gua ada Island Vibes sebagai produser," tambah musisi yang kerap mengenakan kacamata hitam tersebut.

Awal keterlibatan di Island Vibes

Dengan segudang pengalamannya di industri musik sejak akhirnya 1980-an, Eki pun menerima tawaran untuk menggarap album reggae, Island Vibes. Tentunya, ini bukan keputusan yang mudah bagi Eki Puradiredja, karena dia belum pernah memroduksi album reggae.

"Awalnya saya dihubungi sama tim Riverbrick untuk memroduksi album reggae. Bandnya apa? band Coconuttreez gitu. Begitu awalnya. Nah, buat gue ini seru nih, karena belum pernah memroduksi band reggae," ujarnya.

"Orang itu kenalnya gue produser band jazz, funk, new soul kayak Maliq. Dan gue bikin festival, ada festival jazz, festival soulnation, dan juga ada rock sebenernya. Di rock festivalnya ini band-band reggae juga kita mainin kan," sambung Eki.

Dengan terlibat di album Island Vibes, Eki tertantang untuk ikut memberikan peran dalam album tersebut.

Sebagai langkah pertama, dia pun melakukan pertemuan dengan anggota CCTZ di rumahnya di Bogor sekitar awal 2023. Dia mencoba menyelami lebih dalam apa saja yang hendak dituju masing-masing personel CTTZ, baik itu karya yang bakal dihadirkan, hingga kelanjutan masa depan CTTZ.

"Menarik banget, karena lucunya gue baru realize (menyadari) bahwa almarhum Steven (Steven & The Coconuttreez) pernah bawain lagu Humania yang Terserah kan di tahun 2017-2018. Jadi memang kayak clue-nya sudah ada, petunjuknya udah ada gitu. Dari almarhum membawakan lagu gue, abis gitu tiba-tiba gua produce, setelah beliau meninggal saya diminta untuk mem-produce album band dia. Jadi gua sambut dengan baik sekali sih tawaran dan tantangan ini, karena menurut saya bisa seru," jelas Eki.

Sebelum memasuki proses penggarapan album Island Vibes, Eki bersama para personel CTTZ terlebih dahulu menyatukan visi dan misi mereka.

"Apakah mereka mau mainin musik yang kayak gini terus, atau mereka mau evolve (berkembang) atau ada sesuatu yang baru. Dan jawaban dari mereka mau evolve," ucap Eki.

"Dengan sudah lebih dari 20 tahun bermusik, lu mau mainin musik yang sama terus atau lu mau bikin musik yang beda. Maksudnya beda dalam arti upgrade atau evolve, dan mereka semua jawabannya itu," sambungnya.

Personel CCTZ, kata dia, memiliki pandangannya masing-masing, seperti Teguh Wicaksono alias Tege (gitaris) ingin ada unsur rocknya di reggae. Lalu, sang bassis Rival Himran (Pallo) sangat terbuka dengan segala macam genre musik. Dari hal tersebut, Eki menilai jika musik pada dasarnya genreless.

"Musisi dalam menciptakan lagu, kita tidak berpikir genre, tapi kita berpikir, 'Ini lagu enaknya diapain ya, di-reegae-in enak nih, atau di bagian ini agak nge-rock enak nih, atau ini ballads emang lagunya agak romantis nih.' Jadi setiap lagu mempunyai kebutuhan masing-masing," terang Eki.

Menurutnya, seorang produser, tantangannya adalah harus mampu memroduksi musik dan album apa saja menjadi keren. "Keren dalam artian balance, secara komersialnya dapat, secara idealismenya dapet, respeknya juga dapet dari industri, 'albumnya bagus nih dan enak.' Itu yang jadi challenge," ungkapnya.

Di balik proses penggarapan album Island Vibes

Album Island Vibes diketahui dikerjakan di Gili Trawangan, Nusa Tenggara Barat, selama 18 bulan. Terdapat cukup banyak cerita menarik di balik proses pengerjaan album tersebut.

Bukan hanya menyulap ruang rapat sebuah resort menjadi sebuah studio rekaman, namun terdapat juga detail-detail lain yang enggan untuk dilewatkan. Bagaimana suasana pantai yang begitu menenangkan dihadirkan dalam karya di album Island Vibes.

"Kita kirim orang khusus audiografer untuk merekam suara ombak, suara angin, suara cidomo, hingga suara api unggun di di Gili. Itu semua untuk efek di album, di mana album Island Vibes ini begitu orang dengar seperti merasakan ada di Gili. Jadi vibes yang mau kita maksud Islan Vibes ini orang bisa bukan dengar tapi berasa suasana seperti di sana," beber Eki.

"Pas lagu Medley ada suara api unggun, karena memang kita lagi api unggun. Terus sebelum mulai lagu nanti ada suara ombak, ombak Gili beda kan ama ombak Bali. Ombak Bali kan menggelegar, sedangkan ombak Gili lembut, peaceful, itu yang kita coba capture semuanya. Kalau gue bahasanya tuh dari kemarin capturing the moment, dari ngumpul-ngumpulnya itu kita capture semuanya," sambungnya.

Lebih lanjut, dia menyebutkan jika momen tersebut diabadikan, baik audio maupun visual, yang nantinya akan membuahkan album, konten, video klip atau video lirik, film dokumenter, dan tur.

"Untuk project ini sudah kita siapkan dari awal, karena kita mau boyong ke Gili Trawangan, tentunya biayanya sangat besar kan, jadi kita harus bikin efektif," tegas dia.

Island Vibes dan reggae movement di Indonesia

Dengan melibatkan banyak musisi reggae dalam negeri, album Island Vibes diharapkan bisa menjadi kebangkitan pergerakan musik reggae Tanah Air.

"Reggae itu dari komunitas kecil terus growing sampai di semua pelosok Indonesia dan dunia. Kelompok kecil tapi strong, minoritas tapi kuat. Nah, ini yang coba kita terjemahkan ke dalam sebuah karya dan sebuah album bahwa ini bukan sekadar musik, tapi terdapat cerita apa di baliknya," ungkap Eki.

Island Vibes pun dihadirkan sebagai upaya untuk memberikan penghargaan tertinggi tehadap para pionir musik reggae di Indonesia, nama-nama yang dari dulu sudah memerjuangkan dan mengenalkan reggae di Tanah Air.

"Kita melakukan tur di 10 kota di Indonesia ini untuk menyapa kembali semua komunitas-komunitas reggae, jadi its a movement. Jadi bener tadi yang dibilang kalau dari mereka (CTTZ dkk), mudah-mudahan album ini, project ini bisa jadi trigger atau titik awal untuk kebangkitan pergerakan musik reggae di Indonesia. Dan mereka juga bilang project ini, musik di album ini meng-upgrade musik reggae di Indonesia," terang Eki.

Lagu takkan abis dan mimpi Grammy

Sebagaimana album musik pada umumnya, Island Vibes juga memiliki lagu jagoan yang dijadikan single, yakni Takkan Abis. Lagu yang lahir dari bahan yang simpel dan mentah ini dibuat dalam 2 versi, yakni Indonesia dan internasional.

"Takkan Abis dibuat memiliki versi berbahasa Inggris, lantaran high expectation dari Riverbrick. Di Indonesia kalau bisa masuk nominasi Anugerah Musik Indonesia (AMI), syukur-syukur bisa menang. Yang luar kalau bisa masuk nominasi Grammy. Woww... karena itulah gua mikir satu versi Indonesia, satu versi luar, ya satu west indies, satu east indies," papar Eki.

Ya, memerlihatkan keseriusannya dalam menggapai mimpi tersebut, pihak Riverbrick pun menggaet seorang Grammy Awards Producer Reggae dari Jamaika, yakni Andre Ennis alias DreDay.

"Ketika udah jadi demonya, kita kirim ke dia. Dia langsung oke, dan akhirnya terjadilah kerja sama itu. Target ini tidak ambisius dan takabur, cuman kita berusaha," ucap Eki.

"Nah, kita tadi mau coba meng-upgrade, ini bukan bahasa saya ya, dari mereka menyebut reggae 'naik kelas,' dan why not, kenapa enggak. Kita bukan maksudnya mau begitu cuman kalau jadinya begitu kan bagus. Bahwa reggae itu bukan hanya untuk kalangan bawah saja loh tapi bisa ke mana-mana. Nah, lagu Takkan Abis itu merepresent ke situ," katanya lagi.

Dia pun berharap lagu yang mengandeng Kamga Mo sebagai vokalis ini bisa nge-grab pasar yang belum terjangkau musik reggae.

Menariknya, single Takkan Abis ini mulanya berasal dari "Akan Abis."

Oleh karena terdengar agak negatif, akhirnya berubah menjadi Takkan Abis. Menurutnya, judul lagu merupakan doa, sehingga hal-hal positif perlu untuk dikedepankan.

"Seperti penggalan lirik 'Ibuku bilang harus jadi orang baik,' itu memang sesuatu yang positif. Terus 'Bandel sedikit boleh asal tau diri,' kemudian 'Banyak juga yang senyum ramah, banyak yang maling juga.' Hal-hal kayak gitu, jadi ada pesan moralnya. itu juga bagian movement ini, moral movement," tutup Eki.

Sementara itu, tur Island Vibes Reaggae Party tahap pertama akan menyinggahi 10 kota, yakni Tangerang (3/7/2024), Jakarta (5/7/2024), Bandung (10/7/2024), Purwokerto (13/7/2024), Yogyakarta (17/7/2024), Semarang (20/7/2024), Malang (24/7/2024), Banyuwangi (27/7/2024), Bali (31/7/2024), dan Lombok (3/8/2024). Informasi selengkapnya bisa diikuti melalui akun Instagram @islandvibes.music.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.