Akurat
Pemprov Sumsel

IdeaFest Koalisi dengan Ekonomi Membumi Dorong Inovasi untuk Masa Depan Pangan

Erizky Bagus | 30 September 2024, 18:15 WIB
IdeaFest Koalisi dengan Ekonomi Membumi Dorong Inovasi untuk Masa Depan Pangan

AKURAT.CO Gelaran IdeaFest yang terlaksana selama tiga hari yakni Jumat (27/9/2024) hingga Minggu (29/9/2024) berhasil menjadi perhatian masyarakat yang menghabiskan waktu akhir pekan di Jakarta Convention Center, Jakarta.

Berbagai macam kolaborasi juga dilakukan yakni salah satunya Koalisi Ekonomi Membumi yang berkolaborasi dengan IdeaFest untuk mengadakan acara inovatif bertajuk Sustainable Plates: Where Local Food Meets Tech, Finance, and Emissions.

Baca Juga: Dua Teknologi Paling Inovatif yang akan Mengguncang IdeaFest 2018

Panel diskusi ini menghadirkan para pemimpin dan pakar, termasuk Insan Syafaat - Executive Director PISAgro, Nurdana Pratiwi - Enterprise Development Officer EcoNusa, Cindi Shandoval - CEO Pinaloka, Saniy Priscila - Chairperson Pratisara Bumi Foundation (PBF), Rama Manusama - Managing Partner Katalyst Partner, Reihan Adilla - CEO Agrilabs.id, Vivi Laksana - Investment Director Equatora Capital, Sarah Azzahra - Product Specialist Jejakin, dan Fakhri Syahrullah - Partnership & Impact Delivery Lead Jejakin.

Dalam diskusi ini, para narasumber membahas bagaimana Indonesia, dengan keanekaragaman hayati dan sumber daya alam yang melimpah dapat menjadi kunci dalam membangun sistem pangan berkelanjutan.

"Saat ini kita berlomba dengan deforestasi dan degradasi lahan yang terus terjadi, karenanya kita butuh teknologi pertanian yang mutakhir & sumber daya manusia yang handal untuk meningkatkan produktivitas lahan dengan metode ramah iklim. Untuk itu, perlu ada kolaborasi agar tercipta dukungan pendanaan & insentif pasar inovatif sebagai motivasi.” ungkap Rama Manusama dari Katalys Partner, baru-baru ini.

Sejalan dengan Rama, Vivi dari Equatora Capitals juga menyampaikan pertumbuhan minat investor di sektor pertanian sayangnya tidak secepat sektor teknologi lainnya.

“Untuk itu pendekatan blended finance-antara sektor dan swasta membantu mengurangi resiko investor dan membuka akses pembiayaan lebih luas - terutama untuk sektor basis lahan seperti pengembangan hilirisasi komoditas," kata Vivi.

Saniy dari Pratisara Bumi Foundation menyebutkan bahwa petani lokal sebetulnya sangat memahami metode, jenis tanaman dan teknologi yang diwariskan turun temurun.

"Tetapi beberapa jenis teknologi modern malah menimbulkan dampak negatif seperti traktor yang mengurangi kemampuan tanah menyerap air," ujar Saniy.

Untuk mengatasi hal tersebut Adilla dari Agrilabs mengatakan jika pihaknya menerapkan pendekatan teknologi iklim dengan algoritma khusus.

“Kami menerapkan pendekatan teknologi iklim dengan algoritma khusus yang dapat mengoptimalkan parameter-parameter produksi dari pupuk hingga potensi panen," jelasnya.

Di luar itu, menurut Kementerian Pertanian, sektor pertanian Indonesia berkontribusi sekitar 7-10% dari total emisi gas rumah kaca nasional yang mempercepat perubahan iklim dan mempengaruhi produksi pangan.

Emisi dari suplai makanan berasal dari proses di hulu seperti alih fungsi lahan, pertanian dan peternakan serta hilir seperti proses pengolahan, transport, retail dan pengemasan.

Baca Juga: IdeaFest 2018, Panggung bagi Para Startup Berbakat Tanah Air

Jejakin, sebagai Carbon Management Platform turut menerangkan cara melacak dan mengurangi jejak karbon di seluruh rantai pasok pangan kepada seluruh peserta.

Pemantauan ini sangat penting untuk bisnis pangan dalam pengambilan keputusan yang lebih ramah lingkungan dan mendorong adopsi teknologi rendah emisi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
Reporter
Erizky Bagus
R