Film Dukun Magang, Komedi Horor Segar: Benturan Akal Sehat dan Tradisi Jadi Nyawa Cerita

AKURAT.CO, Rumah produksi Dens Vision Multimedia memperkenalkan film horor-komedi terbaru bertajuk “Dukun Magang,” diproduseri oleh Denny Januar dengan Ki Semar RBS sebagai penggagas ide cerita. Film ini menggabungkan ketegangan horor lokal dengan komedi bernapas coming-of-age, menghadirkan kisah tentang pertemuan logika modern dan kearifan tradisional yang dibungkus dengan gaya ringan dan menghibur.
Cerita berpusat pada Raka (Jefan Nathanio), mahasiswa rasional yang hanya ingin menyelesaikan skripsi.
Namun rencananya berantakan ketika dia harus pulang ke Desa Kalimati bersama Sekar (Hana Saraswati), pewaris tradisi keluarganya.
Baca Juga: Film Pembantaian Dukun Santet Diangkat dari Kisah Nyata? Ini 5 Fakta Menarik dan Jadwal Tayang
Kesalahan kecil membuat Kuntilanak Hitam yang telah terkurung selama 12 tahun kembali bebas. Demi menebus blundernya, Raka terpaksa “magang” pada dukun karismatik Mbah Djambrong (Adi Sudirja), menjalani ritual unik dari topo patigeni, meracik kurungan ayam belang telon, hingga berburu tali pocong perawan, menjadi perjalanan penuh teror sekaligus tawa.
Ki Semar RBS menjelaskan bahwa gagasannya lahir dari kegelisahan melihat generasi muda yang kian menjauh dari tradisi. "Banyak anak muda menganggap tradisi tidak relevan hanya karena mereka hidup di era modern. Lewat benturan Raka dan Mbah Djambrong, saya ingin menunjukkan bahwa akal sehat dan ilmu warisan justru bisa berdialog,” ungkapnya, Minggu (23/11/2025).
Sutradara film ini menegaskan bahwa konflik tersebut menjadi fondasi utama penceritaan.
Raka mewakili logika kampus yang rasional, sementara Mbah Djambrong adalah simbol pengetahuan lokal yang kaya nilai, misteri, sekaligus humor alami. Film ini menampilkan dua dunia visual yang berbeda: kampus yang terang dan bersih, berhadapan dengan desa yang remang, pekat dupa, dan bernuansa tanah.
Perbedaan komposisi gambar antara ruang modern yang simetris dan dunia dukun yang organik sengaja diperkuat untuk menggambarkan benturan dua perspektif tersebut.
Duo sahabat Boiman dan Fajar menjadi pemecah ketegangan di saat-saat paling mencekam.
Sang sutradara memastikan bahwa humor dalam film tetap organik. "Horornya tetap harus mencekam. Komedinya muncul dari reaksi manusiawi ketika karakter mencoba bersikap serius tapi gagal. Ritme editing dan blocking jadi alat komedi,” jelasnya.
Dia mencontohkan momen ayam jago yang berkokok setiap kali Mbah Djambrong hendak menyampaikan sesuatu yang penting, atau timing ketakutan Boiman yang selalu meleset.
Jefan mengaku perannya sebagai Raka memaksanya membuka sudut pandang baru. "Aku tipe yang sangat logis dan enggak percaya hal non-rasional. Tapi sebagai Raka, aku harus mempelajari bagaimana orang yang pernah mengalami hal mistis merespons,” ujarnya.
Salah satu adegan yang membuatnya tercengang adalah ritual masuk ke dalam sangkar ayam. "Bingung banget awalnya. Tapi karena ini horor komedi, semuanya masih masuk akal kok,” katanya sambil tertawa. Film ini memanfaatkan kekayaan budaya lokal dalam set-piece mistis, musik, dan desain produksinya.
Tokoh-tokoh komedi seperti Mo Sidik, Mang Osa, Norma Cinta, Salsabila, hingga Dodit Mulyanto dalam penampilan spesial, menambah warna tanpa menghilangkan intensitas horor.
Film “Dukun Magang” juga menyuguhkan adegan post-credit yang mengisyaratkan dunia gaib lebih luas dari yang terlihat. “Petunjuknya sudah ditanam sejak awal. Jadi ketika kejutan muncul, penonton merasa itu wajar dan bukan sekadar gimmick,” terang sutradara.
Dengan sentuhan humor, ketegangan, dan pesan tentang pentingnya berdamai dengan tradisi, “Dukun Magang” menjadi sajian horor-komedi Indonesia yang tidak hanya menghibur, tetapi juga relevan dengan generasi masa kini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









