Akurat Logo

Membingkai Asa Perempuan Muara Angke, Pameran 'Suara dari Muara' Digelar di Museum Bahari

Nuzulul Karamah | 5 Juli 2026, 15:32 WIB
Membingkai Asa Perempuan Muara Angke, Pameran 'Suara dari Muara' Digelar di Museum Bahari
Membingkai Asa Perempuan Muara Angke, Pameran 'Suara dari Muara' Resmi Digelar di Museum Bahari. Cr: Istimewa

AKURAT.CO Wajah pesisir Jakarta kerap kali luput dari pandangan masyarakat urban.

Bergerak dari kegelisahan tersebut, Museum Bahari berkolaborasi dengan berbagai elemen menghadirkan pameran seni multidimensi bertajuk "Suara dari Muara."

​Eksibisi yang menyoroti kisah, perjuangan, dan asa para perempuan dari Muara Angke ini akan berlangsung sepanjang bulan ini, mulai 4 hingga 31 Juli 2026.

Baca Juga: Pemprov Jakarta Perluas Kolam Labuh Pelabuhan Muara Angke, Daya Tampung hingga 600 Kapal

Melalui lensa kamera yang dipegang langsung oleh para perempuan pesisir, publik diajak menyelami kembali hubungan mendalam antara Jakarta dan lautnya.

​Pameran ini bukan sekadar pajangan visual biasa. "Suara dari Muara" merupakan buah kolaborasi apik antara Georgetown University School of Foreign Service in Asia-Pacific (GSAP), Museum Bahari, Yayasan Riset Visual Mata Waktu, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dan Climate Reality Indonesia.

​Keunikan pameran ini terletak pada penggunaan metode Photovoice.

Sebanyak 20 perempuan hebat dari Muara Angke dibekali kamera untuk mendokumentasikan sudut pandang personal mereka.

Mulai dari riuhnya kampung nelayan, peluh keringat menopang ekonomi keluarga, hingga mimpi-mimpi besar mereka terhadap masa depan pesisir Jakarta.

​Kurator "Suara dari Muara" dari Yayasan Riset Visual mataWaktu, Gunawan Widjaja, menilai metode ini berhasil memunculkan ruang ekspresi yang sangat jujur bagi komunitas setempat.

​"Ketika masyarakat diberikan ruang untuk merekam dan menceritakan kehidupannya sendiri, yang lahir bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan pengalaman yang mampu membangun empati. Suara dari Muara mengajak kita mendengar cerita langsung dari mereka yang menjalaninya setiap hari," tutur Gunawan Widjaja, Minggu (5)7/2026).

Baca Juga: Ini Daftar Lengkap Koleksi Bersejarah Museum Bahari yang Terbakar

​Sebagai ruang pamer, Museum Bahari menilai agenda ini menjadi momen penting kembalinya narasi pesisir ke tempat yang tepat.

Pameran ini mempertegas bahwa sejarah maritim Jakarta bukan cuma soal masa lalu, melainkan tentang manusia yang hidup di dalamnya hari ini.

​Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta, Misari, menyampaikan antusiasmenya terhadap pameran yang menghidupkan kembali denyut sejarah ini.

​"Museum Bahari ingin menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat dengan cerita-cerita yang hidup di sekitar pesisir Jakarta. Melalui Suara dari Muara, kami mengajak pengunjung untuk datang, mendengar, dan memahami pengalaman perempuan Muara Angke sebagai bagian dari warisan maritim yang terus hidup hingga hari ini," ujar Misari.

​Tak hanya jepretan foto sarat makna, pengunjung juga disuguhi instalasi seni memukau karya dosen IKJ.

Menggunakan material daur ulang berupa cangkang kerang hijau asli dari Muara Angke, instalasi ini merefleksikan daya kreasi sekaligus hubungan ekologis warga dengan alam sekitar.

Konteks lingkungan ini kian dipertegas lewat dokumentasi visual dari Climate Reality Indonesia.

​Kemeriahan pameran ini diawali dengan konsep pembukaan yang tidak biasa, yakni lewat "Pesta Rakyat."

Halaman Museum Bahari disulap menyerupai kampung pesisir lengkap dengan jajanan tradisional, unjuk bakat seni, dan ruang interaksi hangat antara warga Muara Angke dan masyarakat urban Jakarta.

​Prof. Elle Wibisono selaku Technical Director and Research Fellow at the Blue Lab (Georgetown SFS Asia Pacific) mengaku terharu dengan dedikasi para ibu yang terlibat sejak awal proyek bergulir.

​"Pesta Rakyat ini bukan hanya selebrasi pembukaan pameran, tapi juga perayaan dari dan untuk masyarakat pesisir Jakarta yang sudah terlalu lama suaranya tidak didengar. Ketika kami mulai merancang proyek ini, kami tidak tahu sama sekali seperti apa hasilnya. Namun, para ibu-ibu Muara Angke yg telah menunjukkan kegigihan dan semangat yang luar biasa. Hari ini merupakan hari mereka," ungkap Prof. Elle.

​Bagi warga Muara Angke sendiri, pameran ini menjadi medium bersuara yang sangat berharga. Harapan besar dititipkan agar masyarakat luas bisa memahami realitas kehidupan mereka di balik sepiring hidangan laut yang dinikmati setiap hari.

​“Kami berharap melalui karya-karya ini, masyarakat dapat melihat kehidupan kami apa adanya. Di balik hasil laut yang mereka nikmati setiap hari, ada perjuangan, ketidakpastian, dan kerja keras yang sering kali tidak terlihat. Kami ingin suara dan pengalaman kami juga didengar," harap Ibu Nurweni, salah satu peserta pameran sekaligus Ketua LMK (Lembaga Musyawarah Kelurahan).

​Bagi Anda yang ingin merasakan langsung kedalaman cerita, perspektif baru, dan instalasi seni estetik khas pesisir, pameran "Suara dari Muara" sudah bisa dikunjungi di Museum Bahari. Agenda ini menjadi pengingat puitis bahwa identitas Jakarta tak akan pernah bisa dilepaskan dari gemuruh ombak dan ketangguhan masyarakat pesisirnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.