Persiapan 6G Sudah Dimulai, Layanan Komersial Diperkirakan Hadir pada 2030

AKURAT.CO Saat sebagian besar masyarakat Indonesia masih mengandalkan jaringan 4G dan adopsi 5G belum merata, industri telekomunikasi global ternyata sudah mulai mempersiapkan generasi jaringan berikutnya. Teknologi 6G yang selama ini terdengar seperti masa depan yang jauh, kini mulai memasuki tahap pengembangan dan standardisasi.
Pertanyaannya, mengapa dunia sudah berbicara tentang 6G ketika banyak negara, termasuk Indonesia, masih berada dalam tahap awal pengembangan 5G?
Menurut laporan terbaru Ericsson Mobility Report Juni 2026, layanan komersial 6G diperkirakan mulai hadir sekitar tahun 2030. Standardisasi teknologi tersebut bahkan diproyeksikan selesai pada akhir 2028 atau awal 2029.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa industri telekomunikasi global sedang mempersiapkan fondasi infrastruktur untuk era kecerdasan buatan (AI), perangkat wearable pintar, kendaraan otonom, dan berbagai layanan digital yang membutuhkan kapasitas jaringan jauh lebih besar dibanding saat ini.
Kapan 6G Hadir?
Jawaban singkatnya:
Standardisasi awal 6G diperkirakan selesai pada 2028–2029.
Peluncuran layanan komersial pertama diproyeksikan mulai 2030.
Negara-negara maju diperkirakan menjadi pengguna awal sebelum adopsi meluas ke berbagai kawasan dunia.
Teknologi ini akan mengintegrasikan AI secara lebih mendalam ke dalam jaringan telekomunikasi.
Mengapa Dunia Sudah Mulai Menyiapkan 6G?
Bagi sebagian orang, pembahasan mengenai 6G mungkin terdengar terlalu dini. Namun di industri telekomunikasi, proses pengembangan generasi jaringan baru memang membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Dalam media briefing Ericsson di Jakarta, Stanislaus Bawono, Head of Network Solutions Ericsson South East Asia, menjelaskan bahwa proses standardisasi 6G sudah mulai dibangun saat ini.
"Di sisi lain, ada satu poin penting yaitu standardisasi 6G yang saat ini sedang mulai dibangun. Layanan komersial pertama untuk 6G diperkirakan baru akan muncul pada tahun 2030," ujar Stanislaus dalam media briefing di Jakarta, Selasa, 23 Juni 2026.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan 6G bukan dilakukan karena 5G gagal atau sudah usang. Sebaliknya, industri sedang mempersiapkan kebutuhan digital yang diperkirakan muncul pada dekade berikutnya.
Sejarah menunjukkan bahwa setiap generasi jaringan membutuhkan waktu sekitar satu dekade untuk berkembang. Ketika 4G masih tumbuh, industri mulai mengembangkan 5G. Kini, saat 5G masih terus diperluas, riset dan standardisasi 6G mulai dipersiapkan.
Baca Juga: Apa Saja Dampak 5G? Dari Internet Super Cepat hingga Isu Kesehatan
Baca Juga: Mengenal Kelebihan dan Kekurangan 5G, Dicap Internet Ngebut Tapi Sinyal Belum Merata
Apa yang Akan Membedakan 6G dari 5G?
Banyak orang menganggap setiap generasi jaringan hanya menawarkan kecepatan internet yang lebih tinggi. Padahal, perbedaannya jauh lebih kompleks.
Berdasarkan Ericsson Mobility Report Juni 2026, teknologi 6G diharapkan menghadirkan:
Integrasi AI yang lebih mendalam dalam jaringan.
Konektivitas yang lebih mulus antara jaringan terestrial dan satelit.
Efisiensi energi yang lebih tinggi.
Kapasitas jaringan yang lebih besar.
Respons jaringan yang semakin cepat.
Jika 5G berfokus pada peningkatan kapasitas dan latensi rendah, maka 6G diproyeksikan menjadi fondasi bagi ekosistem digital yang sepenuhnya terkoneksi.
Artinya, bukan hanya smartphone yang terhubung ke internet. Kacamata pintar, kendaraan otonom, drone, sensor industri, perangkat kesehatan, hingga asisten AI pribadi akan beroperasi secara simultan dalam satu ekosistem.
Mengapa AI Menjadi Alasan Utama Kelahiran 6G?
Salah satu temuan paling menarik dalam Ericsson Mobility Report adalah perubahan pola lalu lintas data global.
Selama bertahun-tahun, operator telekomunikasi lebih fokus mengelola trafik unduhan atau downlink karena mayoritas pengguna mengonsumsi video, media sosial, dan konten digital.
Namun kondisi tersebut mulai berubah.
Menurut Ericsson, trafik uplink atau unggahan kini tumbuh lebih cepat dibandingkan downlink pada banyak operator telekomunikasi dunia.
Stanislaus menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan perkembangan AI.
"Saat ini, kita masih berada di fase awal pengadopsian AI pada jaringan seluler. Ke depannya teknologi AI akan tertanam langsung pada perangkat pakai seperti smart glasses maupun smart watch," katanya.
Perubahan ini penting karena perangkat berbasis AI tidak hanya menerima data, tetapi juga terus mengirimkan data ke cloud untuk diproses.
Sebagai contoh, ketika seseorang menggunakan kacamata pintar yang mampu mengenali lingkungan sekitar secara real-time, perangkat tersebut akan terus memindai gambar, lokasi, objek, dan aktivitas pengguna. Seluruh data itu harus dikirim ke pusat data untuk diproses oleh sistem AI.
Aktivitas tersebut menghasilkan kebutuhan uplink yang jauh lebih besar dibanding penggunaan smartphone saat ini.
Ericsson bahkan memodelkan skenario di mana tambahan trafik akibat AI dapat membuat trafik uplink meningkat hingga tiga kali lipat pada 2031 dibandingkan 2025.
Simulasi Kehidupan Tahun 2030: Mengapa Jaringan Saat Ini Mungkin Tidak Lagi Cukup?
Bayangkan kehidupan sehari-hari pada tahun 2030.
Seseorang berangkat kerja menggunakan kendaraan semi-otonom. Ia mengenakan kacamata pintar yang menerjemahkan percakapan secara real-time. Di saat bersamaan, jam tangan pintar terus memantau kondisi kesehatan dan mengirim data ke layanan kesehatan digital.
Sepanjang perjalanan, asisten AI pribadi memberikan rekomendasi rute, merangkum email, hingga membantu menyusun agenda rapat.
Semua perangkat tersebut tidak hanya mengunduh informasi, tetapi juga mengirimkan data secara terus-menerus.
Dalam skenario seperti ini, kebutuhan jaringan tidak lagi sekadar soal kecepatan internet. Yang lebih penting adalah kapasitas, latensi, efisiensi energi, dan kemampuan mengelola miliaran koneksi secara bersamaan.
Inilah alasan mengapa industri mulai memikirkan 6G sejak sekarang.
Apakah Indonesia Siap Menyambut 6G?
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana posisi Indonesia dalam perkembangan tersebut.
Menurut paparan Ericsson, penetrasi pelanggan 5G di kawasan Asia Tenggara dan Oseania baru mencapai sekitar 14 persen pada akhir 2025. Sebagian besar pelanggan masih menggunakan jaringan LTE atau 4G.
Indonesia sendiri masih berada dalam tahap awal pengembangan 5G.
Stanislaus mengakui bahwa penggelaran 5G di Indonesia masih memanfaatkan spektrum yang tersedia saat ini, sementara spektrum baru akan hadir melalui proses lelang pada masa mendatang.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan Indonesia bukan hanya mempersiapkan 6G, tetapi juga memastikan fondasi 5G berkembang secara optimal.
Di sisi lain, Indonesia memiliki peluang besar karena kebutuhan konektivitas terus meningkat. Dengan populasi besar, pertumbuhan ekonomi digital yang pesat, serta adopsi AI yang mulai meluas, permintaan terhadap infrastruktur telekomunikasi akan terus bertambah.
Tantangan Indonesia Bukan Sekadar Mengejar 6G
Ada satu paradoks menarik dalam perlombaan teknologi telekomunikasi.
Ketika dunia mulai berbicara tentang 6G, sebagian masyarakat Indonesia bahkan masih menghadapi tantangan kualitas jaringan 4G di berbagai wilayah.
Karena itu, keberhasilan Indonesia di era 6G tidak akan ditentukan oleh seberapa cepat negara ini mengadopsi teknologi tersebut. Yang jauh lebih penting adalah seberapa kuat fondasi digital yang dibangun hari ini.
Jika pembangunan infrastruktur, ketersediaan spektrum, dan ekosistem digital berkembang secara konsisten, Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan manfaat ekonomi dari 6G ketika teknologi tersebut mulai matang.
Sebaliknya, jika pengembangan 5G berjalan lambat, kesenjangan digital berpotensi semakin melebar ketika dunia memasuki era jaringan generasi berikutnya.
Mengapa Perkembangan 6G Penting untuk Diperhatikan?
Perkembangan 6G bukan sekadar kabar tentang internet yang lebih cepat.
Teknologi ini mencerminkan arah transformasi digital global yang semakin bergantung pada AI, komputasi awan, perangkat pintar, dan konektivitas tanpa batas.
Keputusan yang dibuat industri telekomunikasi hari ini akan menentukan bagaimana masyarakat bekerja, belajar, berkomunikasi, dan berbisnis pada dekade berikutnya.
Karena itu, meskipun layanan komersial 6G diperkirakan baru hadir sekitar 2030, persiapannya sesungguhnya sudah dimulai sekarang.
Baca Juga: 5G di Indonesia: Teknologi yang Datang Terlalu Cepat atau Ekosistem yang Terlalu Lambat?
Baca Juga: Internet Rakyat Rp100 Ribu Jadi Senjata Baru WIFI Rebut Pasar Broadband Nasional
FAQ
Apa itu 6G?
6G adalah generasi keenam teknologi jaringan seluler yang sedang dikembangkan untuk menggantikan 5G. Teknologi ini diproyeksikan menawarkan kapasitas lebih besar, integrasi AI yang lebih mendalam, serta konektivitas yang lebih luas antara jaringan terestrial dan satelit.
Kapan 6G mulai digunakan?
Menurut Ericsson Mobility Report Juni 2026, layanan komersial pertama 6G diperkirakan mulai hadir sekitar tahun 2030 setelah proses standardisasi selesai pada 2028–2029.
Apa perbedaan 5G dan 6G?
Perbedaan utama bukan hanya pada kecepatan. 6G dirancang untuk mendukung AI native network, konektivitas satelit yang lebih baik, efisiensi energi lebih tinggi, dan kebutuhan perangkat pintar yang jauh lebih kompleks.
Apakah Indonesia sudah memiliki jaringan 6G?
Belum. Saat ini Indonesia masih berada dalam tahap pengembangan dan perluasan jaringan 5G. Teknologi 6G sendiri masih dalam proses standardisasi global.
Mengapa dunia mulai mengembangkan 6G sekarang?
Karena pengembangan standar telekomunikasi membutuhkan waktu bertahun-tahun. Industri juga sedang mengantisipasi kebutuhan masa depan yang dipicu AI, kendaraan pintar, wearable device, dan ledakan trafik data.
Bagaimana AI memengaruhi perkembangan 6G?
AI diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan lalu lintas data, terutama trafik unggahan atau uplink. Perangkat AI masa depan akan terus mengirim dan menerima data secara real-time sehingga membutuhkan jaringan yang lebih canggih dibanding saat ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026




