Rahasia di Balik Carok, Tradisi Turun-temurun Masyarakat Madura

AKURAT.CO Masyarakat Madura terkenal dengan budaya yang unik, khas, dan stigmatik, dan stereotipikal. Hal ini terlihat dari budaya Carok yang berkaitan erat dengan masyarakat madura.
Bahkan, terdapat ungkapan khusus yang disematkan kepada budaya Carok yaitu "Obatnya Malu Adalah Mati. Dalam bahasa Madura, Carok diartikan sebagai bertarung.
Umumnya, Carok dilakukan dengan menggunakan senjata tajam seperti celurit. Ritual ini menjadi cara untuk memulihkan harga diri ketika seseorang dihina atau direndahkan karena suatu alasan tertentu.
Baru-baru ini, seorang warga di Desa Bumi Anyar, Tanjung Bumi, Bangkalan telah dijadikan tersangka dalam kasus kematian empat orang. Kejadian ini disebut sebagai insiden Carok.
Terlepas dari kasus tersebut, berikut adalah gambaran singkat tentang Carok, mencakup aspek sejarahnya dan pandangan masyarakat Madura terhadap budaya Carok.
Baca Juga: Inilah Tata Cara dan Sejarah Carok, Berawal dari Pemberontakan Masyarakat Madura ke VOC Belanda pada Abad 18 M
1. Asal Mula Carok di Madura
Bagi masyarakat madura, menjaga harga diri dianggap penting dan tidak boleh disepelekan. Bahkan, timbul rasa malo (malu) apabila harga diri seseorang itu diinjak-injak.
Rasa malu ini muncul karena seseorang merasa tada' ajina (tidak memiliki harga). Jika situasinya semakin rumit, hal itu dapat berujung pada Carok.
Keunikan Carok terletak pada prosesnya karena sebelum terjadi Carok terdapat sidang keluarga yang berguna untuk membahas rencana Carok hingga pasca-Carok.
Dari perspektif sosial, masyarakat Madura umumnya mendukung tradisi Carok. Bahkan, seringkali mereka menilai bahwa individu yang tidak memberikan balasan terhadap penghinaan terhadap harga dirinya dianggap sebagai orang yang penakut.
Ungkapan Madura "Tambanan Malo, Mati" yang berarti "Obatnya Malu Adalah Mati" sangat berkaitan dengan budaya yang satu ini.
2. Kasus yang Berujung Carok
Salah satu Kasus yang potensial memicu Carok dapat terjadi ketika ada gangguan yang ditujukan kepada istri dan anak perempuan. Jika suami tidak menerima pelecehan tersebut, kemungkinan besar ia akan merencanakan tindakan Carok untuk melawan pelaku gangguan.
Pasangan dan anak perempuan dianggap sebagai simbol martabat seorang laki-laki atau suami yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Terdapat istilah lain yang menggambarkan pentingnya hal ini, yaitu Bhantalla Pate atau Landasan Kematian.
Selain itu, masih banyak contoh kasus lain yang bisa berujung Carok.
Carok sebagai satu-satunya cara yang dianggap oleh masyarakat Madura sebagai cara untuk mempertahankan harga diri, tidak dapat dipahami sedemikian rupa dengan masyarakat lain di luar Madura.
Baca Juga: Terungkap! Ini Sosok Pelaku Carok Maut di Bangkalan, Ternyata Kakak Beradik
3. Praktik Carok di Madura
Kini Carok mengalami banyak perubahan dalam pelaksanaannya. Banyak orang yang tidak bertanggung jawab ketika terlibat Carok tanpa adanya alasan yang kuat.
Hal ini tentunya menciptakan persepsi yang berbeda di luar masyarakat Madura. Bahkan, mereka melihat Carok hanya sebagai alternatif untuk mengekspresikan kemarahan melalui tindakan kekerasan.
Sementara itu, menyimpan baju bekas atau senjata yang berlumuran darah ketika pertarungan Carok menjadi bukti yang disimpan oleh pelaku Carok. Tujuannya adalah agar generasi berikutnya dapat terinspirasi oleh keteguhan orang tua mereka dalam menjaga kehormatan keluarga.
Ada juga yang menguburkan mayat yang kalah dalam Carok di dekat rumahnya, bukan di pemakaman umum.
4. Perspektif Masyarakat Madura Terhadap Tradisi Carok
Sebuah riset yang berjudul "Sikap Masyarakat Madura Terhadap Tradisi Carok: Studi Fenomenologi Nilai-Nilai Budaya Masyarakat Madura" yang ditulis oleh Rokhyanto dan Marsuki berusaha untuk menghimpun pandangan masyarakat Madura mengenai Carok.
Dari 180 responden yang terlibat, 75 persennya menyatakan bahwa mereka tidak merasa bangga atau senang dengan tradisi Carok. Sementara itu, 18,33 persen mengungkapkan bahwa mereka merasa bangga dan senang. Sisanya, yaitu 6,66 persen, menyatakan kebingungan atau ragu-ragu.
Dari hasil survei tersebut, mayoritas responden tidak setuju bahwa Carok merupakan bagian dari tradisi Madura. Alasan utamanya adalah mereka lebih memilih menyelesaikan konflik dengan cara yang bijaksana tanpa melibatkan kekerasan.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi Carok masih berlangsung di empat kabupaten di Pulau Madura, seperti Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Tetapi, jauh dari mewakili seluruh masyarakat Madura, tradisi ini cenderung bersifat lokal dan personal. Ini berarti bahwa tidak semua orang Madura terlibat dalam tradisi tersebut.
Baca Juga: Mengenal Carok Bangkalan, Tradisi Duel Sajam Khas Madura yang Melegenda
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









