HIPPI Serukan Keseimbangan Pariwisata: Jangan Hanya Kejar Wisatawan, Industri Harus Dilindungi

AKURAT.CO Pariwisata Indonesia secara kasat mata terlihat tumbuh positif. Proyeksi optimisme dan peningkatan jumlah wisatawan kerap disampaikan dalam berbagai forum resmi.
Namun, di balik angka-angka tersebut, terdapat realitas berbeda yang dirasakan pelaku usaha di lapangan.
Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) mengungkapkan bahwa banyak pelaku usaha, khususnya di sektor rekreasi, justru menghadapi tekanan yang semakin besar.
Saat ini, industri rekreasi mengalami penurunan kunjungan ke destinasi komersial, di tengah biaya operasional yang terus meningkat.
Kondisi tersebut membuat banyak pengusaha bertahan dengan margin keuntungan yang semakin tipis.
HIPPI menyoroti perubahan perilaku wisatawan. Meski jumlah kunjungan meningkat, pola pengeluaran justru cenderung menurun. Wisatawan kini lebih memilih aktivitas berbiaya rendah, bahkan gratis.
Bagi wisatawan, pola ini merupakan bentuk adaptasi. Namun bagi pelaku usaha, kondisi tersebut meningkatkan risiko usaha.
“Pengunjung ada, tetapi pengeluaran tidak. Ini jelas dirasakan pelaku usaha, meski tidak selalu tercermin dalam data makro,” ujar perwakilan HIPPI.
Baca Juga: Ronaldo Nazario: Stadionnya Indah dan Atmosfernya Menyenangkan, Semoga Bisa Kembali ke Sini
Pariwisata Bukan Sekadar Angka
HIPPI menilai keberhasilan pariwisata tidak bisa hanya diukur dari jumlah kunjungan. Yang lebih penting adalah siapa yang benar-benar merasakan manfaat dari pertumbuhan tersebut.
Di lapangan, pelaku usaha kecil dan menengah justru menghadapi tekanan paling besar.
Biaya usaha meningkat, persaingan semakin ketat, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Di sisi lain, pelaku usaha besar relatif lebih mampu bertahan.
Ketua Umum HIPPI, Erik Hidayat, menilai kebijakan pariwisata saat ini masih terlalu berfokus pada target angka, seperti jumlah kunjungan dan capaian promosi.
“Kami tidak mengatakan pertumbuhan tidak penting. Tetapi pertumbuhan tanpa keseimbangan justru akan memberi tekanan pada pelaku usaha di lapisan bawah,” ujarnya.
HIPPI menegaskan bahwa pariwisata merupakan sebuah ekosistem yang melibatkan banyak sektor, terutama ekonomi lokal. Industri rekreasi menjadi salah satu tulang punggung yang menopang aktivitas tersebut.
Di sekitar destinasi rekreasi, bergantung berbagai sektor seperti UMKM makanan, pedagang kecil, pekerja harian, hingga transportasi lokal.
Ketika sektor rekreasi melemah, dampaknya meluas ke berbagai lini. Namun hingga saat ini, HIPPI menilai belum banyak kebijakan yang secara khusus menyasar sektor ini, baik dalam bentuk insentif maupun stimulus.
Dorong Peralihan Fokus
HIPPI menilai Indonesia telah memiliki daya tarik pariwisata yang kuat. Karena itu, fokus kebijakan seharusnya tidak hanya pada promosi, tetapi juga perlindungan dan penguatan industri.
Baca Juga: Clash of Legends: Irfan Bachdim Dapat Hadiah Istimewa, Tukar Jersey dengan Rivaldo
Beberapa langkah yang dinilai penting antara lain:
Memberikan dukungan lebih besar bagi pengusaha lokal
Mendorong kebijakan yang selaras dengan daya beli masyarakat
Mengembangkan model pariwisata berbasis kualitas belanja, bukan sekadar jumlah kunjungan
Mewujudkan distribusi manfaat pariwisata yang lebih merata
Pariwisata selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi nasional, terutama bagi pelaku usaha kecil di daerah.
HIPPI berharap pemerintah tidak hanya melihat pertumbuhan dari sisi angka, tetapi juga memperhatikan kondisi nyata di lapangan.
“Jika pelaku usaha kuat, pariwisata akan ikut kuat. Namun jika pelaku usaha melemah, pertumbuhan yang terlihat hari ini bisa menjadi rapuh,” tutup Erik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









