Akurat
Pemprov Sumsel

7 Puisi Tentang Pahlawan Yang Penuh Makna dan Penuh Haru Karya Sastrawan Legendaris Indonesia

Ramadhan LQ | 7 November 2023, 22:15 WIB
7 Puisi Tentang Pahlawan Yang Penuh Makna dan Penuh Haru Karya Sastrawan Legendaris Indonesia

AKURAT.CO - Hari Pahlawan adalah momentum untuk mengenang jasa para pejuang bangsa.

Biasanya peringatan Hari Pahlawan dirayakan dengan lomba-lomba di sekolah. Salah satunya adalah lomba membaca puisi bertema pahlawan.

Dengan membaca puisi bertema pahlawan, kita menyadari betapa pelik dan sulitnya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Para sastrawan Indonesia banyak menuliskan puisi tentang Pahlawan yang penuh haru.

Berikut 7 puisi bertemakan pahlawan berikut ini bisa kamu bacakan saat lomba baca puisi, simak selengkapnya.

  1. Karawang Bekasi (Karya: Chairil Anwar)

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi

Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami

Terbayang kami maju dan mendegap hati?

 

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu

Kenang, kenanglah kami

 

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai,

belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

 

Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

 

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan,

Atau tidak untuk apa-apa

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang yang berkata

 

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskan jiwa kami

 

Menjaga Bung Karno

Menjaga Bung Hatta

Menjaga Bung Syahrir

 

Kami sekarang mayat

Berikan kami arti

 

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami

Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

 

2. Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang (Karya: W.S Rendra)

Tuhanku,

WajahMU membayang di kota terbakar

dan firmanMu terguris di atas ribuan

kuburan yang dangkal

 

Anak menangis kehilangan bapa

Tanah sepi kehilangan lelakinya

Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini

tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

 

Apabila malam turun nanti

sempurnalah sudah warna dosa

dan mesiu kembali lagi bicara

 

Waktu itu, Tuhanku,

perkenankan aku membunuh

perkenankan aku menusukkan sangkurku

 

Malam dan wajahku

adalah satu warna

Dosa dan nafasku

adalah satu udara

 

Tak ada lagi pilihan

kecuali menyadari

biarpun bersama penyesalan-

Apa yang bisa diucapkan

oleh bibirku yang terjajah?

 

Sementara kulihat kedua lenganMu yang capai

mendekap bumi yang mengkhianatiMu

 

Tuhanku

Erat-erat kugenggam senapanku

Perkenankan aku membunuh

Perkenankan aku menusukkan sangkurku 

3. Pahlawan Tak Dikenal (Karya: Toto Sudarto Bachtiar)

  1.  

    Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring

    Tetapi bukan tidur, sayang

    Sebuah lubang peluru bundar di dadanya

    Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

     

    Dia tidak ingat bilamana dia datang

    Kedua lengannya memeluk senapan

    Dia tidak tahu untuk siapa dia datang

    Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

     

    Wajah sunyi setengah tengadah

    Menangkap sepi padang senja

    Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu

    Dia masih sangat muda

     

    Hari itu 10 November, hujanpun mulai turun

    Orang-orang ingin kembali memandangnya

    Sambil merangkai karangan bunga

    Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

     

    Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring

    Tetapi bukan tidur, sayang

    Sebuah peluru bundar di dadanya

    Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda.

     

    1. Dongeng Pahlawan (Karya: W.S. Rendra)

     

    Pahlawan telah berperang dengan panji-panji

    berkuda terbang dan menangkan putri.

     

    Pahlawan kita adalah lembu jantan

    melindungi padang dan kaum perempuan.

     

    Pahlawan melangkah dengan baju-baju sutra.

    Malam tiba, angin tiba, ia pun tiba pula.

     

    Adikku lanang, senyumlah bila bangun pagi-pagi

    karna pahlawan telah berkunjung di tiap hati.

     

    1. Prajurit Jaga Malam (Karya: Chairil Anwar)

     

    Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?

    Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,

    bermata tajam

     

  2. Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya

    Kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

    Aku suka pada mereka yang berani hidup

    Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

     

    Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu…

    Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu

     

    1. Atas Kemerdekaan (Karya: Sapardi Djoko Damono)

     

     kita berkata : jadilah

    dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut

    di atasnya : langit dan badai tak henti-henti

    di tepinya cakrawala

     

    terjerat juga akhirnya

    kita, kemudian adalah sibuk

    mengusut rahasia angka-angka

    sebelum Hari yang ketujuh tiba

     

    sebelum kita ciptakan pula Firdaus

    dari segenap mimpi kita

    sementara seekor ular melilit pohon itu :

    inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah

     

    1. Lagu Seorang Gerilya (Karya: W.S. Rendra)

     

    Engkau melayang jauh, kekasihku

    Engkau mandi cahaya matahari

    Aku di sini memandangmu,

    menyandang senapan, berbendera pusaka.

     

    Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu,

    engkau berkudung selendang katun di kepalamu

    Engkau menjadi suatu keindahan

     

    Sementara dari jauh,

    Resimen tank penindas terdengar menderu.

    Malam bermandi cahaya matahari,

    kehijauan menyelimuti medan perang yang membara. 

    Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku,

    engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu.

    Peluruku habis

    dan darah muncrat dari dadaku

     

  3. Maka di saat seperti itu,

    kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan

    bersama kakek-kakekku yang telah gugur

    di dalam berjuang membela rakyat jelata

     

  4.  

Puisi-puisi di atas adalah puisi karya sastrawan legendaris dengan tema pahlawan dan pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia.

Kamu bisa membawakan salah satu puisi di atas untuk dibacakan saat Memperingati Hari Pahlawan 2023.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.