Akurat
Pemprov Sumsel

Sejarah Festival Gandrung Seru Banyuwangi, Munculnya Seribu Penari Berbakat Setiap Tahun!

Iim Halimatus Sadiyah | 7 Agustus 2024, 17:48 WIB
Sejarah Festival Gandrung Seru Banyuwangi, Munculnya Seribu Penari Berbakat Setiap Tahun!

AKURAT.CO Belakangan ini, festival Gandrung Sewu ramai jadi perbincangan publik karena adanya seleksi para penari dari berbagai tingkatan, mulai SD hingga SMA.

Seleksi Gandrung Sewu 2024 telah dilakukan dalam waktu beberapa hari, dan mereka lolos untuk berpartisipasi dalam festival Gadrung Sewu yang bakal diselenggrakan pada Oktober mendatang.

Tari Gandrung yang menjadi salah satu tarian khas Banyuwangi, selalu hadir di festival Gandrung Sewu yang diadakan setahun sekali di Banyuwangi dan sudah menarik banyak wisatawan lokal dan asing.

Mengutip berbagai sumber, Rabu (7/8/2024), berikut ini sejarah festival Gandrung Sewu yang selalu digelar setiap tahun dan paling dinanti masyarakat Banyuwangi.

Baca Juga: Gak Cuma Reog, Festival Gandrung Sewu dari Timur Jawa Juga Sudah Mendunia

Sejarah Festival Gandrung Sewu

Tari Gandrung adalah tarian yang berasal dari Banyuwangi yang sudah ada sejak lama. Pada awalnya, hanya ada beberapa penari, tetapi sekarang sudah ada seribu penari di festival.

Dimulai oleh Bupati Banyuwangi Djoko Supaat pada tahun 1970-an, festival ini melibatkan lebih dari seribu penari dari tingkat SD, SMP, hingga SMA dengan tinggi minimal 140 cm.

Festival ini diadakan setiap tahun sampai tahun 1978, tetapi setelah itu berhenti. Pada tahun 2012, Bupati Abdullah Azwar Anas ingin menghidupkan kembali festival ini, dan pada tahun 2013, itu baru teruwujud untuk pertama kalinya sejak berhenti.

Sampai saat ini, festival Gandrung Sewu masih tetap dilaksanakan setiap tahunnya secara rutin di Banyuwangi.

Baca Juga: Menyaksikan Festival Gandrung Sewu di Akhir Pekan, Ayo Intip Tipsnya

Tari Gandrung sendiri sudah ada sejak dibabatnya Hutan Tirtagindo untuk dijadikan ibu kota Blambangan hingga muncul adanya pelaksanaan festival.

Pada tahun 1774, Mas Alit, bupati pertama Banyuwangi, memulai perpindahan ibu kota Blambangan. Konon, hadir penari laki-laki bernama Masran yang menjadi penari gandrung pertama pada masa itu.

Pada tahun 1895, seorang anak perempuan bernama Semi menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

Jadi, sang ibu bernazar bahwa anaknya akan menjadi penari jika berhasil sembuh dari penyakitnya yang sulit disembuhkan.

Ternyata, Semi berhasil sembuh, yang membuat sang ibu memenuhi janjinya untuk menjadikan anaknya seorang penari.

Semi menjadi pelopor penari gandrung perempuan, dan yang membuat tari gandrung yang kita lihat sampai sekarang dilakukan oleh penari perempuan.

Tarian khas Banyuwangi ini memiliki arti ketika ditarikan yakni merupakan wujud dari rasa syukur masyarakat ketika panen raya berhasil.

Itulah sejarah dari festival Gandrung Sewu dan munculnya seribu penari Gandrung yang dikumpulkan setiap tahun di Banyuwangi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.