Apa Itu Doom Spending? Fenomena Belanja Impulsif yang Mewabah di Kalangan Gen Z dan Milenial

AKURAT.CO Dalam beberapa bulan terakhir, istilah "doom spending" semakin populer di kalangan milenial dan Gen Z.
Fenomena ini muncul di tengah kondisi ekonomi yang semakin menantang sehingga membuat banyak anak muda merasa cemas tentang masa depan mereka.
Akibatnya, belanja impulsif menjadi salah satu cara untuk meredakan stres yang mereka alami.
Baca Juga: Viral! Masjid Al-Ikhlas Kartasura Sukoharjo Dapat Review Buruk 1,8 di Google Maps
Penjelasan Lengkap Doom Spending
Mengutip dari berbagi sumber pada Jumat (27/9/2024), Doom spending merujuk pada kebiasaan mengeluarkan uang untuk kesenangan sesaat, bukannya menabung untuk masa depan.
Saat ini, fenomena ini semakin populer di kalangan milenial dan Gen Z sebagai reaksi terhadap stres yang ditimbulkan oleh kondisi ekonomi yang sulit.
Perilaku ini muncul sebagai respons terhadap tekanan mental yang disebabkan oleh berbagai isu, termasuk krisis ekonomi, pemanasan global, dan ketidakpastian politik.
Profesor Kebijakan dan Manajemen Kesehatan di City University of New York, Bruce Y. Lee, menjelaskan bahwa doom spending sering terjadi ketika seseorang merasa tertekan oleh situasi seperti ketidakstabilan politik di AS dan tantangan iklim.
Hal ini mendorong individu untuk melakukan pembelian lebih banyak sebagai cara mengatasi stres. Namun, fenomena ini tidak hanya terbatas di AS, negara lain pun mengalami hal serupa, mungkin juga termasuk Indonesia.
Dampak dan Reaksi Doom Spending
Doom spending mungkin memberikan ilusi kontrol, tetapi pada kenyataannya, perilaku ini dapat merugikan kondisi keuangan di masa depan.
Banyak generasi muda lebih memilih menghabiskan uang untuk hal-hal tidak produktif, seperti liburan atau barang mewah, daripada menabung untuk rumah atau investasi.
Baca Juga: VIRAL... Ibu Aniaya Anak karena Stiker Hilang di Sekolah, Dicambuk Pakai Ikat Pinggang
Meskipun belanja dapat memberikan kepuasan sementara, perilaku ini juga membawa risiko finansial jangka panjang.
Dengan semakin banyaknya generasi muda terjebak dalam siklus belanja impulsif, penting untuk mencari solusi yang lebih berkelanjutan dalam menghadapi tekanan ekonomi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








