Pelestarian Budaya Lebih Gong! Peresmian Yayasan Pencinta Sejarah Kasultanan Ngayogyakarta (Yapsekarta)

AKURAT.CO Yayasan Pencinta Sejarah Kasultanan Ngayogyakarta atau Yapsekarta sukses menggelar Launching atau Peresmian Yayasan di Pendopo Yapsekarta di Jakarta Selatan pada Sabtu, 22 Februari 2025.
Acara yang melibatkan para pemerhati kebudayaan dan diaspora ini berlangsung dengan diperkenalkannya para Pengurus, Pemaparan Visi, Misi dan Program Kerja Yayasan, Sarasehan dan diakhiri dengan Slametan dan Doa Bersama.
Baca Juga: Kunci Jawaban Seni Budaya Kelas 9 SMP Halaman 159: Materi Jenis Karya Seni Grafis dan Tekniknya
Acara yang mengambil tema “Kembali ke Jati Diri: Harmoni Tradisi dan Inovasi” berlatar belakang pada komitmen Yapsekarta untuk melestarikan Kearifan Lokal khususnya Budaya Jawa yang telah diimplementasikan di Kasultanan Ngayogyakarta ditengah perubahan nilai sosial yang semakin kompleks, dan fenomena pergeseran dari kolektivisme ke individualisme sehingga dibutuhkan langkah strategis yang memungkinkan harmoni antara tradisi dan inovasi, memadukan nilai budaya Jawa dengan teknologi yang inspiratif agar kearifan lokal dapat relevan di era digital.
Ketua Dewan Pembina Yapsekarta, R. Yulius Bayu Susilo Harto, SE.Ak, MBA atau Mas Bayu mengatakan, “Yapsekarta berupaya meredefinisi tradisi agar tetap relevan di era digital. Tradisi dan ritual yang ada disesuaikan dengan kebutuhan serta pengalaman kontemporer terlebih sekarang UI dan UX semakin penting, namun tetap mempertahankan esensi dan kekhidmatannya. Adaptasi ini memungkinkan tradisi dan kearifan lokal mudah diterapkan dan dikembangkan dengan tetap membawa nilai-nilai budaya yang autentik. Walaupun kegiatan kami dalam lingkup pelestarian budaya Jawa, banyak peserta acara berasal dari lintas etnik, budaya dan negara. Ini membuktikan kebutuhan akan kembalinya Indonesia ke Jati Diri yang menenangkan ditengah euphoria fast-life.”
Lanjutnya, “Visi Yayasan Pencinta Sejarah Kasultanan Ngayogyakarta adalah Menjadi organisasi terdepan dalam melestarikan Warisan Budaya dan Kearifan Lokal Jawa khususnya yang diterapkan Kasultanan Ngayogyakarta, dengan beradaptasi di era digital melalui penggunaan teknologi yang terbaru dan relevan. Misi kami adalah mempromosikan kesadaran dan apresiasi sejarah dan budaya Kasultanan Ngayogyakarta melalui program-program sosial, kebudayaan, penelitian, pendidikan, entrepreneurship, dan promosi.”
Mas Bayu, lebih lanjut mengatakan bahwa seni manajemen Jawa akan sangat menarik apabila dikombinasikan dengan system manajemen saat ini, yang banyak diadopsi dari dunia barat. “Saya percaya, bahwa manajemen dan kepemimpinan dunia timur (jawa) yang mempertimbangkan “rasa” bukan hanya “pikiran dan logika” akan penting dan untuk di implementasikan dalam dunia yang saat ini mengglobal."
Baca Juga: Baru Ditinjau Mendikdasmen, Begini Yayasan di Balik Program Percontohan MBG di Yogyakarta
Pendirian Yayasan Pencinta Sejarah Kasultanan Ngayogyakarta diawali dari bertemunya beberapa nama seperti R. Bayu Susilo, R.Suryo Susilo dan Rr. Ernawati dalam penyelenggaran webinar pada bulan Oktober 2020, dengan topik Menggali Warisan Membangun Masa Depan Sri Sultan Hamengkubuwon II. Dimana dalam webinar ini, Ketua MPR saat itu Dr.H. Bambang Soesatyo MBA sebagai Keynote Speaker. Terdapat juga para pemateri tokoh-tokoh Nasional dan Internasional seperti Dr.H. Fadli Zon, KRT Manu W.P. Wangsawikrama, Prof.Dr. Djoko Marihandono (saat ini duduk sebagai Ketua Pengawas Yapsekarta), Peter Carey, Laksamana Madya (Purn) Dr. Desi Albert Mamahir M.Sc, dan tokoh-tokoh lain.
Selanjutnya nama-nama tersebut bertemu dengan Cooky T Adhikara,SE,MM yang seorang penggemar Sejarah, ahli manajemen kontemporer dan akademisi, Chattarina Etty, M.Pd yang seorang ahli sejarah wanita asal Yogyakarta dan R. Nur Handono, seorang abdi dalem Keraton Kasultanan Ngayogyakarta untuk sepakat membentuk Yapsekarta.
Pendekatan adaptif dan inovatif pada pembelajaran sejarah dan pelestarian budaya terbukti memiliki dampak positif bagi masyarakat khususnya generasi muda.
Sebagai pamungkas acara peresmian, Yapsekarta berkomitmen menjaga warisan dan tradisi, juga membuka pintu untuk berkomunikasi, berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan, pencinta sejarah dan pemerhati budaya, di dalam dan luar negeri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








