Akurat
Pemprov Sumsel

Mengapa Banyak Orang Rela Berutang demi Gaya Hidup: Fenomena dan Alasan di Baliknya

Redaksi Akurat | 26 Maret 2026, 16:09 WIB
Mengapa Banyak Orang Rela Berutang demi Gaya Hidup: Fenomena dan Alasan di Baliknya
Mengapa Banyak Orang Rela Berutang Demi Gaya Hidup: Fenomena dan Alasan di Baliknya

AKURAT.CO Dalam masyarakat modern, fenomena orang berutang bukan untuk kebutuhan penting tetapi demi gaya hidup dan status sosial semakin sering terlihat.

Tidak sedikit individu yang rela mengambil pinjaman online, kartu kredit, atau layanan cicilan demi memenuhi keinginan tampil “kaya” atau mengikuti tren yang sedang populer.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di kalangan muda seperti Gen Z, tetapi juga menjalar ke sebagian masyarakat dewasa.

Baca Juga: Kinerja Kredit Konsumtif September 2025, KKR dan KKB Melambat Tapi Paylater Subur

Pengaruh Gaya Hidup Konsumtif dan Tekanan Sosial

Gaya hidup konsumtif yang dipromosikan lewat media sosial, iklan, dan interaksi sosial membuat banyak orang merasa perlu mengikuti tren supaya dianggap ‘keren’ atau sesuai standar tertentu.

Dalam konteks ini, utang sering dipandang sebagai alat untuk memperoleh barang atau pengalaman yang terlihat prestisius.

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) juga menjadi salah satu pemicu.

Ketika seseorang melihat teman atau influencer memamerkan barang mewah atau pengalaman eksklusif, mereka sering merasa terdorong untuk mengejar hal yang sama, meskipun sebenarnya kemampuan finansialnya belum mencukupi.

Kondisi ini mendorong beberapa orang untuk berutang hanya demi memenuhi ekspektasi sosial semata.

Keterpaparan Media Sosial dan Tren Gaya Hidup

Media sosial memainkan peranan besar karena konten glamor dan konsumtif tersebar luas serta mudah diakses oleh siapa saja.

Tren gaya hidup yang sering ditampilkan di platform digital membuat banyak individu, khususnya generasi muda, merasa bahwa memiliki produk tertentu atau mengikuti pengalaman tren merupakan sesuatu yang penting untuk citra mereka.

Hal ini dikaitkan dengan motivasi untuk “terlihat sukses,” bukan sekadar menikmati hidup sesuai kemampuan.

Media sosial juga sering menampilkan standar hidup yang ideal atau mewah sebagai hal biasa, padahal kenyataan ekonomi banyak orang berbeda.

Ketika individu membandingkan dirinya dengan citra tersebut, mereka cenderung mengambil keputusan finansial yang kurang bijak termasuk berutang demi mempertahankan penampilan sesuai ekspektasi media sosial.

Baca Juga: BTN Expo 2026 Dibuka, BTN Dorong Ekosistem Hunian dan Gaya Hidup

Mudahnya Akses Kredit dan Pinjaman Digital

Saat ini, kemudahan akses ke berbagai fasilitas keuangan seperti pinjaman online, pay later, atau kartu kredit menjadi faktor pendukung meningkatnya utang demi gaya hidup.

Platform digital membuat proses peminjaman uang menjadi cepat dan minim persyaratan, sehingga dorongan emosional untuk membeli sesuatu sering kali mengalahkan pertimbangan rasional soal kemampuan membayar.

Kemudahan ini membuat masyarakat, terutama generasi muda, cenderung mengambil keputusan impulsif tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang.

Bahkan bagi mereka yang secara finansial belum mapan, layanan ini bisa terlihat seperti solusi instan untuk mendapatkan barang atau pengalaman yang diinginkan, padahal ini bisa berujung pada beban utang yang menumpuk.

Faktor Psikologis di Balik Keputusan Berutang

Alasan lain yang memicu orang rela berutang demi gaya hidup berkaitan dengan psikologi konsumsi.

Banyak individu mengaitkan pembelian barang atau pengalaman tertentu dengan rasa bahagia, kepuasan diri, atau penerimaan sosial.

Ketika seseorang merasa dihargai atau diperhatikan karena memiliki barang mahal, dia cenderung ingin mempertahankan atau meningkatkan status tersebut, meskipun secara finansial tidak realistis.

Ada pula fenomena psikologis yang disebut conspicuous consumption, yaitu perilaku membeli barang-barang mewah atau status tinggi untuk menunjukkan kekayaan atau posisi sosial kepada orang lain.

Perilaku ini semakin diperkuat oleh lingkaran pergaulan dan tekanan untuk mengikuti standar tertentu dalam komunitas sosial.

Dampak Negatif dari Utang demi Gaya Hidup

Walaupun berutang demi gaya hidup mungkin terlihat memberikan kepuasan sesaat, banyak dampak negatif yang bisa muncul.

Utang yang menumpuk sering kali menyebabkan stres finansial, masalah psikologis, dan gangguan kesejahteraan jangka panjang.

Utang konsumtif juga dapat menghambat kemampuan individu mencapai tujuan finansial penting seperti menabung, membeli rumah, atau mempersiapkan masa pensiun.

Selain itu, ketika utang membesar dan tidak mampu dibayar, individu dapat terjebak dalam siklus utang yang semakin berat, bahkan sampai menimbulkan masalah hubungan sosial dan psikologis jika tidak ditangani dengan bijak.

Fenomena orang rela berutang demi gaya hidup dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk tekanan sosial, paparan media sosial, kemudahan akses kredit, serta motivasi psikologis untuk memperoleh status atau pengakuan sosial.

Meskipun utang demi kebutuhan mendesak bisa dibenarkan, utang yang diambil hanya untuk gaya hidup sering kali membawa dampak finansial jangka panjang yang merugikan.

Oleh sebab itu, penting bagi individu untuk meningkatkan literasi finansial dan mempertimbangkan dengan matang sebelum memutuskan mengambil utang demi gaya hidup yang semu.

Amalia Febriyani (Magang)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R