Akurat Logo

Naik Kelas dari Kuli Panggul ke Agen Jawara BRILink, Perjalanan Inspiratif Owner Affan Cell

Yosi Winosa | 23 Mei 2026, 11:53 WIB
Naik Kelas dari Kuli Panggul ke Agen Jawara BRILink, Perjalanan Inspiratif Owner Affan Cell
Amirudin Al-Affan, owner Affan Cell di Bedahan Depok

AKURAT.CO Di Jalan Raya Bedahan, berdiri gagah konter seukuran dua ruko yang berawal dari etalase satu meter, menjadi simpul transaksi warga.

Orang datang silih berganti: menarik tunai, membayar listrik, mengangsur motor, memperbaiki layar ponsel, hingga sekadar mengisi pulsa.

Di balik denyut ekonomi kerakyakan itu, ada sosok Amirudin Al-Affan, pria 36 tahun yang memulai semuanya dari bawah, secara harfiah.

“Sempat lamar sana-sini pas lulus sekolah, sekalinya keterima jadi kuli panggul, di bawah banget lah istilahnya,” kata Affan.

Kalimat itu meluncur tanpa dramatisasi. Namun justru di situ terasa bobotnya.

Baca Juga: Kisah Harlia Menghidupkan Cinhay Cell, Jadi Andalan Setoran Tunai Juragan Sembako hingga Petugas PNM Mekaar

Sebelum dikenal sebagai agen BRILink dengan nominal transaksi belasan miliar rupiah per bulan, Affan adalah lulusan SMA jurusan IPS di tahun 2010 yang merasakan kerasnya persaingan di pasar tenaga kerja Tanah Air.

Awal Merintis Affan Cell

Usaha Affan Cell dimulai pada 2011. Tidak ada investor, tidak ada modal besar, tidak pula latar belakang bisnis keluarga.

Affan memulainya sendiri, pelan-pelan, sambil belajar memahami “dapur” bisnis pulsa setelah sempat bekerja di agen pulsa selama setahun.

Modal awalnya sederhana: etalase kecil di depan rumah, voucher pulsa, dan keberanian untuk tetap bertahan.

“Dulu kan belum ada android, sempat ramai Blackberry. Saya cuma pulsa etalase semeter depan rumah,” ujarnya.

Pada masa itu, Affan juga masih menjalani kuliah kelas karyawan di Universitas Indraprasta PGRI jurusan Pendidikan Ekonomi. Ia lulus, tetapi jalan hidupnya ternyata tidak berbelok ke ruang kelas.

Tawaran bekerja di Bandung pernah datang. Kesempatan menjadi pengajar juga sempat terbuka. Namun semuanya ditolak.

Ia memilih tinggal di Bedahan dan fokus menghidupkan usaha konternya. Keputusan itu perlahan membentuk fondasi bisnis yang kini berdiri di dua ruko.

Tembok penyekat ruko itu dibobok dan disatukanlah keduanya. Satu sisi difokuskan untuk layanan servis telepon genggam. Sisi lainnya menjadi pusat transaksi BRILink.

Momentum besar datang ketika seorang teman di BRI menawarkan kesempatan menjadi agen BRILink.

Affan melihat peluang yang sederhana namun nyata: jarak bank yang jauh dan antrean panjang membuat warga membutuhkan layanan keuangan yang lebih dekat.

“Orang cari yang deket walaupun ada biaya admin orang sih enggak masalah. Dari pada ke bank waktunya antreannya segala macam.”

Dari mesin EDC generasi lama hingga sistem MPOS, Affan mengikuti perkembangan layanan keagenan. Ia bahkan beberapa kali masuk program “Agen Jawara”, penghargaan bagi agen dengan performa tinggi.

Jumlah Karyawan Terus Bertambah

Pelanggan Affan Cell tetap bertransaksi meski cuaca sedang hujan

Pertumbuhan Affan Cell tidak hanya mengubah hidup Affan, tetapi juga membuka ruang kerja bagi orang-orang di sekitarnya.

Kini total ada 8-9 orang yang membantu operasional toko dan layanan servis. Sebagian merupakan saudara sepupu, sebagian lagi teman-teman dari lingkungan sekitar.

Affan membangun struktur sederhana namun efektif. Ada kepala toko yang menjadi penghubung utama sebelum laporan sampai kepadanya setiap malam.

Yang menarik, loyalitas menjadi mata uang penting di Affan Cell. 3 di antara 9 karyawan disebut telah bertahan sejak 2014. “Alhamdulillah yang 3 ini bertahan sampai sekarang, loyal.”

Gaji karyawan, kata Affan, sudah mendekati UMR. Ia tampak memahami bahwa usaha kecil hanya bisa tumbuh jika orang-orang di dalamnya ikut merasa aman dan nyaman.

Di balik toko yang kini ramai, ada fase panjang ketika semuanya masih sepi. Dari 1-2 pekerja, perlahan bertambah menjadi 4 orang, lalu berkembang menjadi tim yang menopang operasional harian dari pagi hingga hampir tengah malam.

Cuan dari Transaksi Bulanan

Affan Cell ramai dikunjungi nasabah untuk bertransaksi selepas ashar hingga petang

Volume bisnis Affan Cell kini jauh melampaui ukuran fisik rukonya. Dalam sebulan, transaksi yang diproses mencapai sekitar 3.000 hingga 4.000-an transaksi dengan nominal keluar-masuk disebut melampaui Rp12 miliar.

Dari aktivitas itu, Affan memperoleh fee based income lebih dari Rp8 juta, di luar pemasukan dari konter servis telepon genggam.

Tarif administrasi sengaja dibuat rendah. “Kami gak main perang harga liat kiri kanan, kami fokus usaha saja,” kata Affan.

Skema tarifnya relatif sederhana: transaksi di bawah Rp2 juta dikenakan Rp5 ribu, sementara transaksi lebih besar dikenakan biaya bertingkat hingga sekitar Rp25 ribu–Rp30 ribu.

Model bisnis Affan bertumpu pada volume dan kepercayaan. Tarik tunai saja bisa mencapai 150–200 transaksi per hari, belum setor tunai, pembayaran listrik, BPJS, cicilan motor, hingga pajak PBB.

Ia menyebut filosofi usahanya secara lugas: one stop services. “Saya mau kunci jadi orang cari apa saja, di sini insyaallah bisa,” tukasnya.

Di masa tertentu, Affan bahkan dikenal dengan istilah “Agen Sultan”, merujuk pada agen BRILink dengan transaksi tinggi dan fasilitas dana talangan besar hingga Rp250 juta per bulan.

Saldo mengendap untuk operasional harian bisa minimal sekitar Rp100 juta agar transaksi tetap lancar tanpa perlu terlalu sering setor tunai ke bank.

Manfaat Keagenan BRILink

Bagi Affan, ukuran keberhasilan bukan sekadar omzet. “Hamdalah, sekarang sudah ada rumah sendiri dari usaha ini,” syukur Affan.

Usahanya turut untuk membiayai rumah, pendidikan anak, dan kehidupan keluarganya. Putra pertamanya kelas 1 SD bersekolah di sekolah swasta. Putra kedua berusia 3 tahun. Sang istri memilih fokus mengurus rumah tangga.

Ada detail kecil yang justru memperlihatkan perubahan hidup Affan: kebiasaan rutin menabung logam mulia satu gram setiap hari Jumat sejak harga emas masih sekitar Rp700 ribu per gram sebelum pandemi Covid-19.

“Cuman dua bulan terakhir lagi enggak nabung dulu karena harganya tinggi banget ya,” cerita Affan.

Namun di tengah pertumbuhan usaha, Affan juga mencari keseimbangan lain.

Ia kini aktif sebagai ketua karang taruna di lingkungan RW dan mulai mengembangkan integrated farming dengan menggabungkan pertanian kangkung dan bayam bersama peternakan ayam serta budidaya ikan gurame dan nila.

“Berkebun itu juga menghilangkan stress juga,” candanya.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menjadi semacam penanda fase baru hidupnya: dari sekadar bertahan hidup menjadi mulai memikirkan kualitas hidup.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.