Dari Balik Kios Pulsa, Owner Teges Cell Konsisten Jaga Kepercayaan Pelanggan

AKURAT.CO Kios pulsa itu berdiri tegak di bilangan Jalan Raya Pondok Aren, Tangerang Selatan, diapit kanan kirinya oleh bengkel mobil dan toko aneka minuman jus. Namanya Teges Cell, milik pasangan Suami Istri Ali (54) dan Fitriah (50), warga lokal di situ. Dalam Bahasa Betawi, Teges artinya tegas, bernas dan mantap.
Di meja penjaga toko, denyut transaksi keuangan masyarakat berlangsung nyaris tanpa jeda. Orang datang untuk mengirim uang kuliah anak, membayar cicilan, menarik uang tunai, membeli token listrik, hingga sekadar mengisi saldo dompet digital. Namun di balik antrean itu, ada kisah panjang tentang kesabaran membangun usaha dari nol, menjaga kepercayaan, dan memilih bertumbuh tanpa kehilangan waktu bersama keluarga.
Semua bermula pada tahun 2006 saat Fitriah memutuskan resign dari sebuah perusahaan swasta, demi memastikan tumbuh kembang anaknya-anaknya tetap terjaga. Keputusan menjadi ibu rumah tangga sekaligus wirausaha tersebut memang sempat membuat pendapatan keluarga berkurang di awal, tetapi setelahnya justru membuka jalan usaha yang tak pernah ia rencanakan sebelumnya.
Di depan rumahnya, sebuah kios pulsa berhenti beroperasi dan ditawarkan untuk diover kredit. Fitriah mengambil kesempatan itu. Pada masa ketika telepon seluler mulai menjadi kebutuhan utama pekerja urban dan perantau, bisnis pulsa berkembang cepat. Kawasan sekitar tokonya yang dipenuhi kontrakan pekerja konveksi membuat arus pelanggan nyaris tak putus.
Namun pasangan Fitriah dan Ali melihat sesuatu yang lebih besar dibanding sekadar menjual pulsa. Mereka menemukan persoalan yang dihadapi pelanggan sehari-hari: biaya kirim uang ke kampung halaman mahal dan lama.
Saat itu, sebagian pekerja masih mengandalkan jasa travel untuk mengirim uang kepada keluarga di daerah, bahkan membutuhkan waktu hingga dua hari untuk diterima.
“Mereka kami tawari, mau tidak kalau transfernya lewat kami, lebih cepat dan lebih murah? Terus pada bilang mau-mau,” kenang Fitriah.
Saat itu, istilah lakupandai dan keagenan perbankan belum sepopuler sekarang karena baru di sekitar Maret 2015 diperkenalkannya ke masyarakat. Ali masih ingat betul betapa rumitnya menjalankan layanan transfer di era itu.
Opsinya terbatas pada layanan internet banking, yang waktu itu dari BPRKS, CIMB Niaga dan PermataBank. Ali harus bolak balik ke bank meminta token transaksi secara manual serta memastikan dana cukup untuk melayani pelanggan.
“Memang saat itu, sebelum ada lakupandai, otoritas (BI) tak memperbolehkan layanan transfer uang dalam jumlah besar atau kegiatan perbankan lain selain pembayaran. Dulu yang PermataBank sempat diblokir. Belum ada aturannya,” tutur Ali.
Saat itu, secara organik basis pelanggan sudah terbentuk. Layanan transfer, pembayaran tagihan, hingga tarik tunai sudah berjalan. Gayung bersambut, Fitriah dan Ali selang beberapa tahun kemudian ditawari untuk bergabung menjadi agen BRILink.
Karena memang memenuhi syarat, di antaranya memiliki usaha sendiri yang sudah berjalan beberapa tahun, akhirnya Teges Cell jadi agen BRILink, sekitaran Oktober 2017. Status agen BRILink membuat usaha mereka memperoleh legitimasi yang lebih kuat di mata masyarakat. Logo bank besar yang terpampang di toko menjadi simbol rasa aman bagi pelanggan.
Fitriah mengatakan, perubahan paling terasa bukan hanya kenaikan transaksi, melainkan meningkatnya kepercayaan masyarakat. Terlebih ketika TVC BRILink berseliweran, bertepatan juga dengan ajang olahraga SEA Games dan PON. Pelanggan baru makin ramai berdatangan karena merasa layanan tersebut resmi dan terpercaya.
“Dengan kami jadi agen BRILink, menambah kepercayaan. Istilahnya oh emang ini perwakilan bank, ada logonya BRI juga jadi semisal ada apa-apa pun ada jaminan keamanannya. Di awal running layanan memang sempat ada gangguan. Tapi setelah BRI punya satelit sendiri (BRISat meluncur di Juni 2016) relatif lebih aman lebih stabil,” ujar Fitriah.
Seiring waktu, usaha mereka berkembang. Dari yang semula hanya dijalankan sendiri oleh Fitriah, berdua bersama Ali, dan kini mempekerjakan lima karyawan yang merupakan tetangga sekitar termasuk juga salah satunya masih keluarga. Fitriah merasa senang bisa turut membuka lapangan pekerjaan untuk sekitar.
“Dari awalnya saya sendirian usaha kios pulsa karena waktu itu suami masih kerja. Saya jaga dari pagi sampai magrib, suami terkadang pulang kerja nerusin jaga sampai jam 10 atau jam 11 malam. Pelan pelan punya karyawan 1, tambah lagi 1 karyawan, tambah lagi, akhirnya 5 karyawan,” tutur Fitriah.
Eva, salah seorang karyawan Teges Cell mengaku bersyukur bisa diterima kerja di situ karena dekat dengan rumah. Ia mengaku, seperti pelanggan yang kebanyakan memang tinggal di daerah situ, kedekatan jarak menjadi insentif tersendiri.
“Enaknya dekat dari rumah jadi enggak perlu ngabisin waktu berjam-jam untuk perjalan berangkat pulang seperti orang-orang yang kantor dan rumahnya berjauhan. Sekarang dari pelanggan yang datang sih berimbang ya antara yang transfer/ pembayaran dan yang tarik tunai. Awal-awal yang saya layani lebih banyaknya transfer dan pembayaran" ujar Eva.
Sejuta Manfaat Keagenan BRILink
Anak-anak Fitriah dan Ali berhasil disekolahkan dari hasil usaha kios pulsa yang kian berkembang usai terdaftar sebagai Agen BRILink tersebut. Anak pertamanya sudah lulus dari Universitas Brawijaya dan saat ini bekerja di salah satu Perusahaan Jepang.
Anak kedua, masih duduk di bangku SMP. Rumah tangga yang dulu sekadar “cukup” perlahan jadi lebih mapan. Dan yang paling mewah, mereka kini punya waktu luang, sebuah biaya yang amat mahal bagi mayoritas masyarakat urban.
Sebagai gambaran, Teges Cell merupakan salah satu Agen BRILink yang klasifikasinya sudah juragan. Juragan adalah kelas tertinggi setelah pemula dan jawara, sales volume minimal Rp1,5 miliar, kuantitas transaksi 3.000 kali dan fee based Rp4 juta per bulan.
Maret 2026 lalu, Teges Cell melayani 4.101 transaksi dengan 3 device EDC senilai Rp10,62 miliar dan fee based Rp8,18 juta. Menjadikannya yang terbesar seantero Pamulang-Ciputat (97 agen).
“Dulu kami waktu sama-sama kerja ya finansial cukup saja sih enggak ada kekurangan. Tapi dengan saya gabung ke BRI link, istri waktu itu lebih dulu berhenti kerja, ya saya merasa lebih cukup lagi. Saya merasanya gini, dulu waktu masih kerja, pas mau cicil kendaraan atau beli apa ragu. Pas sudah gabung BRILink ya santai saja tapi seperlu saja jangan yang mahal-mahal. Alhamdulillah lebih fleksibel secara keuangan dan terutama dari segi waktu, kami jadinya bisa sama-sama di rumah,” kata Ali.
“Ya Alhamdulillah juga bisa nyekolahin anak, rumah juga semuanya dah alhamdulillah pendapatan dari sini diberi jalan sama Allah. Memang waktu luang itu mahal sih, kami sekarang bisa merasakannya,” imbuh Fitriah.
Tak Latah Ekspansi
Pelanggan Teges Cell menunggu antrean layanan
Namun menariknya, di tengah pertumbuhan volume dan kuantitas transaksi bulanan, Fitriah dan Ali justru tak terobsesi membuka banyak cabang. Ali dan Fitriah menyebut diri mereka “anti-mainstream” untuk urusan ekspansi.
Meski sempat terpancing untuk membuka banyak outlet seperti agen lain dan bahkan sudah mencari Lokasi, niat itu mereka urungkan untuk lebih fokus pada optimalisasi toko eksisting.
“Kami tim yang lebih ke berdoanya walaupun 1 toko tapi transaksinya sama seperti orang yang punya banyak toko, 4-5 toko. Jadi ingin optimalisasi transaksi meski cuma 1 toko karena memang transaksi keuangan ini kan butuh modal yang kuat,” kata Fitriah.
Pilihan itu lahir dari kesadaran sederhana: waktu luang jauh lebih mahal dibanding sekadar menambah skala usaha. Setelah bertahun-tahun bekerja dari pagi hingga larut malam, mereka kini menikmati sesuatu yang dulu sulit dimiliki saat masih menjadi pegawai kantoran, kesempatan lebih banyak bersama keluarga.
Lalu juga, Ali melihat ada pergeseran pola bisnis perbankan yang kini lebih banyak fokus di kanal digital dan efisiensi soal kehadiran kantor fisik.
“Banyak juga kantor kas bank yang tutup, larinya (pelanggan) ke kami juga. Ya kami selalu berdoa agen BRILink kan makin banyak ya, mudah-mudahan yang lain juga bisa terus maju bertumbuh dengan role model yang sudah ada bagaimana agar bisa terus berjalan tumbuh. Menurut saya yaitu banyak orang usaha, cita-citanya sangat tinggi atau mungkin enggak realistis sehingga kalau enggak tercapai kesannya jadi gagal padahal mah belum gagal, masih berjalan kan usahanya,” kata Ali.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








