Sekali Scan, Servis Jalan: Dampak Nyata QRIS BRI yang Mengubah Ritme Usaha Konter Service HP

AKURAT.CO Di lorong-lorong pertokoan Jembatan 2 ITC Kuningan, suara obeng elektrik, bunyi notifikasi ponsel, dan percakapan singkat antara teknisi dengan pelanggan menjadi denyut harian yang nyaris tak pernah berhenti.
Di tengah lalu lintas aktivitas yang serba cepat itu, perubahan besar ternyata tidak datang dari alat servis terbaru atau teknologi perangkat, melainkan dari cara orang membayar. Di meja kasir Ren Service, transaksi kini lebih sering ditutup dengan satu gerakan sederhana: membuka aplikasi perbankan dan memindai kode QR.
Bagi Reza (35), pemilik Ren Service, perubahan perilaku pelanggan menuju transaksi digital bukan lagi tren sementara, melainkan kenyataan yang membentuk cara usaha dijalankan sehari-hari.
Baca Juga: Gedung Ini Jadi Saksi Bisu Akselerasi Ekonomi Digital di 3T
Usaha yang ia rintis sejak 2009 itu awalnya bergerak di bidang aksesori ponsel sebelum perlahan bertransformasi menjadi layanan servis perangkat. Setelah berpindah ke Jembatan 2 pada 2012, ia terus beradaptasi dengan perubahan pasar, mulai dari model bisnis, teknologi perbaikan, hingga perilaku pelanggan yang semakin mengutamakan kecepatan.
Di tengah tantangan biaya operasional yang terus meningkat dan kebutuhan investasi alat servis yang tidak murah, Reza melihat digitalisasi pembayaran menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga ritme usaha tetap efisien.
“Sekarang 90 persen transaksi sudah digital, tinggal sekitar 10 persen yang masih tunai, kebanyakan pelanggan yang lebih tua. Dari 100 orang, mungkin 90 transfer, lima orang anak muda Gen Z, sisanya orang tua. Jarang saya pegang uang tunai juga sekarang. Kalau ditanya lebih pilih ketinggalan dompet atau HP, saya pilih dompet,” ujar Reza sambil tertawa.
Menurutnya, QRIS BRI membuat proses pembayaran menjadi jauh lebih praktis baik bagi dirinya maupun pelanggan. Tidak ada lagi proses mencari uang pas, menunggu kembalian, atau transaksi tertunda karena pelanggan harus mengambil uang tunai terlebih dahulu.
Kemudahan itu menjadi semakin penting karena karakter pelanggan jasa servis saat ini juga berubah. Banyak yang datang dengan agenda padat dan ingin segala sesuatu selesai dengan cepat.
Meski begitu, membangun usaha servis ponsel bukan perkara sederhana. Reza menjelaskan kebutuhan modal untuk peralatan profesional bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Satu unit mikroskop berkualitas tinggi saja bisa bernilai puluhan juta rupiah, belum termasuk biaya sewa kios dan gaji karyawan.
Di tengah tekanan biaya dan perubahan teknologi perangkat yang semakin kompleks untuk diperbaiki, efisiensi operasional menjadi kunci bertahan. “Yang penting sekarang pelanggan terus ada setiap hari. Tantangannya makin banyak, harga bahan naik semua. Tapi kalau transaksi cepat dan pelanggan nyaman, itu membantu usaha tetap jalan,” katanya.
Pelanggan Ren Service melakukan pembayaran lewat QRIS BRI
Pengalaman serupa juga dirasakan Kris (43), pelaku usaha servis elektronik lain di kawasan Jembatan 2 ITC Kuningan. Bagi Kris, karakter pelanggan di kawasan Kuningan dan Jakarta Selatan yang serba terburu-buru membuat layanan pembayaran digital menjadi kebutuhan, bukan lagi tambahan layanan.
Ia menilai QRIS BRI membantu memangkas waktu transaksi dan memberi pengalaman yang lebih praktis bagi pelanggan. Efisiensi tersebut turut mendukung perkembangan usahanya hingga kini ia mempercayakan operasional tokonya kepada karyawan dan mulai memperluas usaha ke Balikpapan.
“Dengan QRIS BRI sangat sesuai dengan karakteristik pelanggan saya yang kebanyakan sibuk dari wilayah sekitar Kuningan dan Jaksel ini. Membuat semuanya praktis dan sat set,” ujar Kris.
Dampak itu juga terasa langsung di sisi pelanggan. Dina (27), salah satu pelanggan Ren Service, datang untuk memperbaiki ponselnya di sela aktivitas kerja. Baginya, layanan servis yang cepat belum cukup apabila proses pembayaran masih memakan waktu.
Ia mengaku transaksi digital melalui QRIS BRI membuat seluruh pengalaman layanan menjadi lebih ringkas. “Tadi saya service di Ren Service dan HP saya tinggal, langsung transaksi pakai QRIS BRI. Enak, cepat karena saya juga harus buru-buru sebelum jam pulang kerja macet,” tutur Dina.
Cerita dari meja servis di ITC Kuningan menunjukkan bahwa transformasi digital sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana. Bukan sekadar mengganti uang tunai menjadi kode QR, tetapi mengubah cara pelaku usaha melayani dan bagaimana pelanggan mengatur waktunya.
Bagi para pemilik konter servis yang setiap hari berpacu dengan antrean pekerjaan dan perubahan teknologi perangkat, satu transaksi yang lebih cepat bisa berarti lebih banyak pelanggan yang terlayani. Dan bagi pelanggan yang waktunya terus dikejar aktivitas, satu kali scan bisa membuat seluruh urusan selesai tanpa jeda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Trump Perintahkan Serangan Balasan, AS Kembali Gempur Iran
- 2Bagan 32 Besar Piala Dunia 2026 Rilis! Ini Jadwal Laga Big Match yang Wajib Tonton
- 3KPK Dikabarkan Gelar OTT di Kuansing, Sejumlah Pejabat Pemkab Diamankan
- 4Afrika Selatan vs Kanada: Gol Menit Akhir Stephen Eustaquio Bawa Tuan Rumah ke 32 Besar
- 5Israel Resmi Akui Genosida Armenia, Turki Murka Sebut Upaya Tutupi Kejahatan di Gaza
- 6Prediksi Skor Prancis vs Swedia Piala Dunia 2026 Lengkap dengan Riwayat Head to Head, Perkiraan Susunan Pemain, dan Statistik
- 7Update Terbaru Bagan 16 Besar Piala Dunia 2026: Jerman dan Belanda Gugur
- 8Jadwal 32 Besar Piala Dunia 2026: Brasil, Argentina hingga Portugal Siap Berburu Tiket 16 Besar
- 9Puan Desak Kasus Dokter Icha Diusut Tuntas, Minta Semua Partai Proses Kader yang Terlibat
- 10Update Terbaru Bagan 16 Besar Piala Dunia 2026: Jerman dan Belanda Gugur









