War Tiket Cawapres Sudah Berakhir! Ini 5 Sosok Yang Tidak Berhasil Maju Untuk Pilpres 2024

AKURAT.CO Bukan hanya tiket konser yang diperebutkan, namun ternyata perburuan sesungguhnya adalah war tiket calon wakil presiden (cawapres) yang berlangsung dalam waktu lama hingga akhirnya resmi ditutup.
Istilah kekinian war tiket cawapres Pilpres 2024 sudah berakhir setelah KPU menutup masa pendaftaran, Rabu (25/10/2023).
War tiket cawapres tersebut memang lebih heboh dibandingkan dengan calon presiden (capres) karena banyaknya deretan yang menjadi kandidat untuk dipilih.
Namun dari hasil survei, ternyata ada lima nama kandidat yang sering muncul dan jadi pilihan banyak orang untuk dipasangkan.
Mengutip berbagai sumber, Rabu (1/11/2023), berikut ini sosok yang dianggap kalah dalam war tiket cawapres namun kepopulerannya tetap menjadi sorotan publik.
Baca Juga: Gibran Jadi Cawapres, KPU Digugat Rp70,5 Triliun
Erick Thohir
Sosok Erick Thohir ini dikenal sebagai orang yang dekat dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) setelah memimpin Tim Pemenangan Nasional (TPN) Jokowi-Ma'ruf di Pilpres 2019.
Saa ini, dia menjabat sebagai Menteri BUMN dan mengisi kursi Ketua Umum PSSI sejak Februari 2023 melalui Kongres Luar Biasa.
Tak hanya itu, namun sosok Erick ini juga berupaya membangun kedekatan dengan Nahdlatul Ulama (NU), kemudian dia menjadi anggota kehormatan Barisan Anshor Serbaguna (Banser) pada 29 November 2021.
Selama setahun terakhir, Erick Thohir memiliki elektabilitas yang bersinar terang karena berbagai jabatan yang dimilikinya cukup mentereng.
Menurut Survei Poltracking dari September 2023 lalu, besar potensi yang dimiliki Erick Thohir untuk menjadi cawapres engan elektabilitas 18,6 persen.
Partai Amanat Nasional (PAN) terkejut dengan kekuatan yang dimiliki oleh Erick, saat PAN bergabung dengan Koalisi Indonesia Maju pada 13 Agustus 2023, dan mereka menggunakan nama Erick Thohir untuk diusulkan sebagai cawapres Prabowo Subianto.
Baca Juga: KPU Dan DPR Bahas Revisi PKPU Batas Usia Capres-Cawapres
Namun, ternyata Prabowo Subianto memilih Gibran Rakabuming Raka untuk menjadi pendampingnya sehingga Erick juga tidak menampakan diri di acara deklarasi di Istana.
Sandiaga Uno
Di Pilpres 2024, ternyata nama Saga Sandiaga juga selalu disebut dengan status mantan kandidat wakil presiden pada Pilpres 2019 lalu.
Sandi memutuskan untuk keluar dari Gerindra, yang membesarkan namanya sejak Pilkada DKI 2017, akhir April 2023, sehingga membuat publik terkejut ketika dia meninggalkan partai tersebut.
Sandi memilih untuk masuk PPP, dan dia ditunjuk sebagai ketua Badan Pemenangan Pemilu oleh Partai Ka'bah.
Selain itu, mereka juga sudah mendorong Sandiaga Uno untuk menjabat sebagai cawapres pendamping Ganjar Pranowo.
Sandi dikenal cukup aktif menghadap Jokowi di istana. Selain menghadiri rapat, Sandiaga sering berkunjung ke Istana untuk melakukan wacana politik dengan Jokowi.
Baca Juga: Politisi Gerindra Ungkap Penyebab Erick Thohir Tak Jadi Cawapres Maupun Timses Prabowo
Sempat dia berfikir positif untuk memenangkan war tiket cawapres dan dipilih oleh Ganjar Pranowo, namun nasibnya sama dengan Erick Thohir karena Ganjar memilih Mahfud MD.
Agus Harimurti Yudhoyono disebut AHY
Langkah awal AHY, ketua umum Partai Demokrat, dimulai dengan bergabung dalam barisan pendukung Anies Baswedan.
Saat itu, Demokrat bekerja sama dengan NasDem dan PKS untuk mengusung Anies.Baswedan menjadi capres di Pilpres 2024.
Anies Baswedan sudah dideklarasikan sejak 3 Oktober 2022 untuk maju menjadi capres, tetapi kursi cawapres belum disepakati hingga 11 bulan kemudian.
AHY yang awalnya optimis mulai mengalami guncangan batin di akhir Agustus 2023. AHY harus kalah war tiket cawapres, karena NasDem bekerja sama dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk memasangkan Anies dengan Muhaimin Iskandar alias Cak Imin.
Khofifah Indar Parawansa
Khofifah Indar Parawansa sering diisukan menjadi kandidat cawapres di Pilpres 2024, karena memiliki popularitas dan elektabilitas yang sama dengan kandidat lain.
Ditambah dia memiliki basis massa yang diperlukan oleh semua capres, yaitu Nahdlatul Ulama dan penduduk Jawa Timur.
Sejak 2018, Khofifah sudah menjabat sebagai gubernur Jawa Timur dan dia pernah menjabat sebagai menteri pemberdayaan perempuan dalam kabinet Gus Dur, serta sebagai menteri sosial dalam kabinet Jokowi.
Selain reputasinya yang bagus sebagai politikus, Khofifah adalah figur penting dalam Nahdlatul Ulama, dengan posisinya sebagai Ketua Umum PP Muslimat NU.
Tak heran, Khofifah menjadi figur yang paling dicari menjelang Pilpres 2024. Meskipun tidak terpilih, namun Khofifah pernah disebut oleh NasDem sebagai pendamping Anies Baswedan sebagai cawapres.
Ridwan Kamil
Dilihat dari persaingan ketat capres 2024, Ridwan Kamil atau Kang Emil, merupakan salah satu kandidat yang paling menonjol karena reputasinya menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah.
Ridwan Kamil memutuskan untuk bergabung dengan Partai Golkar pada 18 Januari 2023 untuk menyambut Pilpres 2024.
Ridwan Kamil langsung dapat jabatan wakil ketua umum dan co-chair Badan Pemenangan Pemilu Partai Golkar secara langsung.
Sebenarnya, konflik internal di Golkar sempat menghambat upaya Emil untuk menjadi cawapres, termasuk sejumlah faksi mengganggu kepemimpinan Airlangga Hartarto.
Meskipun Golkar telah pulih dari konflik internal, namun sebenarnya mereka masih belum memutuskan untuk mengusung capres dan cawapres karena menginginkan Airlangga untuk menjadi capres 2023.
Itulah sosok yang memiliki popularitas tinggi, namun gagal dalam war tiket cawapres dan tidak dipilih oleh ketiga capres yang sudah daftar KPU.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









