Ramai di TikTok, Ini Sejarah Tugu Abel Tasman di Gunung Marapi Sumatera Barat, Tempat Pendaki yang Punya Kenangan Pilu

AKURAT.CO- Gunung Marapi di Sumatera Barat mengalami erupsi eksplosif, Minggu (3/12/2023), tepatnya pada pukul 14.54 WIB.
Hingga kemarin siang, Gunung Marapi masih terus mengeluarkan semburan api.
Saat ini, ramai perhatian masyarakat yang difokuskan pada sebuah monumen di Gunung Marapi yang dikenal sebagai Tugu Abel Tasman. Apa sebenarnya Tugu Abel Tasman tersebut?
Sejarah Tugu Abel Tasman di Gunung Marapi
Bagi para pendaki yang pernah singgah ke Gunung Marapi, Tugu Abel Tasman adalah suatu tempat yang familiar.
Monumen ini sering difungsikan sebagai penunjuk arah untuk mencapai puncak Merpati yang merupakan puncak tertinggi dari Gunung Marapi.
Dikutip dari berbagai sumber, Kamis (7/12/2023), Abel Tasman adalah seseorang lulusan SMA 6 Padang dan anggota komunitas JIPALA, terlibat dalam sebuah perjalanan pendakian Gunung Marapi pada 5 Juli 1992 bersama dengan teman-temannya, termasuk Herwin Sukhavira dan Firdaus Tan Juang.
Saat itu, Abel Tasman bersama dengan sembilan rekan yang merupakan gabungan pecinta alam berencana untuk mendaki Gunung Marapi.
Setelah makan dan beristirahat, mereka bertemu dengan kelompok Rizal dari Pattimura Padang yang terdiri dari 5 orang termasuk Abel Tasman dan Sulastri. Bersama-sama, mereka melanjutkan pendakian menuju Simabua, sehingga total pendaki mencapai 15 orang.
Ketika mencapai puncak merpati, beberapa anggota rombongan termasuk Herwin, memutuskan untuk turun lebih dulu menuju Simabua, sementara Abel dan Sulastri tetap berada di dekat puncak merpati.
Pada sekitar pukul 09.15 WIB, Gunung Marapi tiba-tiba meletus, mengeluarkan awan panas yang bercampur debu dan disertai dentuman suara keras. Dalam kondisi panik, orang-orang berlarian menuruni puncak merpati.
Pada saat itulah, Abel dan Sulastri berada sekitar 10-15 meter dari Puncak Merpati. Setelah Gunung Marapi berhenti meletus, pendaki lainnya berusaha menolong mereka yang mengalami luka akibat peristiwa tersebut.
Pendaki lain mendengar suara permintaan tolong dari Sulastri. Sulastri menceritakan bahwa ia terluka di bahunya akibat terkena pecahan batu dan sempat kehilangan kesadaran.
Ketika Sulastri sadar, ia menemukan Abel Tasman sudah tergeletak di batu.
Berdasarkan kesaksian salah satu pendaki, terungkap bahwa batu seukuran bola kaki menghantam samping kepala Abel yang menyebabkannya langsung tewas.
Melihat Abel yang sudah meninggal, para pendaki terpaksa kembali turun untuk mendapatkan pertolongan dan perawatan bagi yang terluka.
Setelah semua pendaki berkumpul di bawah, disimpulkan bahwa hanya Abel yang menjadi korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Keesokan harinya, Tim SAR melakukan evakuasi terhadap jenazah Abel. Hasil otopsi menunjukkan bahwa Abel meninggal karena terkena benda keras di kepalanya.
Sekitar tahun 1993-1994, didirikan tugu atau prasasti untuk memperingati Abel Tasman dengan partisipasi sekitar 100 pendaki dalam pemasangannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










