Inilah Tata Cara dan Sejarah Carok, Berawal dari Pemberontakan Masyarakat Madura ke VOC Belanda pada Abad 18 M

AKURAT.CO Insiden carok massal di Bangkalan, Jawa Timur, menyebabkan kesedihan mendalam karena menewaskan empat orang, Jumat (12/1/2024).
Kapolres Bangkalan, AKBP Febri Isman Jaya, mengungkapkan bahwa pihak kepolisian telah berhasil menangkap dua orang pelaku yang terlibat dalam peristiwa carok tersebut yang juga merupakan saudara kandung.
Alasan di balik insiden carok mematikan yang merenggut empat korban ini bermula dari perselisihan terkait lampu sorot motor yang menyebabkan luka pada mata seseorang, serta teguran terkait kecepatan berlebih motor yang melintas.
Keempat korban yang kehilangan nyawa akibat konflik tersebut adalah MTD dari Desa Larangan, MTJ dari Desa Larangan, NJR dari Desa Larangan, dan HFD dari Desa Banyuanyar.
Sehubungan dengan hal itu, simak berikut tata cara dan sejarah tradisi Carok Madura.
Sejarah Carok
Masyarakat Madura mengusung filosofi atau semboyan "Lebbi Begus Pote Tollang E Tembeng Pote Matah," yang dapat diartikan sebagai lebih baik meninggal di bawah tanah daripada harus menanggung malu.
Filosofi ini menjadi landasan untuk berkembangnya tradisi carok. Asal-usul tradisi carok dapat ditelusuri pada periode penjajahan Belanda pada abad ke-18 M di Pulau Madura.
Awal mula munculnya carok terkait dengan peristiwa penangkapan dan hukuman gantung terhadap pemberontak bernama Pak Sakera di Pasuruan, Jawa Timur.
Pada masa itu, ketika masyarakat Madura mulai memberontak, mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi oleh pihak penjajah Belanda.
Strategi Belanda adalah menciptakan konflik internal, dengan memprovokasi kelompok keluarga Blater (jagoan) sebagai alat mereka melawan kelompok rakyat yang memberontak.
Carok pada zaman itu bukanlah pertarungan dengan senjata tradisional seperti pedang atau keris, melainkan menggunakan celurit sebagai senjata utama.
Belanda sengaja memberikan celurit ini kepada kelompok Blater untuk merusak citra Pak Sakera sebagai pemilik sah celurit, yang pada awalnya digunakan sebagai simbol perlawanan.
Dengan demikian, celurit berubah menjadi simbol kekuasaan dan pertarungan antara golongan.
Bagi Belanda, celurit melambangkan senjata para jagoan dan penjahat, menciptakan filosofi hidup yang meresap dalam masyarakat Madura.
Carok memiliki akar penyebab utama yang melibatkan perselingkuhan, pelecehan terhadap istri orang, serta sengketa terkait tanah dan sumber daya alam.
Tata cara Carok
Pelaksanaan carok dibedakan menjadi dua metode utama, yaitu ngonggai dan nyelep, dengan menggunakan senjata khas Madura, yaitu celurit.
Adapun persyaratan untuk terlibat dalam carok mencakup kesiapan fisik dan mental (kadigdajan), kekebalan tubuh (tampeng sereng), serta kemampuan finansial untuk memulai dan menanggung biaya selama proses carok (banda).
Proses carok melibatkan berbagai tahapan, termasuk persetujuan dari keluarga, pelaksanaan di lokasi terpencil yang sulit dijangkau oleh masyarakat umum, serta pertukaran celurit dan penyampaian pesan kepada keluarga masing-masing jika ada korban jiwa.
Sebelum terlibat dalam duel, para pelaku carok umumnya meminta restu dan doa dari keluarga mereka.
Setiap pelaku harus mendapatkan persetujuan keluarga sebelum terlibat dalam pertarungan tersebut.
Meskipun telah banyak ditinggalkan oleh masyarakatnya, carok tetap menjadi bagian dari warisan budaya di Madura.
Tradisi ini mencerminkan kompleksitas nilai-nilai dan tradisi yang masih dihormati dalam masyarakat setempat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










