Akurat
Pemprov Sumsel

Fakta-fakta Kasus Bullying Siswa SD di Subang hingga Meninggal Dunia, Diduga Pelaku Kakak Kelasnya!

Iim Halimatus Sadiyah | 26 November 2024, 11:24 WIB
Fakta-fakta Kasus Bullying Siswa SD di Subang hingga Meninggal Dunia, Diduga Pelaku Kakak Kelasnya!

AKURAT.CO Seorang siswa SD berinisial AR (9) di Subang, Jawa Barat, diduga menjadi korban bullying oleh tiga kakak kelasnya hingga mengalami koma.

Korban yang merupakan siswa kelas 3 SDN Jayamukti di Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, sempat berjuang melakukan perawatan intensif di ICU anak RSUD Subang hingga akhirnya dinyatakan meninggal. 

Selain itu, siswa SD yang menjadi korban bullying di Subang diketahui mengalami serangkaian tindakan kekerasan, termasuk dipukul, dijedotkan ke tembok, dan ditendang.

Peristiwa tragis ini menyoroti pentingnya pencegahan dan penanganan kasus perundungan di sekolah.

Baca Juga: VIRAL Kasus Bullying Siswa SD Oleh Kakak Kelas di Subang, Korban Alami Sakit Kepala hingga Meninggal Dunia

Polisi dan pemerintah setempat telah mengambil langkah untuk mengusut kasus ini sekaligus meningkatkan sosialisasi anti-bullying.

Dikutip berbagai sumber, Selasa (26/11/2024), berikut ini fakta-fakta kasus bullying Siswa SD di Subang oleh kakak kelasnya.

Fakta-fakta Kasus Bullying Siswa SD di Subang

1. Korban dipalak tiga kakak kelas

Keluarga korban, Sarti, mengungkapkan bahwa sebelum AR tidak sadarkan diri, ternyata ia sempat mengaku telah dipukul oleh tiga kakak kelasnya.

Ketiga pelaku tersebut berinisial M, D, dan O, yang merupakan siswa kelas 4 dan kelas 5 di sekolah yang sama.

Baca Juga: Live Draw Toto Macau 4D Viral, Ini 5 Kerugian Bermain Judi Online dalam Islam

"Kejadiannya pas jam istirahat sekolah, AR dipalak oleh ketiga kakak kelasnya tersebut, namun AR tak mau memberikan uang yang diminta oleh ketiga kakak kelasnya tersebut, hingga akhirnya AR dipukuli," jelas Sarti.

2. Korban sakit kepala dan muntah-muntah

Kasus ini bermula ketika AR mengungkapkan kepada keluarganya bahwa ia mengalami sakit kepala yang parah dan muntah-muntah usai menjadi korban kekerasan di sekolah.

"AR sempat mengeluh sakit di kepala hingga muntah-muntah," ucap Sarti.

Bahkan, kondisinya semakin memburuk ketika ia kesulitan membuka mata serta harus merangkak untuk berjalan.

Keluarga korban menyebutkan bahwa AR sempat menyebutkan bahwa ia dipukul, dijedotkan ke tembok, dan ditendang oleh tiga kakak kelasnya karena tidak mau memberikan uang.

Kondisinya yang semakin kritis, membuat ia harus dibawa ke RSUD Subang dan menjalani perawatan intensif selama tiga hari, sebelum dinyatakan meninggal pada Senin, 25 November 2024, pukul 16.10 WIB.

3. Korban alami pendarahan otak

Setelah dibawa ke RSUD Subang, AR dirawat di ruang ICU dalam kondisi koma dan dokter menemukan gejala pendarahan di otak yang diduga disebabkan oleh benturan keras.

Selama perawatan, kondisi ARO terus memburuk, sehingga pemeriksaan lebih lanjut sulit dilakukan.

Baca Juga: Video Viral Onic Vior Dicari Netizen, Ini Pentingnya Menjaga Pandangan dalam Islam

Wakil Direktur RSUD Subang, dr. Syamsul Riza, menyatakan bahwa sejak awal perawatan, pasien menunjukkan tanda-tanda kematian batang otak.

Meskipun hasil autopsi masih diperlukan untuk memastikan penyebab kematian, dugaan sementara mengarah pada cedera fisik akibat kekerasan.

Proses autopsi diharapkan dapat memberikan kejelasan lebih lanjut dalam penyelidikan kasus ini.

4. Pihak sekolah mengaku tidak tahu

Kepala Sekolah SDN Jayamukti, Kasim, menjelaskan bahwa korban sempat hadir ke sekolah sebelum kondisinya memburuk.

Baca Juga: Video Dugaan Politik Uang Paslon di Kaltim Viral, Tagar 'Lawan Politik Uang' Trending di Medsos

Namun, pihak sekolah baru mengetahui adanya dugaan perundungan setelah AR dikabarkan jatuh koma dan dirawat intensif di RSUD Ciereng Subang.

"Kejadiannya, terjadi sekitar satu mingguan, itu pun Korban AR sempat masuk sekolah, dan tidak menunjukkan sakit atau apa tidak dan ketika di-bully pun tidak ada yang lapor ke pihak sekolah, makanya sekolah tidak tahu," ujarnya.

5. Kepala Sekolah dinonaktifkan

Peristiwa ini mendapat perhatian langsung dari PJ Bupati Subang, Imran, yang menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memberantas bullying di sekolah melalui sosialisasi dan penegakan hukum.

Sebagai langkah tegas, kepala sekolah tempat korban bersekolah dinonaktifkan sementara hingga penyelidikan selesai, sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kasus ini.

Kini, kasus dugaan perundungan ini sedang ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Reskrim Polres Subang.

Kapolres Subang AKBP Ariek Indra Sentanu, melalui Kanit PPA Satreskrim Polres Subang, Aiptu Nenden Nurfatimah, menegaskan bahwa kasus kekerasan yang dialami oleh korban, Albi, masih dalam tahap penyelidikan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.