Akurat
Pemprov Sumsel

Pakar UB: Konflik Yai Mim dan Sahara Tunjukkan Bahayanya Kekuatan Narasi di Media Sosial

Fajar Rizky Ramadhan | 10 Oktober 2025, 08:00 WIB
Pakar UB: Konflik Yai Mim dan Sahara Tunjukkan Bahayanya Kekuatan Narasi di Media Sosial

AKURAT.CO Konflik antara Yai Mim dan Sahara yang ramai di media sosial akhir-akhir ini menjadi perhatian banyak pihak. Pakar komunikasi Universitas Brawijaya (UB), Ahmad Rofi, menilai peristiwa tersebut menunjukkan betapa berbahayanya kekuatan narasi di ruang digital ketika tidak diimbangi dengan literasi media yang baik.

Menurut Rofi, media sosial kini telah menjadi arena baru pembentukan opini publik yang sering kali lebih kuat pengaruhnya dibandingkan media arus utama. Ia menegaskan bahwa benturan narasi keagamaan atau personal di platform digital bisa cepat meluas, membentuk persepsi publik tanpa proses klarifikasi yang sehat.

“Fenomena Yai Mim dan Sahara ini bukan sekadar konflik dua individu, tapi representasi dari pertarungan simbol dan makna di media sosial. Di situ ada produksi narasi, ada kontestasi makna, dan ada perebutan ruang pengaruh,” ujar Rofi kepada wartawan, Rabu (8/10/2025).

Baca Juga: Yai Mim Klarifikasi: Tidak Dipecat UIN Malang, Hanya Menonaktifkan Diri untuk Fokus Kasus

Ia menambahkan bahwa kekuatan narasi di media sosial tidak bisa dianggap remeh. Satu unggahan saja, jika disusun dengan emosi dan framing yang kuat, dapat memicu reaksi masif dan memengaruhi reputasi seseorang.

“Bahaya narasi di media sosial itu ada pada kecepatannya. Ia bisa menciptakan opini sebelum fakta muncul. Ketika publik sudah terbentuk persepsinya, klarifikasi seringkali tidak lagi didengar,” tambahnya.

Rofi menilai, kasus ini menjadi momentum penting bagi masyarakat, khususnya kalangan pesantren dan akademisi, untuk memperkuat budaya literasi digital dan etika bermedia.

“Ulama, dosen, dan tokoh publik harus punya kesadaran baru dalam berkomunikasi di ruang digital. Karena sekarang, satu kata bisa ditafsirkan seribu arah,” katanya menegaskan.

Sementara itu, ia juga mengingatkan bahwa kekuatan narasi bisa menjadi positif bila diarahkan dengan benar. “Narasi yang baik bisa membangun harmoni sosial, memperkuat moderasi beragama, dan menumbuhkan empati publik. Tapi kalau salah kelola, ia jadi alat polarisasi dan permusuhan,” ujarnya.

Baca Juga: LBHAM: RT yang Terbukti Usir Yai Mim Wajib Diproses Hukum

Konflik antara Yai Mim dan Sahara sendiri muncul setelah keduanya saling melontarkan pernyataan melalui video pendek yang viral di media sosial. Warganet terbelah antara pihak yang mendukung dan yang mengkritik, hingga memunculkan gelombang debat di berbagai platform.

Rofi menutup pandangannya dengan seruan agar publik tidak terjebak dalam narasi tunggal yang belum tentu benar. “Kita perlu kembali pada prinsip tabayyun—cek dulu sebelum menyebar. Jangan sampai kita ikut memperkuat narasi yang menyesatkan,” pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.