Akurat Logo

Prancis Terbuka: Protes Hadiah Terlalu Kecil, Aryna Sabalenka Ogah Lama-lama Konferensi Pers

Dian Eko Prasetio | 23 Mei 2026, 19:01 WIB
Prancis Terbuka: Protes Hadiah Terlalu Kecil, Aryna Sabalenka Ogah Lama-lama Konferensi Pers
Petenis ranking satu dunia asal Belarusia, Aryna Sabalenka, dalam sesi konferensi pers Prancis Terbuka 2026 di Paris, Prancis, Jumat (22/5/2026) waktu setempat.

AKURAT.CO, Atmosfer menjelang turnamen Grand Slam Roland Garros atau Prancis Terbuka 2026 langsung memanas sebelum laga resmi dimulai.

Ditandai dengan petenis putri nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, memimpin aksi protes massal para pemain top dunia dengan membatasi durasi sesi konferensi pers mereka di hadapan media di Paris, Prancis, Jumat (22/5/2026) waktu setempat.

Aksi pembatasan durasi wawancara menjadi maksimal 15 menit ini merupakan bentuk protes keras para petenis terhadap pembagian persentase hadiah uang (prize money) Prancis Terbuka yang dinilai terlalu kecil.

Durasi konferensi pers selama 15 menit tersebut dipilih secara sengaja sebagai simbol sindiran terhadap pihak penyelenggara Prancis Terbuka yang sejauh ini hanya mengalokasikan 15 persen dari total pendapatan turnamen untuk hadiah para pemain.

Aryna Sabalenka yang menjadi salah satu sosok utama dalam pergerakan ini, menegaskan bahwa aksi mereka ini terpaksa dilakukan demi menuntut keadilan.

Petenis berusia 28 tahun itu hanya bersedia melayani wawancara pemegang hak siar selama lima menit, disusul sepuluh menit sesi tanya jawab bersama wartawan tulis.

"Saya berada di sini untuk berbicara dengan kalian karena saya menghormati kalian. Kami hanya ingin menegaskan sikap kami dan kami semua bersatu di sini, 15 menit lebih baik daripada nol," kata Arya Sabalenka dalam konferensi persnya, dikutip BBC.

Petenis asal Belarusia tersebut bahkan sebelumnya sempat melontarkan peringatan keras bahwa para pemain tidak akan ragu untuk melakukan aksi boikot total terhadap turnamen Grand Slam di masa mendatang jika tuntutan mereka terus diabaikan.

"Kami tahu apa yang sedang terjadi di sini," lanjut pernyataan juara bertahan Australia Terbuka tersebut.

Aksi boikot 15 menit yang digawangi Sabalenka ini langsung diikuti oleh deretan petenis elite lainnya pada sesi media day.

Mulai dari petenis nomor satu dunia sektor putra Jannik Sinner, juara Roland Garros empat kali Iga Swiatek, hingga juara bertahan putri Coco Gauff.

"Saya bangga bahwa kami semua (para pemain) bisa berada di halaman yang sama," kata Coco Gauff.

Sementara itu, Jannik Sinner menyuarakan bahwa pihak Grand Slam selama ini kurang menunjukkan rasa hormat kepada para atlet yang menjadi komoditas utama turnamen.

Sedangkan legenda tenis putra, Novak Djokovic, meski tidak ikut dalam aksi pembatasan durasi tersebut karena tidak terlibat dalam perencanaan awal, menyatakan dukungan penuhnya terhadap perjuangan hak-hak pemain.

"Saya selalu berada di sisi pemain dan mencoba mengadvokasi hak-hak serta masa depan yang lebih baik untuk mereka. Kita sering lupa betapa sedikitnya jumlah petenis yang benar-benar bisa hidup mapan dari olahraga ini," kata Djokovic.

Perselisihan yang telah berlangsung lama antara para pemain top-20 dunia dengan pihak penyelenggara Grand Slam ini berpusat pada tiga poin krusial, yaitu rasio hadiah uang, kesejahteraan atlet, dan terakhir terkait jadwal pertandingan.

Merespons aksi mengejutkan ini, Direktur Turnamen Prancis Terbuka, Amelie Mauresmo, mengaku sangat sedih dengan langkah radikal yang diambil oleh para pemain.

Namun ia optimistis masalah finansial ini akan segera menemui titik temu melalui jalur negosiasi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.