AKURAT.CO, Indonesia hanya mampu menambah dua medali perunggu nomor perorangan Kejuaraan Dunia Bulutangkis Junior 2024.
Hasil itu diperoleh setelah sebelumnya Indonesia berhasil merebut Piala Suhandinata yang merupakan gelar beregu Kejuaraan Dunia Bulutangkis Junior dengan mengalahkan China di babak final.
Pelatih Kepala PBSI yang juga manajer tim, Rionny Mainaky, tidak puas dengan apa yang didapatkan pasukan muda Cipayung di Kejuaraan Dunia Bulutangkis Junior.
Dia menilai Moh Zaki Ubaidillah dan kolega sebenarnya punya kualitas yang sama dengan lawan-lawanya namun belum cukup kuat.
"Memang harus diakui, kami belum cukup baik. Terlihat di babak delapan besar, ada beberapa pemain yang seharusnya bisa menang, tapi karena melakukan kesalahan sendiri jadi kalah," kata Rionny di Nanchang, China, Minggu (13/10), melalui keterangan resminya.
"Mereka memiliki potensi dan kualitas yang bagus, tinggal ke depan kami membenahi untuk lebih baik lagi. Di tim kepelatihan, dan saya sebagai kepala pelatih harus lebih kerja keras di tahun depan."
Dari hasil evaluasi, ada beberapa kekurangan yang harus segera ditingkatkan skuad muda Cipayung jika ingin bersaing dengan rival-rival dari negara lain.
Menurut kakak kandung Rexy Mainaky itu, daya juang pasukannya di lapangan masih sangat minim.
"Kami musti pelajari (daya juang) dari China dan Jepang. Bermain rapi, stamina dan pembentukan otot juga mesti ditingkatkan. Ini pekerjaan rumah yang harus segera dikerjakan kalau tidak mau tertinggal," tegas Rionny.
"Secara persiapan, tim ini sudah melangsungkan pemusatan latihan selepas Kejuaraan Asia Junior. Ada beberapa try out kejuaraan juga sebagai bekal persiapan. Tapi melihat (hasil) ini, saya rasa memang harus ditambah."
Pelatih sektor tunggal putri, Indra Widjaja, tidak ketinggalan untuk mengomentari penampilan anak-anak asuhnya. Khususnya terhadap Mutiara Ayu Puspitasari yang dinilai tampil belum konsisten.
Tampil cukup baik di nomor beregu, Mutiara belum mampu menampilkan performa yang sama saat turun di nomor perorangan. Di bahkan sudah harus tersingkir pada putaran ketiga.
"Secara penampilan, Mutiara belum konsisten. Ada bagus, ada kurangnya. Waktu bermain beregu, boleh saya bilang cukup luar biasa, tapi saat perorangannya kurang 'megang'," ucap Indra.
"Faktor secara non-teknisnya lebih besar pengaruhnya. Secara strategi dan teknis sudah disiapkan, tapi karena beban, semua itu (permainannya) jadi tidak keluar."
Walau harus tersingkir lebih awal, Indra tetap mencoba untuk membesarkan hati anak asuhnya itu lantaran ini adalah Kejuaraan Dunia Junior terakhirnya. Tapi, bukan yang terakhir untuk kariernya.
"Ini sebagai batu loncatan yang cukup bagus untuk dia melewati beregu dengan juara sebagai kapten tim, bagaimana bertanggungjawab dengan timnya walau akhirnya di perorangannya kurang bagus," ucapnya.
"Yang terpenting batu loncatan ini bisa membuat dia berbicara banyak di level senior nanti. Sepulang dari sini, kurang dari satu minggu Mutiara akan langsung turun bertanding di Surabaya (Indonesia International Challenge dan Indonesia Masters Super 100)."