Jepang Terbuka 2025: Tunggal Putri Gatot! Imam Tohari Soroti Ritme Gregoria dan Fokus Putri
Annisa Fadhilah | 19 Juli 2025, 20:24 WIB

AKURAT.CO Pelatih kepala sektor tunggal putri Pelatnas PBSI, Imam Tohari, memberikan evaluasi terhadap penampilan dua wakil Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung dan Putri Kusuma Wardani, di ajang Super 750 Jepang Terbuka 2025.
Mengomentari penampilan Gregoria, Imam menilai anak asuhnya itu masih belum sepenuhnya pulih setelah absen selama tiga bulan dari turnamen internasional.
Baca Juga: Malaysia Terbuka: Imam Tohari Sebut Gregoria dan Putri Sudah Bagus, Hanya Harus Lebih Tenang
Hal tersebut terlihat jelas dari cara bermain yang belum konsisten serta insting bermain yang belum kembali ke performa terbaiknya.
"Untuk Gregoria, setelah absen tiga bulan ini, terlihat cara bermain dan insting-insting permainannya yang hilang. Dia belum menemukan ritme permainan yang semestinya," kata Imam.
Dia menyoroti bahwa di level turnamen sekelas Super 750 dan Super 1000, daya tahan menjadi aspek yang sangat krusial, mengingat pertandingan sering kali diwarnai reli-reli panjang yang menguras stamina.
"Selain fisik, fokus juga harus tahan. Ini yang belum kembali dari dia. Kelincahan dan pukulan Gregoria juga masih ada keterbatasan. Jadi ini pelajaran-pelajaran penting menjelang World Championships nanti," tambahnya.
Sementara itu, performa Putri Kusuma Wardani dinilai cukup memuaskan secara keseluruhan. Imam mengapresiasi peningkatan signifikan dari segi teknik, kesabaran bermain, serta pengurangan kesalahan sendiri yang sebelumnya menjadi kelemahan.
"Sebagai pelatih saya merasa puas tapi sekaligus sedikit kecewa. Puas karena ada grafik peningkatan, baik dari cara main, dari kesabaran, dan dari senjata-senjata yang sering mati sendiri. Insting dan daya tahan fisik Putri juga meningkat," beber Imam.
Namun, Imam menyayangkan kegagalan Putri dalam memanfaatkan peluang saat melawan unggulan asal Tiongkok, Wang Zhi Yi. Dia menilai ada beberapa aspek mendasar yang seharusnya bisa dihindari Putri jika bermain lebih fokus.
"Kecewanya adalah seharusnya di gim kedua atau gim ketiga kemarin saat melawan Wang Zhi Yi, bisa mengambil (gim). Tapi ada hal kecil, seperti kurang sabar yang justru masih dilakukan. Ini yang perlu diperhatikan ke depannya," tutup Imam.
Dengan masih adanya waktu menjelang Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2025, Imam berharap keduanya bisa memaksimalkan proses pemulihan dan evaluasi untuk kembali tampil kompetitif di level tertinggi.
Apalagi setelah ini keduanya masih akan berjuang di ajang Super 1000 China Terbuka 2025 yang akan bergulir pekan depan di Olympic Sport Center Gymnasium, Chanzhou, mulai 22-27 Juli.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









