Akibat tindakannya, pengadilan yang dipimpin tiga hakim panelis tersebut memutuskan Dani Alves bersalah pada Kamis (22/2). Alves harus menjalani hukuman penjara selama empat setengah tahun dan harus membayarkan denda kepada korban sebesar 50 ribu euro atau setara Rp846 juta.
Putusan ini adalah tindak lanjut dari persidangan yang sudah berlangsung selama tiga hari pada bulan ini. Selama persidangan Dani Alves membantah melakukan pemerkosaan dan bisa mengajukan banding atas putusan tersebut.
Pengadilan memutuskan bahwa Dani Alves telah melakukan pelecehan seksual terhadap korbannya pada pagi hari 31 Desember 2022. Korban mengatakan bahwa Alves memperkosanya di sebuah kamar mandi sebuah klub malam kelas atas di Barcelona.
"Putusan tersebut mempertimbangkan bahwa korban telah terbukti tidak menyetujui (hubungan seks dengan Alves) selain kesaksian penggugat, yang menanggap pemerkosaan tersebut (telah) terbukti," kata Pengadilan sebagaimana dikutip dari laman rte.ie.
Korban mengatakan kepada jaksa penuntut bahwa dia berdansa dengan Alves sebelum diajak masuk ke kamar mandi klub malam. Tetapi, ketika dia ingin meninggalkan kamar mandi Alves tidak mengizinkannya.
Korban menyebut Alves juga menampar, menghina, dan memaksanya melakukan hubungan seksual yang bertentangan dengan keinginannya.
Selama tahap investigasi, Alves mengubah pembelaannya saat berada dalam tahanan. Pertama-tama dia menyangkal adanya kontak seksual dengan korban sebelum mengakui hubungan seksual yang dilakukannya itu atas dasar suka sama suka.
Selama persidangan, pembelaannya berfokus pada upaya menunjukjan bahwa Alves sedang mabuk saat bertemu dengan wanita tersebut.
Alves sendiri telah berada di penjara sejak ditahan pada 20 Januari silam. Permintaan jaminannya ditolak pengadilan karena dianggap berisiko melarikan diri.
Terlebih, Brasil sebagai negara tempat tinggal Alves tidak mengekstradisi warganya ketika mereka dijatuhi hukuman di negara lain.
Kasus ini menarik perhatian besar bukan hanya karena profil Alves, namun juga karena kekerasan gender telah menjadi topik yang semakin dominan dalam wacana publik Spanyol.
Ini adalah salah satu persidangan paling terkenal di Spanyol sejak undang-undang yang disahkan pada tahun 2022 menjadikan persetujuan sebagai elemen kunci dalam kasus kekerasan seksual dan meningkatkan hukuman penjara minimum untuk penyerangan yang melibatkan kekerasan.