PSSI Godok Format Piala Presiden 2026, Masih Buka Opsi Datangkan Tim Luar Negeri

AKURAT.CO, Kesuksesan penyelenggaraan Piala Presiden 2025 di Jakarta dan Bandung pada Juli tahun lalu menyisakan kesan mendalam. Tidak hanya bagi pencinta sepakbola nasional, tetapi juga kontestan mancanegara.
Turnamen pramusim bergengsi ini berhasil menarik perhatian publik lewat kehadiran dua klub luar negeri, Port FC dari Thailand dan Oxford United dari Inggris.
Keikutsertaan klub luar negeri tersebut memberikan warna baru sekaligus meningkatkan level kompetisi di tanah air. Port FC bahkan mencatatkan sejarah dengan keluar sebagai juara dalam edisi tersebut.
Fenomena ini memicu PSSI untuk segera mematangkan rencana penyelenggaraan edisi berikutnya demi menjaga momentum positif industri sepakbola Indonesia.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengungkapkan bahwa pihaknya kini tengah serius menggodok format baru untuk Piala Presiden 2026.
Fokus utamanya adalah menentukan formula yang tepat agar turnamen ini tetap kompetitif dan memiliki nilai jual tinggi.
Erick Thohir menjanjikan detail mengenai struktur kompetisi tersebut akan segera diumumkan dalam waktu dekat.
"Ini masih kami godok lah. Mudah-mudahan Kamis sudah ada formulanya," ujar Erick Thohir saat memberikan keterangan di SCTV Tower, Senayan, Jakarta, Minggu (12/4/2026) malam.
Pernyataan ini sekaligus menjadi jawaban atas rasa penasaran publik mengenai kelanjutan keterlibatan klub internasional di edisi mendatang.
Menurut Erick, respons dari Port FC dan Oxford United terhadap penyelenggaraan tahun lalu sangat luar biasa. Kedua klub tersebut mengaku terkesan dengan atmosfer pertandingan di Indonesia.
Ketertarikan mereka untuk kembali berlaga di tanah air menjadi indikator bahwa standar turnamen pramusim Indonesia mulai diakui secara global.
Erick menegaskan bahwa keinginan klub luar negeri untuk kembali berpartisipasi adalah sinyal positif bagi ekosistem sepakbola nasional.
"Tentu sangat positif ya. Mereka juga ada keinginan untuk kembali," kata Erick dengan nada optimistis.
Kendati demikian, ia menekankan perlunya pertimbangan matang mengenai format yang akan digunakan nantinya.
Fokus PSSI saat ini tidak hanya terbatas pada kehadiran tim tamu internasional, tetapi juga bagaimana menyinergikan turnamen ini dengan pembangunan Tim Nasional serta kompetisi domestik seperti Liga 1 dan Liga 2.
Erick ingin Piala Presiden memberikan dampak yang lebih luas, menyentuh akar rumput hingga ke tingkat daerah.
"Memang ada pemikiran bagaimana kontribusi untuk klub-klub yang ada di kabupaten, kota, dan tingkat tentu provinsi. Ini yang perlu kita libatkan lagi. Tapi belum tuntas, nanti kasih waktu hari Kamis ya," jelas pria yang juga menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga RI tersebut.
Di sisi lain, Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden, Maruarar Sirait, memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi yang terjalin selama ini.
Ia menilai keberhasilan tujuh edisi sebelumnya merupakan buah dari kerja keras kolektif. Menurutnya, harmonisasi antara regulator dan pemerintah menjadi kunci keberlanjutan turnamen ini.
"Terima kasih Pak Erick atas kepercayaannya. Pak Erick selalu memberikan value yang baik mengenai bagaimana ekosistem ini harus saling mendukung," ungkap Maruarar.
Ia menekankan bahwa keberhasilan Piala Presiden bukan karena peran satu individu saja, melainkan hasil kerja keras tim yang solid.
Maruarar mengibaratkan kesuksesan sepakbola sebagai kerja super tim, yang melibatkan klub, manajer, pemain, media, sponsor, hingga aparat keamanan dari TNI dan Polri.
Baginya, sinkronisasi antarunsur tersebut menciptakan ekosistem sepakbola yang sehat dan terkontrol secara profesional.
Menjelang edisi kedelapan, Maruarar menyatakan kesiapannya untuk kembali menjalankan amanah tersebut di bawah arahan PSSI.
Publik kini menanti apakah Piala Presiden 2026 akan kembali menghadirkan duel antarbangsa yang sengit atau justru memberikan kejutan baru melalui keterlibatan klub-klub dari pelosok daerah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









