Generasi Emas Inggris, 'Kambing Hitam' Selebritas, dan Kegagalan di Piala Dunia 2006

AKURAT.CO, Menjelang Piala Dunia 2026, publik Inggris melakukan retrospeksi 20 tahun pasca kegagalan mereka di Piala Dunia 2006 dengan skuad yang dianggap sebagai “generasi emas”.
BBC menurunkan sajian khusus retrospeksi tersebut dengan desain dan foto-foto lama berikut sejumlah aspek yang dianggap mewarnai gagalnya “the golden generation” menjuarai Piala Dunia yang ketika itu digelar di Jerman.
Disebut golden generation karena skuad Inggris asuhan mendiang Sven-Goran Eriksson kala itu dihuni oleh pemain-pemain elite di klub-klub raksasa Eropa. Mereka adalah juara Liga Champions, juara liga, bahkan pemenang Ballon D’Or.
Pelatih Timnas Inggris periode 2004-2006, Sven-Goran Eriksson (kanan) bersama salah satu pemainnya, David Beckham. X/Vok895.
Sekadar menyebut nama, The Three Lions edisi 2006 punya David Beckham, John Terry, Rio Ferdinand, Wayne Rooney, Frank Lampard, Steven Gerrard, Gary Neville, Michael Owen, dan Joe Cole.
Inggris waktu itu berada di grup B bersama Swedia, Paraguay, dan Trininad & Tobago. Mereka mengakhiri penyisihan sebagai juara grup dengan mengalahkan Paraguay (1-0), Trinidad & Tobago (2-0), serta imbang kontra Swedia (2-2).
Selepas mengalahkan Ekuador 1-0 di 16 besar, Inggris menemui antiklimaks generasi emas dengan kekalahan adu penalti kontra Portugal dengan skor 1-3 setelah 0-0 selama 120 menit.
“Saya tidak melihat kembali ke masa itu dengan sebarang tipe kegembiraan,” kata Rio Ferdinand yang merasa malu dengan sebutan “the golden generation” terhadap timnya di Piala Dunia 2006.
Selebritas dan WAG’S
Hal lain yang turut dipersalahkan adalah bagaimana budaya selebritas yang merasuk ke dalam dunia sepakbola ketika itu. Ditandai dengan sebuah pesta yang dituanrumahi David Beckham di mansion-nya di Hertfordshire, London, Inggris, menjelang tim berangkat ke Piala Dunia.
Beckham, yang kala itu menjadi sorotan sebagai pasangan selebritas bersama pentolan grup penyanyi Spice Girl, Victoria Beckham, menggelar pesta yang dikunjungi sejumlah pesohor dari dunia hiburan.
Penyanyi Robbie Williams tampil di pesta tersebut. Kemudian ada vokalis Black Sabbath, Ozzy Osbourne, beserta istrinya, Sharon Osbourne. Sementara juru masaknya adalah chef terkemuka, Gordon Ramsay.
Istri pemain Timnas Inggris David Beckham, Victoria Beckham (kanan), dan penyanyi Inggris Cheryl Tweedy (kiri), yang merupakan kekasih pemain Timnas Inggris lainnya, Ashley Cole, di sela Piala Dunia 2006. X/FourFourTwo.
Ketika mereka berangkat ke markas Timnas Inggris selama Piala Dunia di Baden-Baden, Jerman, gelimang selebrasi para pesohor mencapai puncaknya. Di masa sebelum media sosial, suasana tersebut diburu oleh paparazzi.
Salah satu yang menjadi perhatian ketika itu adalah kekasih dan istri para pesepakbola Timnas Inggris. Media menyebut kekasih dan istri itu dengan istilah WAG’S yang merupakan singkatan “wives and girlfriends”.
Salah satu momen yang menjadikan WAG’s sebagai kambing hitam adalah ketika para pasangan bintang-bintang sepakbola tersebut juga tiba di Baden-Baden dan dianggap sengaja memberi akses untuk paparazzi.
Para wanita ini diketahui menghabiskan ribuan Poundsterling sekali duduk di sebuah restoran Italia di Baden-Baden di mana paparazzi dan wartawan hiburan dengan mudahnya mendapatkan akses.
“Baden-Baden adalah (jalan) yang terseok-seok. Itu sirkus, media, paparazzi,” kata Ferdinand.
Pun demikian, mantan Direktur Eksekutif FA, David Davies, tak setuju bahwa WAG’s merupakan penyebab kegagalan Inggris di Piala Dunia 2006. Davies merujuk pemain Timnas Italia yang akhirnya menjadi juara juga membawa pasangan.
“Pendapat bahwa Inggris tak memenangi Piala Dunia 2006 karena istri-istri dan pacar seperti menyalahkan cuaca. Sama sekali tak masuk akal,” kata Davies.
Pertemanan Palsu di Skuad Timnas Inggris
Salah satu analisa yang sering dikemukakan dan agaknya cukup masuk akal atas kegagalan Inggris di Jerman 2006 adalah hubungan pribadi antar pemain yang tidak harmonis.
Ferdinand menganggap bahwa pemain Inggris di masa itu sangat terpengaruh oleh rivalitas klub. Para pemain banyak menahan diri ketika berada di skuad tim nasional sebagai sikap jaga-jaga ketika mereka kembali ke klub.
Rio Ferdinand mencontohkan interaksinya dengan gelandang Chelsea yang juga bekas rekan setimnya semasa masih di West Ham United, Frank Lampard.
Pemain Timnas Inggris, Wayne Rooney (9), ketika dikartumerah di laga perempat final Piala Dunia 2006 kontra Portugal di Gelsenkirchen, Jerman, 1 Juni 2006. X/LalaUTD.
“Jika kami ngopi bareng, saya tidak akan memberikan dia (informasi) apapun yang bisa dia bawa ketika kembali ke Chelsea dan menggunakannya untuk menentang saya,” kata Ferdinand.
“Sejujurnya saya percaya ketidakharmonisan–rivalitas–jelas memainkan peran besar yang membawa kami keluar dari jalan untuk menang.”
Namun begitu, Wayne Rooney, yang ketika itu baru berusia 20 tahun, tidak setuju. Rooney bahkan terkejut dengan wacana rivalitas klub berdampak pada pencapaian Tiga Singa di Jerman 2006.
“Saya menyukainya, saya suka bermain untuk Inggris. Saya suka bertemu dan bicara dengan setiap pemain. Saya tidak melihat (rivalitas) itu. Saya tidak merasa ada rivalitas antara para pemain,” kata Rooney.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal






