Bencana Banjir Bandang dan Longsor di Sumatera: Korban Tewas Tembus 300, Ratusan Masih Hilang

AKURAT.CO Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) mengakibatkan lebih dari 300 orang meninggal dunia.
Ribuan rumah rusak dan ribuan warga terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, melaporkan, 279 orang masih dinyatakan hilang berdasarkan data sementara. Operasi pencarian dan evakuasi terus dilakukan, namun terkendala kondisi cuaca dan medan yang rusak.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut hujan ekstrem yang memicu bencana di tiga provinsi tersebut dipengaruhi oleh Siklon Senyar, fenomena langka yang jarang terbentuk di wilayah khatulistiwa.
Pengiriman Bantuan Dipercepat
Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menjelaskan bahwa pemerintah telah mengerahkan empat pesawat bantuan—tiga Hercules dan satu A400—untuk mempercepat distribusi logistik ke wilayah terdampak.
"Pesawat akan diterbangkan ke Bandara Padang (Sumbar), Bandara Silangit (Sumut), serta ke Banda Aceh dan Lhokseumawe sebagai lokasi terdekat dari titik bencana," ujarnya.
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) juga terus menyalurkan bantuan di sejumlah titik di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Baca Juga: 36 Tahun Mengabdi, Guru Honorer di NTT Akhirnya Diangkat PPPK: Terima Kasih Pak Prabowo
Hujan yang masih mengguyur wilayah tersebut membuat tim di lapangan harus bekerja ekstra untuk memastikan bantuan tetap tersampaikan.
Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, mengatakan distribusi bantuan dilakukan di 10 lokasi, termasuk Nagari Pulau Aia, Pauh Kambar, Kapalo Koto, Ulakan, Singai Gimba, Tapakis, Surantih, Kasang, Bisati, dan Galapung.
Bantuan yang diberikan meliputi beras, telur, dan minyak goreng untuk dapur umum.
Distribusi dilakukan menggunakan satu ambulans dan satu mobil Hilux, dengan dukungan personel BTB Provinsi Sumbar serta BTB Padang Pariaman.
Sejumlah nagari seperti Galapung, Ulakan Tapakis, Sungai Buluh Barat, dan Pauh Kambar mengalami luapan air sungai hingga masuk ke rumah warga dan area sekolah. Banyak anak terpaksa belajar di ruang darurat atau sementara diliburkan.
Saidah menyampaikan belasungkawa dan mengajak masyarakat terus membantu penyintas bencana.
“BAZNAS turut prihatin. Kami mengajak masyarakat mendoakan para korban dan mendukung program kemanusiaan agar penanganan bencana dapat berkelanjutan,” ujarnya.
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menyebut Siklon Senyar merupakan fenomena langkakarena hampir tidak pernah terbentuk di wilayah katulistiwa seperti Indonesia.
Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) menilai kerusakan lingkungan, terutama akibat industri ekstraktif, memperburuk dampak hujan ekstrem.
Baca Juga: Strategi Penggunaan Hashtag di Media Sosial agar Konten Mudah Viral
Peneliti Limnologi BRIN, Fakhrudin, menambahkan bahwa pembangunan yang masif membuat sungai mendangkal dan berubah bentuk, sehingga memperparah banjir saat intensitas hujan meningkat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










