Akurat
Pemprov Sumsel

Patung Fatmawati dan Filosofi Merah Putih di Taman Bendera Pusaka

Okto Rizki Alpino | 16 Maret 2026, 08:29 WIB
Patung Fatmawati dan Filosofi Merah Putih di Taman Bendera Pusaka
Patung Fatmawati di Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan. (Humas Pemprov Jakarta)

AKURAT.CO Suasana berbeda terasa di Kawasan Jakarta Selatan pada Sabtu (14/3/2026) sore lalu.

Di antara rimbun pepohonan dan jalur pedestrian yang tertata rapi, sebuah ruang hijau resmi dibuka untuk publik. Namanya Taman Bendera Pusaka, taman yang lahir dari penggabungan Taman Ayodya, Taman Leuser dan Taman Langsat.

Peresmian taman dipimpin langsung Gubernur Jakarta, Pramono Anung, dan didampingi Wakil Gubernur Jakarta, Rano Karno.

Momen itu terasa semakin bermakna dengan kehadiran Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

Bagi banyak kader dan simpatisan PDIP, kehadiran tiga tokoh dalam satu ruang publik bukan sekadar seremoni. Ada simbol yang lebih dalam yakni menghadirkan nilai kebangsaan di tengah kehidupan kota.

Simbol Merah Putih dalam Lanskap Kota

Taman Bendera Pusaka dirancang dengan filosofi Sang Saka Merah Putih. Konsep ini diterjemahkan melalui dua zona utama.

Zona merah menjadi area yang aktif dan dinamis. Di sinilah warga dapat berolahraga, jalan santai atau sekadar berkumpul bersama keluarga.

Sementara zona putih menghadirkan ruang yang lebih tenang dan reflektif. Area ini dirancang sebagai tempat beristirahat, menikmati suasana hijau dan merasakan ketenangan di tengah hiruk pikuk kota besar.

Kedua zona dihubungkan oleh jalur pedestrian, jembatan penghubung, serta ruang terbuka yang memungkinkan pengunjung menjelajahi seluruh kawasan taman secara nyaman.

Konsep ini seolah menjadi metafora sederhana tentang kehidupan berbangsa terkadang dihiasi dinamika dan juga ketenangan yang berjalan berdampingan.

Mengenang Ibu Fatmawati, Penjahit Sang Saka Merah Putih

Di salah satu sudut taman berdiri patung Fatmawati, sosok yang menjahit Bendera Pusaka Merah Putih untuk dikibarkan pertama kali saat proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Patung Fatmawati dibuat oleh pematung Teguh Ostenrik, sedangkan desain arsitektur kawasan taman dirancang arsitek Yori Antar.

Kehadiran patung Fatmawati memberi dimensi sejarah pada taman ini. Pengunjung tidak hanya menikmati ruang hijau tetapi juga diingatkan pada kisah perjuangan di balik lahirnya simbol negara.

Bagi PDIP, partai yang lahir dari tradisi nasionalisme dan warisan pemikiran Soekarno, penghormatan terhadap sejarah seperti ini memiliki makna yang kuat.

Ruang Hijau dengan Sentuhan Alam

Selain sarat simbol, taman ini juga menghadirkan kekayaan vegetasi. Terdapat sekitar 285 pohon dari 12 jenis tanaman, termasuk beberapa pohon yang jarang ditemukan seperti menteng, eboni, cempaka, dan kecapi.

Pepohonan tersebut membuat kawasan taman terasa seperti hutan kecil di tengah kota. Di sela jalur pejalan kaki, pengunjung bisa menikmati keteduhan sambil mendengar suara burung dan desiran angin.

Pramono Anung berharap taman ini menjadi ruang bersama bagi warga Jakarta.

"Mudah-mudahan taman ini memberikan manfaat besar bagi warga Jakarta. Selain menjadi ruang rekreasi dan olahraga, taman ini juga diharapkan menjadi ruang publik yang memperkuat interaksi sosial masyarakat," jelasnya.

Yang menarik, pembangunan taman ini tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Proyek ambisius ini terlaksana melalui kerja sama dengan pihak swasta melalui mekanisme Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dan Surat Persetujuan Prinsip Pembebasan Lokasi/Lahan (SP3L).

Di tengah kota yang terus berkembang, Taman Bendera Pusaka menjadi lebih dari sekadar ruang hijau.

Melalui patung Fatmawati, Taman Bendera Pusaka menghadirkan simbol kebangsaan, penghormatan terhadap sejarah, dan ruang pertemuan bagi warga.

Di sana, Merah Putih tidak hanya berkibar di tiang bendera tetapi juga hidup dalam lanskap taman yang bisa dinikmati siapa saja.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.