Sentuhan TBIG untuk Indonesia: Merajut Jaringan Komunikasi, Menghadirkan Sehat hingga Ujung Jayapura

AKURAT.CO Berdiri di wilayah terluar Indonesia bukan sekadar urusan geografis, melainkan tentang bagaimana rasa kebangsaan dirawat di tengah keterbatasan.
Di wilayah-wilayah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga atau samudera lepas, kehadiran infrastruktur sering kali melampaui fungsi teknisnya, menjelma menjadi simbol bahwa negara hadir di tengah-tengah mereka.
Melalui program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) berupaya merajut kembali rasa kebersamaan tersebut secara masif.
Komitmen ini tidak hanya diwujudkan dalam bentuk pembangunan fisik, melainkan melalui sentuhan langsung yang berdampak pada kehidupan dan kesejahteraan masyarakat di sekitar infrastruktur telekomunikasi yang mereka kelola.
Program sosial ini menyasar berbagai pilar penting, salah satunya kesehatan, yang telah terlaksana secara merata di 34 provinsi, termasuk di daerah-daerah terluar Indonesia.
Program tersebut meliputi: pelayanan kesehatan gratis; edukasi pola hidup sehat, pola konsumsi sehat dan pola sanitasi sehat; serta bantuan kemanusiaan penanggulangan bencana. Semua program tersebut merupakan satu kesatuan dari program Mobil Klinik (Monik) TBIG.
“Saya melihat TBIG ini sangat masif, 34 provinsi ya itu baru satu pilar itu. Bahkan ada provinsi lain yang secara khusus ya mendapat perhatian dari PT Tower Bersama, wilayah Indonesia itu secara khusus misalkan daerah terluar,” ujar CSR Advisor TBIG Fahmi Sutan Alatas, dalam sesi diskusi Journalism Fellowship on CSR Batch III, Jumat (26/6/2026).
Menara Komunikasi Penanda Eksistensi Kedaulatan Negara
Fahmi mengatakan, langkah yang dilakukan oleh TBIG ini memiliki dimensi emosional yang sangat mendalam bagi masyarakat di garda terdepan republik.
Kehadiran fisik menara yang diikuti hadirnya program CSR di wilayah perbatasan dan daerah terluar kini menjadi penanda nyata mengenai kedaulatan dan eksistensi sebuah bangsa.
“Jadi, saya melihat itu kalau sedikit berimajinasi ya, keberadaan tower milik TBIG di wilayah terluar itu seperti penanda eksistensi Indonesia, eksistensi NKRI,” sambungnya.
Bagi masyarakat di perbatasan, kehadiran program sosial ini memberikan ikatan batin yang kuat karena mereka merasa mendapatkan perhatian yang tulus. Rasa memiliki terhadap tanah air tumbuh subur ketika ada pihak yang bersedia menjangkau wilayah mereka, menghadirkan suasana yang sangat kontras dengan keseharian mereka di beranda terluar.
“Karena lewat CSR ini TBIG hadir memberikan sentuhan kepada masyarakat di sekitar towernya, itu seperti penanda eksistensi. Karena kalau kita lihat di daerah perbatasan ada misalkan pegawai kecamatan pakai lencana merah putih itu ya pakai bendera itu suasananya beda, suasana batin kita melihat itu,” ucapnya.
Dampak emosional ini dirasakan sangat mendalam oleh warga di pulau-pulau terdepan yang jarang dikunjungi oleh pejabat tinggi dari pusat maupun daerah. Menara telekomunikasi dan program CSR yang menyertainya hadir sebagai simbol pemersatu yang menegaskan bahwa mereka adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pangkuan Ibu Pertiwi.
“Karena mereka dikunjungi pemerintah pusat aja atau mungkin bupatinya sendiri nggak pernah ke situ, tapi Tower Bersama hadir gitu. Misalkan seperti wilayah-wilayah Sangihe, terus Rote. Kita melihat simbol NKRI itu emosinya beda, suasana batinnya adalah kita bersama untuk Indonesia,” ungkapnya.
Senyum Syukur Warga Jayapura Sambut Layanan Medis Gratis
Program Monik TBIG sendiri sudah menjangkau 191.765 orang penerima manfaat yang tersebar di 170 kabupaten/kota. Manfaat nyata dari komitmen tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat di ujung timur Indonesia, tepatnya di Jayapura, Papua.
Melalui program Mobile Klinik, pelayanan kesehatan gratis yang dihadirkan di dekat pemukiman warga memberikan berkah tersendiri, membantu mereka mendeteksi kondisi fisik yang selama ini luput dari pemeriksaan medis.
“Pemeriksaan kesehatan gratis ini sangat bermanfaat. Saya bisa tahu penyakit yang saya diderita pada waktu itu asam urat. Dan alhamdulillah tim TBIG memberikan bantuan tidak hanya pemeriksaan kesehatan gratis tapi juga memberikan sembako. Semoga kegiatan ini akan terus ada,” ujar Kasmawati, warga Jayapura yang menjadi salah satu penerima manfaat.
Kolaborasi dan Antusiasme Tinggi Layanan Kesehatan di Lapangan
Pelaksanaan program kesehatan di lapangan berjalan dengan sistematis untuk memastikan seluruh masyarakat mendapatkan penanganan yang tepat.
Tenaga kesehatan yang bertugas bahu-membahu memberikan pelayanan komprehensif, mulai dari tahap pemberian pengetahuan dasar hingga tindakan medis berupa pemeriksaan dan pemberian obat-obatan gratis.
“Pemeriksaannya itu awalnya dari tensi dulu. Ada kolesterol, gula darah, dan asam urat yang diperiksa. Setelah diperiksa, mereka langsung konsultasi ke dokter. Setelah ke dokter baru mereka diberikan resep, lalu dikasih obatnya,” ujar Siti Nur Chalifah, Tenaga Kesehatan Klinik Semar Sehat Jayapura, yang terlibat dalam program Monik TBIG.
Siti mengungkapkan, respons yang ditunjukkan oleh warga sekitar pun sangat luar biasa, mengingat lokasi pemeriksaan didesain sedekat mungkin dengan lingkungan tempat tinggal mereka.
Kemudahan akses ini memicu antusiasme yang tinggi, mengubah suasana pemeriksaan medis menjadi ruang interaksi sosial yang hangat antar-tetangga.
“Mereka (masyarakat) sangat antusias, karena juga tempatnya kan sesuai dengan wilayah mereka, jadi kayak macam seperti tetangga-tetanggaan aja masyarakat yang ada di satu RT gitu. Jadi banyak yang ngantri,” tuturnya.
Kehadiran layanan kesehatan gratis ini terbukti menjadi solusi krusial bagi para lansia di daerah tersebut yang kerap didera kondisi penurunan fungsi organ dan jaringan, namun kesulitan mengakses fasilitas kesehatan.
Pengetahuan mengenai kondisi medis yang mereka dapatkan dari pemeriksaan ini menjadi langkah awal yang sangat berharga untuk proses pemulihan dan peningkatan kualitas hidup mereka sehari-hari.
“Banyak orang tua yang waktu itu ada keluhannya l asam urat, kolesterol yang memang kakinya udah bengkak, susah jalan gitu. Terus mereka mengetahui dari pemeriksaan tersebut,” jelas Siti.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kementerian ESDM: Tabung CNG 3 Kg Tak Perlu Dibeli, Masyarakat Cukup Tukar Isi Gas
- 2Prediksi Skor Paraguay vs Australia 26 Juni 2026: Socceroos Selangkah Lagi ke 32 Besar, Paraguay Wajib Menang
- 3Link dan Cara Cek Hasil Pengumuman OSN 2026 Jenjang SD dan SMP, Cek Sekarang!
- 4Moto3 Belanda: Puji Kehebatan Veda Ega Pratama di Brno, Hiroshi Aoyama Bidik Momentum di Assen
- 5Edwin van Der Sar Harap Timnas Indonesia Bisa Segera Tampil di Piala Dunia
- 6Venezuela Darurat Nasional! Gempa Kembar M 7,5 Guncang Caracas, Puluhan Gedung Runtuh
- 7Messi Tak Jadi Starter saat Argentina vs Yordania, Scaloni Ungkap Rencananya
- 8Karena Pengaruhnya di Gedung Putih Memudar, Kesepakatan AS-Iran Jadi Pukulan Telak bagi Netanyahu?
- 9Apresiasi Kepercayaan Publik ke Polri Naik, Rudianto Lallo Minta Reformasi Internal Terus Diperkuat
- 10Kepercayaan Publik ke Polri Naik, Sari Yuliati Apresiasi Capaian


