AKURAT.CO Tokyo Electrik Power Company (TEPCO) telah membuang 7.800 ton dari 10 tangki air olahan radioaktif atau limbah nuklir pada 24 Agustus sampai 11 September 2023.
Secara keseluruhan, mereka sudah membuang lebih dari 1 juta ton limbah nuklir hasil olahan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
PLTN sendiri adalah jenis pembangkit listrik yang menggunakan reaksi nuklir untuk menghasilkan energi listrik.
Baca Juga: Tegang! Kepulauan Pasifik Desak Jepang Tunda Pembuangan Limbah Radioaktif Fukushima ke Laut
PLTN biasanya menggunakan bahan bakar seperti uranium atau plutonium untuk memicu reaksi nuklir, kemudian menghasilkan panas yang digunakan untuk penghasilan uap dan akhirnya tercipta listrik.
PLTN sering digunakan karena dapat menghasilkan jumlah energi yang lebih besar dengan emisi gas rumah kacara yang relative rendah. Namun, pengelolaan limbah radioaktif menjadi perhatian utama dalam penggunaan PLTN.
Dalam contoh nyatanya terjadi di Jepang, dikutip dari beberapa sumber, Rabu (4/10/2023), pada 2011 terjadi gempa besar disertai tsunami, perusahaan utilitas yang bertanggung jawab atas PLTN telah mengolah air untuk mendinginkan batang bahan bakar reaktor nuklir tersebut. Sehingga menghasilkan air yang terkontaminasi yang kemudian di buang ke Samudra Pasifik.
Menjadi perbincangan hangat dan sempat diprotes oleh beberapa pihak, salah satunya dari Kementerian Lingkungan China atas pembuangan limbah nuklir September lalu. Namun pada 5 Oktober 2023 Jepang kembali berencana untuk membuang limbah nuklir dari PLTN Fukushima Daiichi.
Baca Juga: Intip Perusahaan Jepang Yang Membuang Limbah Nuklir Ke Laut
Apakah Limbah Nuklir Berbahaya?
Membuang limbah nuklir ke laut atau lingkungan lainnya dapat memiliki dampak serius, meskipun secara alami dapat membusuk seiring waktu. Setelah bahan radioaktif meluruh maka limbah tidak lagi berbahaya, namun jika tanpa pemrosesan atau perlindungan yang tepat dapat menganggu ekosistem laut dan merusak organisme yang hidup di dalamnya.
Selain itu bahan-bahan radioaktif dapat terakumulasi dalam organisme laut melalui rantai makanan. Ini berarti organisme yang lebih tinggi dalam rantai makanan, termasuk manusia, dapat terpapar radiasi jika mengonsumsi organisme yang terkontaminasi. (Ami Fatimatuz Zahro')
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








