Akurat
Pemprov Sumsel

Demo Bela Palestina Kian Menggema Di Tengah Maraknya Islamophobia, Ternyata Ini Alasannya

Deni Muhtarudin | 26 Oktober 2023, 15:28 WIB
Demo Bela Palestina Kian Menggema Di Tengah Maraknya Islamophobia, Ternyata Ini Alasannya

AKURAT.CO Serangan Israel terhadap Palestina di Jalur Gaza kian menjadi. Serangan yang dilancarkan Israel sejak Sabtu (7/10/2023) itu tercatat telah memakan korban tewas 6.546 orang dengan sebagian besarnya adalah anak-anak yakni 2.704 orang.

Bahkan tercatat 700 warga Gaza telah terbunuh akibat serangan Israel hanya dalam kurun waktu 24 jam yakni antara Selasa (24/10/2023) dan Rabu (25/10/2023). Sebanyak 300 korban tewas di antaranya adalah anak-anak.

Serangan besar-besaran Israel terhadap Gaza itu turut menarik perhatian dunia internasional. Selain pernyataan resmi dari pemerintah di berbagai negara yang mengecam tindakan Israel, demonstrasi di berbagai negara pun turut dilakukan untuk menuntut Israel menghentikan tindakan biadabnya. 

Baca Juga: Kemenag Imbau Salat Ghaib Untuk Korban Syahid Palestina, Begini Tata Caranya

Misalnya demo yang dilakukan warga Inggris, Prancis, Irlandia, Jerman, Italia, Spanyol, Australia, tak terkecuali Amerika Serikat.

Menurut laporan Associated Press, demonstrasi itu dilakukan dengan menyerukan tuntutan serupa yakni gencatan senjata, penghentian serangan Israel ke Gaza, hingga kemerdekaan dan pembentukan negara Palestina.

Meski demonstrasi untuk membela Palestina telah dilarang oleh pemerintah di beberapa negara, namun larangan itu tak menyurutkan semangat bela Palestina.

Diketahui, beberapa negara telah mengeluarkan larangan nasional terhadap demo pro-Palestina. 

Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerald Darmanin, pada 12 Oktober lalu telah memberlakukan larangan nasional terhadap demo bela Palestina dengan alasan tak ingin ada kekacauan publik.

Selain itu, Menteri Dalam Negeri Inggris, Suella Braverman, pun turut melarang warganya mengibarkan bendera Palestina dan meneriakkan slogan kemerdekaan bagi Palestina. Bahkan dukungan terhadap Palestina dikatakan sebagai dukungan pada teroris.

Jerman, Belanda hingga Ukraina juga telah melarang demonstrasi pro-Palestina. Jerman, salah satunya, beralasan memiliki tanggung jawab terhadap Holocaust -pembantaian Yahudi oleh Nazi- sehingga harus menjaga keberadaan dan keamanan Israel.

Demo di beberapa negara Barat itu tentu menjadi dukungan nyata yang diberikan dunia internasional pada Palestina.

Sebelumnya, negara-negara barat sendiri dikenal memiliki Islamophobia yakni kebencian terhadap Islam.

Lalu mengapa rakyat di negara-negara Barat menyatakan dukungannya pada Palestina?

Dikutip melalui CNN, menurut pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, pemerintah AS selaku pimpinan sekutu Barat tanpa sadar sudah menempatkan titik fokus utama kebijakan internasionalnya pada China.

Karena penitikberatan itu, AS pun lalai menjalankan posisi tradisionalnya sebagai pemimpin sekutu Barat, terutama dalam aspek-aspek demokrasi, pembangunan dan hak asasi manusia (HAM).

Kelalaian AS sebagai pemimpin sekutu Barat menyebabkan terjadinya kekosongan psikologis di kalangan sekutu AS.

Selain itu, rakyat Barat juga mulai memiliki fleksibilitas dan kemandirian dalam menafsirkan perkembangan internasional. Hal ini membuat mereka semakin kritis menilai perilaku Israel yang semakin arogan terhadap Palestina. 

Baca Juga: Ini Sederet Ulama Besar Yang lahir di Palestina

Sikap arogan Israel yang kian menjadi-jadi dapat berpotensi membinasakan peradaban Palestina dan perluasan konflik Israel melawan negara-negara Arab.

Potensi ini jelas ditentang komunitas global karena bisa menyebabkan dunia semakin tidak stabil keamanannya.

Selain karena takut meluasnya konflik, menurut Rezasyah, masyarakat Barat juga menggelar demo pro Palestina karena didukung dengan adanya citizen journalism atau jurnalisme warga yang menyebabkan masyarakat dapat memperoleh informasi yang lebih berimbang dibanding dengan informasi yang didapat hanya melalui media besar saja. 

Dengan adanya jurnalisme warga, masyarakat Barat bisa lebih kritis terhadap apa yang disampaikan media-media besar. Sehingga apa yang disampaikan media arus utama di negaranya, tak serta merta dipercayai sebagai kebenaran absolut.

Kesadaran batin dan HAM juga menjadi salah satu faktor pendukung adanya demonstrasi pro Palestina di tengah maraknya islamophobia di negara Barat. 

"Masyarakat Eropa yang kesadaran batiniah dan HAM secara mulai meninggi tersebut akhirnya sadar, jika mereka hendaknya menjadi bagian dari penyelesaian masalah, dan tak lagi mengikuti Amerika Serikat dan Israel, yang selama ini merupakan bagian dari masalah," tutur Rezasyah. 

Selain itu, demonstrasi bela Palestina di Barat juga menunjukkan bahwa persoalan di Palestina bukan lagi persoalan tentang agama, melainkan persoalan kemanusiaan.

Hal ini dikatakan oleh pakar kajian Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Sya’roni Rofii.

"Saya kira itu memang menjadi salah satu potret solidaritas terhadap Palestina karena belakangan isu penyerangan Israel terhadap Palestina itu sudah mengundang simpati banyak kalangan tidak hanya kelompok Muslim tapi juga kelompok pro kemanusiaan seperti (Gretta) Thunberg salah satu gadis asal Swedia yang pro terhadap lingkungan. Dia juga ikut demonstrasi menyampaikan pandangan terkait isu Palestina," jelasnya dikutip dari CNN. (Adinda S A)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

D
W
Editor
Wahyu SK