Bolivia Jadi Negara Pertama Yang Memutus Hubungan Diplomatik Dengan Israel Demi Bela Palestina, Arab Kapan?

AKURAT.CO Bolivia telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel sebagai bentuk teguran atas serangan Israel di jalur Gaza, Palestina. Hal ini disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Luar Negeri Bolivia, Freddy Mamani, Selasa (31/10).
"Pemerintah telah menetapkan untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Negara Israel, sebagai penolakan dan kecaman atas serangan militer Israel yang agresif dan tidak proporsional yang dilakukan di Jalur Gaza," kata Mamani dalam sebuah konferensi pers.
Tindakan Bolivia ini membuat negara yang terletak di Amerika Selatan itu menjadi negara pertama yang berani memutus hubungan diplomatik dengan Israel, sejak serangan pertama Israel ke Gaza yang dilancarkan pada Sabtu (7/10/2023).
Padahal, Bolivia baru mengumumkan pemulihan hubungannya dengan Israel pada 2019 silam, satu dekade setelah hubungan dua negara itu terputus akibat serangan Tel Aviv sebelumnya di jalur Gaza.
Baca Juga: Mengapa Amerika Sangat Mendukung Israel? Ini Dia Alasannya
Langkah pemutusan hubungan diplomatik Bolivia-Israel juga sebelumnya sudah diteriakkan oleh mantan presiden Evo Morales. Bahkan Morales menuntut Israel diklasifikasikan sebagai negara teroris.
Morales juga meminta Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dan antek-anteknya diadukan ke pengadilan pidana internasional karena genosida dan kejahatan perang yang dilakukannya di jalur Gaza.
Sementara itu, Chile dan Kolombia juga dilaporkan memanggil pulang duta besarnya dari Israel. Bahkan Kolombia sempat mengusir Duta Besar Israel, Gali Dagan.
Pengusiran itu terjadi ketika Menteri Luar Negeri Kolombia, Alvaro Leyva meminta Dagan untuk meminta maaf setelah ia mengkritik Presiden Kolombia, Gustavo Petro karena membela Palestina dengan mengatakan serangan brutal Israel terhadap Palestina sama kejamnya dengan penganiayaan Nazi terhadap Yahudi di masa lalu.
"Sebuah tonggak penting dalam sejarah diplomasi dunia adalah kesombongan yang tidak masuk akal dari duta besar Israel untuk Kolombia terhadap Presiden Republik Gustavo Petro," kata Leyva di akun X-nya, @AlvaroLeyva.
Baca Juga: Sulit Dihancurkan Oleh Israel, Ternyata Ini Cara Cerdik Hamas Dapatkan Pasokan Senjata
"Dia (Dagan) memalukan. Setidaknya dia harus minta maaf dan pergi,” tambah Leyva.
Hubungan Arab Saudi-Israel
Arab Saudi dengan Israel sebenarnya tidak memiliki hubungan diplomatik resmi. Kendati demikian, sebelum serangan Israel ke Gaza pada Sabtu (7/10/2023), Arab Saudi dikabarkan akan menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel.
Pembicaraan tentang hubungan diplomatik Arab Saudi-Israel itu telah beredar selama beberapa bulan terakhir karena AS telah mengintensifkan upayanya untuk menengahi kesepakatan antara Arab Saudi-Israel.
Pada awal Juni, Menlu AS Antony Blinken mendorong Saudi untuk melakukan normalisasi diplomatik dengan Israel.
Beberapa hari kemudian, Menlu Arab Saudi, Faisal bin Farhan mengatakan bahwa normalisasi hubungan dengan Israel akan membawa manfaat yang signifikan bagi kedua negara.
Namun usai serangan Israel ke Gaza yang kian membabi buta, Arab Saudi pun memutuskan untuk menghentikan sementara pembicaraan normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel, Sabtu (14/10/2023).
"Arab Saudi memutuskan untuk menghentikan sementara diskusi mengenai kemungkinan normalisasi dan telah memberi tahu para pejabat Amerika Serikat," kata seorang sumber yang tidak disebutkan namanya, dikutip melalui AFP.
Sebelumnya, AS tetap "ngotot" normalisasi hubungan Arab Saudi-Israel tetap diteruskan meski di tengah serangan Israel terhadap Gaza.
Antony Blinken mengatakan normalisasi adalah pilihan antara perdamaian regional dan terorisme yang dilakukan Hamas.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










