Mengenal Gejala Bakteri Pemakan Daging di Jepang, Kasus Meningkat Hingga 1000 Pasien

AKURAT.CO Wabah bakteri pemakan daging atau Streptococcus Pyogenes dilaporkan sedang meningkat di Jepang.
Berdasarkan data dari Institut Nasional Penyakit Menular Jepang (NIID), jumlah kasus terus meningkat dengan hampir 1.000 pasien, tepatnya 977 kasus yang terkena sindrom akibat bakteri tersebut atau sindrom streptococcal toxic-shock (STSS) dalam enam bulan sejak Januari 2024, seperti yang dilaporkan oleh The Japan Times di Tokyo.
Dikutip dari berbagai sumber, Streptococcus Pyogenes adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Jepang telah mengumumkan peningkatan kasus infeksi bakteri tersebut pada tahun 2024.
Baca Juga: Punya Baterai 6000 mAh, iQOO Z9 Series Tawarkan Produktivitas Digital dan Hiburan Para Gen Z
Wabah bakteri pemakan daging ini disebabkan oleh bakteri Streptococcus pyogenes, yang lebih dikenal sebagai streptokokus grup A.
Infeksi ini disebut pemakan daging karena dapat dengan cepat merusak kulit, lemak, dan jaringan yang menutupi otot.
Meskipun sangat jarang terjadi, Streptococcus Pyogenes merupakan kondisi yang sangat serius. Banyak orang yang terkena infeksi ini awalnya dalam kondisi sehat.
Gejala bakteri pemakan daging
Lebih lanjut, gejala awal dari infeksi bakteri Grup A Streptococcus (GAS) meliputi demam, nyeri, dan radang tenggorokan.
Namun, infeksi ini dapat dengan cepat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa, menyebabkan kegagalan organ hanya dalam beberapa hari.
Baca Juga: Kasus PDN Mengemuka, DPR Ingatkan Pentingnya Punya RUU Ketahanan Siber
Bakteri ini dapat menyebabkan kondisi serius jika masuk ke aliran darah dan jaringan dalam, mereka menyebar dan mulai memproduksi eksotoksin yang merusak sel dan jaringan tubuh.
Kelompok usia paruh baya dan lansia di atas 50 tahun cenderung lebih rentan terhadap sindrom ini.
Setelah gejala awal muncul, seperti demam dan nyeri, tekanan darah dapat turun dan kondisi pasien memburuk dalam 24 hingga 48 jam.
Selain itu, penderita yang terinfeksi juga dapat mengalami nekrosis, masalah pernapasan, dan kegagalan organ yang bisa berujung pada kematian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









