Akurat
Pemprov Sumsel

Gedung Putih AS: Masih Ada Kesenjangan Antara Israel dan Hamas Dalam Kesepakatan Gencatan Senjata di Gaza

Sulthony Hasanuddin | 9 Juli 2024, 14:40 WIB
Gedung Putih AS: Masih Ada Kesenjangan Antara Israel dan Hamas Dalam Kesepakatan Gencatan Senjata di Gaza

 

AKURAT.CO Juru Bicara Keamanan Nasional Gedung Putih, John Kirby mengatakan para pejabat senior AS masih berada di Kairo untuk melakukan pembicaraan guna mencapai gencatan senjata antara Israel dan Hamas, tetapi masih terdapat kesenjangan antara kedua pihak.

Berbicara dalam sebuah pengarahan, Kirby mengatakan Direktur CIA, Bill Burns dan utusan AS untuk Timur Tengah, Brett McGurk berada di Mesir dan bertemu dengan rekan-rekan mereka dari Mesir, Israel, dan Yordania.

Kirby menambahkan bahwa akan ada diskusi lanjutan dalam beberapa hari ke depan.

Baca Juga: Pemimpin Hamas: Serangan Terbaru Israel di Gaza Dapat Membahayakan Perundingan Gencatan Senjata

"Kami telah bekerja sangat keras untuk ini. Dan masih ada beberapa celah yang tersisa di kedua kubu dalam posisi tersebut, tetapi kami tidak akan mengirim tim ke sana jika kami tidak berpikir bahwa kami memiliki peluang di sini," kata Kirby, dikutip Selasa (9/7/2024).

"Kami berusaha menutup kesenjangan itu sebaik mungkin," tambahnya.

Hamas minggu lalu mencabut tuntutan agar Israel terlebih dahulu berkomitmen pada gencatan senjata permanen sebelum gerakan Palestina menandatangani kesepakatan.

Sebaliknya, kelompok militan itu mengatakan akan mengizinkan negosiasi untuk mencapainya selama fase pertama yang berlangsung selama enam minggu.

Langkah tersebut mendorong seorang pejabat di tim negosiasi Israel untuk mengatakan ada peluang nyata tercapainya kesepakatan.

Meski begitu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menegaskan kesepakatan itu tidak boleh menghalangi Israel untuk melanjutkan pertempuran hingga tujuan perangnya tercapai.

Baca Juga: Netanyahu: Kesepakatan Gaza Harus Memungkinkan Israel Lanjutkan Pertempuran hingga Tercapainya Tujuan Perang

Di awal perang sendiri ia berjanji untuk memusnahkan Hamas.

Baca Juga: Tanggapi Serangan Rusia Terhadap Rumah Sakit Anak di Kyiv, Dewan Keamanan PBB Adakan Pertemuan

Pertumpahan darah terbaru dalam konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung puluhan tahun dipicu pada 7 Oktober ketika pejuang yang dipimpin oleh Hamas, yang menguasai Gaza, menyerang Israel selatan, menewaskan 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 orang.

Sejak itu setidaknya 38.193 warga Palestina tewas dalam serangan militer dan 87.903 lainnya terluka.

Kirby mengulangi posisi lama Washington bahwa Israel harus berbuat lebih banyak untuk melindungi warga sipil.

Baca Juga: Shin Tae-yong Didesak Bawa Lolos Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2026

Namun serangan terbaru Israel terhadap Gaza pada hari Senin kemarin dinilai mengancam perundingan gencatan senjata di saat yang krusial.

Hamas mengatakan serangan terbaru tampaknya dimaksudkan untuk menggagalkan perundingan dan meminta mediator untuk mengendalikan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu .

"Serangan itu bisa membawa proses negosiasi kembali ke titik awal. Netanyahu dan tentaranya akan memikul tanggung jawab penuh atas kegagalan jalur ini," kata Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh.

Warga mengatakan kawasan Kota Gaza dibom sepanjang malam hingga dini hari Senin menyebabkan beberapa gedung bertingkat hancur.

Layanan Darurat Sipil Gaza meyakini puluhan orang tewas tetapi tim darurat tidak dapat menjangkau mereka karena serangan yang sedang berlangsung.

Baca Juga: Siap Nikahi Sarah Menzel, Azriel Hermansyah Sudah Mapan?

Hal itu memaksa ribuan orang meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat berlindung yang lebih aman, yang bagi banyak orang mustahil ditemukan, dan beberapa orang tidur di pinggir jalan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.