Paus Leo XIV Resmi Dilantik, Serukan Persatuan Gereja dan Tolak Gaya Kepemimpinan Otoriter

AKURAT.CO Dunia menyaksikan babak baru dalam sejarah Gereja Katolik Roma saat Paus Leo XIV secara resmi memulai tugas sucinya sebagai pemimpin umat Katolik dunia.
Dalam upacara pelantikan meriah yang dihadiri puluhan ribu umat di Lapangan Santo Petrus, Minggu (18/5/2025), Leo XIV menegaskan komitmennya untuk memimpin dengan cinta, persatuan, dan rendah hati—bukan dengan otoritarianisme.
Pelantikan diawali dengan prosesi khidmat menggunakan mobil paus beratap terbuka, disambut sorakan “Viva il Papa!” dari umat yang melambaikan bendera Peru dan Amerika Serikat—dua negara yang sama-sama mengklaim Leo XIV sebagai putra bangsa.
Lahir di Chicago dan memiliki kewarganegaraan Peru, Paus berusia 69 tahun ini dikenal karena pengabdiannya sebagai misionaris di pedalaman Peru.
Dalam Misa suci, Paus menerima simbol-simbol sakral kepausan: pallium, lambang tanggung jawab gembala rohani, serta Cincin Nelayan—cincin emas khusus yang melambangkan warisan kepemimpinan dari Santo Petrus.
Meski kini tak lagi digunakan sebagai alat penyegel dokumen resmi, cincin ini tetap menjadi simbol kuat spiritualitas dan tradisi.
Hadir dalam pelantikan ini adalah sederet pemimpin dunia, termasuk Raja dan Ratu Spanyol, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Wakil Presiden AS JD Vance, serta Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Keduanya sempat berjabat tangan di sela-sela acara, meski hubungan keduanya sebelumnya sempat memanas.
Dalam homili pertamanya sebagai paus, Leo XIV menyampaikan pesan mendalam tentang persatuan, kasih, dan kerendahan hati. Kata “persatuan” disebutnya berulang kali, menegaskan tekad untuk memulihkan harmoni di tengah polarisasi yang terjadi dalam Gereja.
"Saya tidak datang untuk menguasai, tapi untuk mencintai sebagaimana Kristus mencintai," ujar Leo dengan suara tenang dalam bahasa Italia.
Ia juga menegaskan bahwa tugasnya dijalankan "dengan takut dan gentar," mengakui tantangan besar yang menghadang Gereja di era modern ini.
Leo XIV juga memberi sinyal akan melanjutkan misi sosial pendahulunya, Paus Fransiskus—terutama dalam upaya perlindungan lingkungan dan pemberantasan kemiskinan.
Namun ia juga menekankan pendekatan yang lebih inklusif, menghindari friksi antara kaum konservatif dan progresif yang sempat meruncing di era sebelumnya.
“Kita tidak boleh membiarkan Gereja terpecah hanya karena perbedaan pandangan. Tugas kita adalah menjadi ragi perdamaian di dunia yang terpecah belah,” tegasnya.
Dengan tongkat estafet kepemimpinan kini di tangan Paus Leo XIV, umat Katolik dunia menaruh harapan besar akan lahirnya era baru kepemimpinan yang memadukan tradisi, kebijaksanaan, dan semangat persatuan.
Baca Juga: Perkuat Literasi Keuangan Syariah, OJK Gandeng AO PNM dalam Program Sicantiks
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







